Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeUncategorizedSkydrugz Corner: Mencari Peluang di Saham Konstruksi

Skydrugz Corner: Mencari Peluang di Saham Konstruksi

Skydrugz Corner: Mencari Peluang di Saham Konstruksi

Setelah sebelumnya saya membahas mengenai sektor makanan dan minuman, di artikel ini saya ingin membahas sektor konstruksi. Saya tertarik bahas sektor ini karena sektor konstruksi adalah salah satu sektor yang paling lagging dalam setahun terakhir. Dari 23 saham konstruksi yang ada di bursa, hanya 5 saham yang berhasil bangkit di 2021, 1 saham suspend, dan 17 sisanya terpuruk. Yang terpuruk selama 2021 jauh lebih banyak dari yang bangkit.

5 saham konstruksi yang berhasil bangkit di 2021 hanya DGIK, RONY, PBSA, BUKK dan TOPS. Itu pun mereka semua adalah saham yang masuk kategori small market cap. Sehingga kenaikan mereka tidak terlalu banyak berkontribusi secara sektoral. Sebagai contoh DGIK yang return-nya 308% dalam setahun terakhir hanya memiliki market cap 1,13 Triliun rupiah.

Saham Return 1 Tahun Market Cap Harga
DGIK +308.00% 1,130.40 B 204
RONY +247.83% 1,000.00 B 800
BUKK +26.51% 3,591.01 B 1360
PBSA +25.86% 1,095.00 B 730
TOPS +2.00% 1,699.83 B 51
Sehingga dengan dana kecil pun, harga saham DGIK dapat dengan mudah di pump. Kenaikan harga saham DGIK juga tidak disertai dengan partisipasi dari publik karena kita bisa lihat dalam setahun terakhir putaran uang transaksi di DGIK hanya sekitar 2 Triliun rupiah.
Transaksi DGIK 1 Tahun
Lebih tepatnya 2,5 Triliun rupiah putaran uang di DGIK selama setahun. Dan 95% transaksi berasal dari investor lokal.
Dengan partisipasi publik yang belum terlalu besar yakni di bawah 5 Triliun dalam setahun serta kepemilikan investor asing yang kecil maka menurut saya mayoritas supply saham beredar masih dikuasai oleh beberapa pihak tertentu saja dan saat ini perusahaan sedang dalam fase markup distribution pasca fase long accumulation yang berlangsung selama 2018-2021.
Saham dengan low participation dari publik memang pada umumnya lebih mudah di markup harga sahamnya. Standar yang saya gunakan untuk menentukan apakah sebuah saham low public participation atau high public participation adalah dengan melihat jumlah kepemilikan sahamnya dan turnover transaction dalam setahun terakhir. Cut off yang saya gunakan adalah jumlah pemilik saham kurang dari 20.000 dan jumlah transaksi dalam setahun kurang dari 2,5 Triliun.
Alasan saya memakai cutoff point 20.000 orang adalah karena beberapa tahun lalu data menunjukkan bahwa jumlah investor aktif yang trading tiap hari di bursa Indonesia adalah sekitar 20.000-30.000 per hari.
Dan alasan saya menggunakan cutoff 2,5 Triliun turnover dalam setahun adalah karena rata – rata transaksi harian di bursa berkisar antara 10-13 Triliun per hari. Dalam 20 hari bursa sebulan artinya sekitar 200-260 Triliun per bulan. Dari 200-260 Triliun transaksi dalam sebulan tersebut, sekitar 50% atau 5-7 Triliun transaksi putaran uang di bursa dikuasai oleh big market cap yang jumlahnya hanya sekitar 50-60 saham. Sedangkan 50% sisanya diperebutkan oleh 500-700 saham lainnya. Jadi sekitar 5 Triliun turnover left over transaction dibagi ke 500-700 saham =  10 milyar/hari x 20 hari bursa = 200 milyar x 12 bulan = 2,4 Triliun rupiah/tahun.
Jadi saham yang jumlah kepemilikan sahamnya kurang dari 20.000 orang dan/atau jumlah transaksi dalam setahun kurang dari 2,5 Triliun rupiah maka itu saya anggap sebagai saham dengan low public participation alias sahamnya masih kuasai oleh beberapa pihak tertentu.
Untuk DGIK transaksi harian dalam setahun berada di borderline 2,5 Triliun dan jumlah kepemilikan saham publik baru sekitar 7000an orang sehingga dengan demikian saya berkesimpulan bahwa DGIK masih dalam kategori low public participation.
Kontras dengan WSKT yang masuk kategori high public participation karena jumlah transaksi dalam setahun mencapai 31,8 Triliun rupiah dan jumlah investor WSKT mencapai 102 ribu orang. WSKT masuk dalam kategori high public participation.
Kalau dari pengamatan saya selama ini saham yang dengan low public participation lebih mudah untuk di markup harga sahamnya jika dibandingkan dengan saham yang high public participation. Tapi patut diingat, public participation ini hanyalah informasi trivia saja. Jangan dijadikan sebagai patokan utama untuk mengambil keputusan ketika akan membeli atau menjual saham.
The Lagging
Saham Return 1 Tahun Market Cap Harga
PTDU -80.87% 262.50 B 175
FIMP -69,34% 17 B 42
JKON -67.58% 1,924.41 B 118
WSKT -57.37% 20,543.33 B 625
ACST -53.10% 2,687.13 B 212
PTPP -49.29% 6,602.89 B 1,065
ADHI -47.91% 3,329.39 B 935
WIKA -47.30% 10,494.84 B 1,170
PTPW -42.57% 627.90 B 715
TAMA -42.11% 55.00 B 55
PPRE -35.87% 1,809.70 B 177
WEGE -28.68% 1,856.97 B 194
NRCA -24.21% 718.92 B 288
SSIA -21.72% 2,136.18 B 454
MTPS -19.85% 218.91 B 105
IDPR -17.65% 392.59 B 196
TOTL -16.32% 1,084.38 B 318
MTRA 187.88 B 244
Updated 9 Januari 2022
Dari 17 saham konstruksi yang terpuruk selama satu tahun terakhir, yang Kondisinya paling menggenaskan adalah PTDU FIMP JKON WSKT ACST. Kelimanya anjlok lebih dari 50% dalam setahun terakhir. Kalau punya duit 100 juta lalu beli kelima saham tersebut setahun yang lalu, maka duit sekarang tersisa kurang dari 50 juta rupiah saja.
Kalau orang – orang biasanya menghindari saham seperti ini, saya justru mencari peluang dari saham – saham begini.
Mencari perusahaan mana yang bisa bangkit atau punya katalis untuk bangkit di masa depan.
Mencari Katalis

