Di tengah euforia IHSG yang berhasil menembus 7.097 dan ditutup naik +0,71% pada 14 Juli 2025, satu nama besar justru menjadi pusat perhatian karena nasibnya yang berbanding terbalik dengan indeks, Bank Mandiri (BMRI). Ketika investor saham Prajogo Pangestu party, BMRI malah nyungsep.
Hari ini saja, asing membuang saham BMRI dengan nilai fantastis, Rp1,318 triliun, menjadikannya saham dengan net foreign sell terbesar di IHSG hari ini, bahkan lebih dari separuh total penjualan bersih asing di seluruh pasar. Harga saham BMRI pun tak kuat menahan tekanan, langsung ambles -5,63% ke level Rp4.690. Ini bukan koreksi biasa. Ini semacam sinyal kuat bahwa pasar, terutama investor institusi asing, sedang kehilangan kepercayaan pada salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia.
Tapi yang jadi pertanyaan besar adalah apa sebenarnya dosa BMRI sampai asing jualan gila-gilaan begitu. Ini faktor fundamental kah? Atau faktor investor nya gila gila semua?
Pertama-tama kita bicara dulu soal fundamental. Kinerja keuangan BMRI sepanjang paruh pertama 2025 bisa dibilang mengecewakan jika dibandingkan ekspektasi pasar. Laba bersih per Mei 2025 hanya tumbuh +0,13% YoY, hampir stagnan, dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang berharap pemulihan. Di kuartal I 2025, laba BMRI memang naik +4% YoY, tetapi justru turun 4% secara kuartalan menjadi Rp13,2 triliun.
Tekanan paling besar datang dari penurunan margin bunga bersih (NIM), yang merosot 30bps YoY dan 40bps QoQ menjadi hanya 4,8%, terendah dalam dua tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa kemampuan bank menghasilkan margin dari selisih bunga makin terbatas, apalagi di tengah persaingan dana pihak ketiga dan kondisi likuiditas nasional yang makin ketat.
Masalahnya tak berhenti di sana. Beban operasional (opex) justru melonjak 18% YoY, membuat rasio efisiensi (cost to income ratio atau CIR) naik ke 40,8%. Artinya, BMRI bukan hanya kehilangan margin, tapi juga makin boros dalam menjalankan bisnisnya. Dalam istilah kasarnya, pendapatan stagnan, biaya naik.
Dan seperti api ketemu bensin, datanglah downgrade dari JPMorgan. Di bulan Februari 2025, JPMorgan menurunkan rekomendasi saham BMRI dari neutral menjadi underweight, dan memangkas target harga dari Rp6.025 menjadi Rp5.500. Mereka tidak hanya menyatakan skeptis terhadap pertumbuhan laba jangka pendek, tetapi juga memperkirakan bahwa laba BMRI bisa turun 9–10% dalam dua tahun ke depan.
Bagi investor ritel, ini mungkin hanya sekadar headline. Tapi buat institusi asing, ini seperti alarm evakuasi. Dan benar saja, sejak itu tekanan jual dari asing terus meningkat, hingga puncaknya meledak pada 14 Juli.
Tapi masalah BMRI tidak hanya berhenti di angka-angka laporan keuangan. Ada bom waktu korporasi yang sedang berdetak pelan-pelan tapi pasti, rencana pemisahan BRIS.
Bank Syariah Indonesia (BRIS), yang saat ini masih menjadi anak usaha konsolidasi BMRI, direncanakan akan dipindahkan ke bawah pengelolaan Danantara, sovereign wealth fund versi Indonesia. BRIS bukan aset kecil. Per 31 Maret 2025, BRIS menyumbang sekitar Rp400,88 triliun atau sekitar 16% dari total aset BMRI, dan sekitar 7,3% terhadap laba bersih konsolidasi. Artinya, jika BRIS benar-benar dilepas, BMRI tidak hanya kehilangan skala aset, tapi juga kehilangan salah satu sumber laba paling solid.
Hingga pertengahan Juli, belum ada kejelasan apakah BRIS akan dijual langsung, lewat rights issue, atau lewat skema lain. Bahkan manajemen BRIS sendiri menyatakan belum mendapat komunikasi resmi dari Danantara. Ketidakjelasan ini justru memperparah situasi. Karena pasar paling tidak suka ketidakpastian. Dan saat narasi tidak jelas, yang mereka lakukan adalah menjual, bukan menunggu.
Ekosistem Danantara terkait erat dengan proyek Koperasi Merah Putih (KMP). KMP ini program besar pemerintah, ditargetkan membangun 80.000 koperasi desa sampai 2030. Tujuannya bagus, bangkitkan ekonomi desa, bangun kemandirian pangan, buka lapangan kerja. Tapi eksekusinya, baru mulai, tapi banyak yang sudah gelisah. Pemerintah sendiri sudah pasang sistem mitigasi, ada QRIS, ada pengawasan Kejaksaan dan KPK, ada sistem digital. Tapi potensi penyimpangan tetap tinggi.
Lalu muncullah pertanyaan hipotesis yang bikin dingin di punggung, bagaimana kalau seandainya dana koperasi ini bocor ke judi online. Bagaimana kalau pengurusnya ternyata main belakang di judi online? Hipotesis ini mungkin belum terjadi. Tapi jika sampai benar terjadi, dan Danantara yang menaungi BRIS terseret skandal, maka BRIS dan Himbara ikut terbakar, dan BMRI bisa terkena imbas reputasi. Dalam dunia pasar modal, reputasi itu separuh dari valuasi. Dan dalam ekosistem BUMN, satu yang terseret bisa menyeret yang lain.
Jadi kalau ditanya, apa dosa BMRI. Jawabannya, gabungan dari fundamental yang stagnan, biaya operasional yang makin boros, downgrade dari analis global, hilangnya anak emas BRIS, ketidakjelasan aksi korporasi, dan potensi reputasi buruk dari koperasi Merah Putih jika seandainya terjadi fraud dan penyelewengan pada 80.000 koperasi.
Semua ini bukan hanya membuat BMRI tak menarik, tapi jadi bahan jualan besar-besaran oleh investor asing. Sementara itu, saham lain seperti BBCA, BBNI, bahkan BRIS sendiri hanya mengalami tekanan biasa. Ini berarti pasar sedang menghukum BMRI secara spesifik, bukan seluruh sektor perbankan.
Tapi di tengah semua gelap ini, apakah masih ada harapan. Harusnya sih masih, apalagi kalau manajemen BMRI bisa segera memberikan kejelasan soal nasib BRIS, baik harga pelepasan, skema divestasi, maupun rencana alokasi dana hasil divestasi, itu bisa menjadi titik balik. Apalagi jika uang hasil penjualan BRIS digunakan untuk memperkuat digital banking seperti LIVIN dan Kopra, atau menurunkan cost of fund dengan pelunasan utang, maka pasar bisa mulai memberi valuasi ulang.
RUPSLB Agustus 2025 juga bisa jadi momentum. Kalau pengurus yang baru dianggap kredibel, profesional, dan tidak politis, maka itu bisa mengembalikan kepercayaan investor. Dan kalau laporan Q3 menunjukkan margin mulai pulih, beban mulai terkendali, serta fee-based income dari segmen wholesale mulai naik, maka harga saham bisa mulai rebound secara bertahap.
Sebagai investor, kalau kamu masih punya optimisme jangka panjang, sekarang bukan saat panik. Tapi juga bukan saat sok yakin. Ini saatnya hati dingin kepala tajam. Evaluasi ulang portofolio. Akumulasi perlahan di area support teknikal, tapi jangan agresif. Tunggu katalis seperti RUPSLB dan laporan Q3. Pantau juga posisi asing, kalau mereka mulai net buy lagi secara konsisten, itu tanda tren berbalik.
Tapi kalau kamu sudah pesimis, atau merasa terlalu berat mentalnya untuk bertahan melihat portofolio merah tiap hari, maka lebih baik realistis. Exit, move on ke saham yang momentumnya lebih jelas. Karena pasar tidak pernah peduli seberapa besar cinta kita ke satu saham, yang penting tetap rasional.
Pada akhirnya, BMRI bukan bank yang jelek apalagi buruk. Tapi saat ini, dia sedang kehilangan kepercayaan. Dan di dunia pasar modal, kepercayaan adalah mata uang yang lebih mahal daripada laba bersih. Jika manajemen bisa mengembalikannya, BMRI bisa bangkit. Tapi kalau tidak, ya siap-siap lihat saham ini terombang-ambing dalam gelombang spekulasi dan ketidakpastian lebih lama lagi.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