Untuk mencari katalis revenue masa depan di perusahaan konstruksi maka yang wajib kita ketahui adalah berapa nilai kontrak yang berhasil di raih oleh perusahaan selama tahun berjalan.

Apakah raihan kontrak tahun berjalan sudah sesuai dengan target awal tahun. Saya sudah pernah bahas ini di postingan sebelumnya.

Untuk perusahaan BUMN, gampang mendapatkan datanya. Yang agak sulit dicari adalah data raihan kontrak perusahaan swasta.

Asalkan bisa mengkonversi 10-20% raihan kontrak menjadi laba maka itu sudah menjadi sebuah prestasi yang luar biasa bagi sebuah perusahaan konstruksi.

Dan yang terpenting adalah membandingkan raihan kontrak dengan jumlah utang berbunga. Idealnya adalah jumlah utang berbunga harus lebih kecil dari nilai raihan kontrak. Karena apabila jumlah utang lebih besar dari nilai raihan kontrak maka beban bunga utang bisa mengurangi laba perusahaan.

Sebagai contoh bisa lihat tabel di bawah. Perbandingan antara perolehan kontrak dan utang berbunga perusahaan BUMN Karya.

Saham Last Data Perolehan Kontrak Utang Berbunga Target Kontrak 2021 Realisasi
WSKT Des 2021 20,5 T 68,7 T 20,5 T 100%
ADHI Sep 2021 11,3 T 11,2 T 25 T 45,2%
PTPP Sep 2021 15,4 T 17,1 T 30,1 T 51%
WIKA Okt 2021 13,16 T 27,4 T 35 T 37,6%

Jadi dari data di atas kita bisa melihat semua raihan kontrak tahun berjalan perusahaan BUMN Karya, baru ADHI yang bisa cover semua utang berbunganya. Padahal realisasi kontrak ADHI belum sampai 50% dari target awal.

BERSAMBUNG

Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing. .

Jika ingin membuat rekening sekuritas bisa chat via whatsapp nomor 083119181386

Untuk bisa beli saham di Nasdaq seperti Google, Apple, atau Tesla maka bisa download aplikasi Gotrade di sini.

Kalau niat buka tabungan Bank Jago untuk dapat cashback bisa klik link ini https://jadi.jago.com/3IfQIH

Kalau mau buka rekening Bank Neo Commerce untuk dapat cashback bisa pakai link ini https://s.bankneo.co.id/qPJh00 atau kode referal BVRRL2 atau R35000

Untuk konsultasi perencanaan keuangan atau Financial Planning dari Certified Financial Planner Tim Pintarsaham.id bisa juga melakukan reservasi via Whatsapp +62 831-1918-138

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386

Sedangkan jika ingin Trading Kripto bisa daftar di sini

Kode referal Akun Binance SV06XFJZ

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here