Saturday, February 28, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightSewa Crane Laris, Laba Naik, Tapi Ada Titik Rawan di Laporan SKRN

Sewa Crane Laris, Laba Naik, Tapi Ada Titik Rawan di Laporan SKRN

Superkrane Mitra Utama (SKRN) juga mutusin buat buang segmen konstruksi dan fokus ke bisnis sewa crane aja. Di kuartal I-2025, revenue Rp224,8 M itu murni dari sewa alat berat, gak ada lagi kontribusi dari proyek konstruksi yang tahun lalu sempat nyumbang Rp87,6 M.

Tapi meskipun pendapatan turun 26%, laba bersih malah naik 30% ke Rp82,6 M. Kenapa? Karena margin dari bisnis sewa jauh lebih gemuk. Gross margin naik dari 35,9% ke 51,5%, karena gak ada lagi biaya proyek seperti bahan bakar, mobilisasi alat, atau gaji tukang lapangan.

Dari sisi hulu alias dapur warung, alat-alatnya (crane-crane) dibeli dari vendor besar, sebagian besar dari China yaitu Sany Heavy Industry (51,9% dari utang dagang jangka panjang) dan Zhejiang Dingli (24,6%).

Tapi SKRN gak beli alat itu secara tunai, mereka pakai skema leasing dan kredit pabrik, termasuk lewat JA Mitsui Leasing. Jadi gak heran kalau utang jangka panjang naik jadi Rp176,9 M dan liabilitas sewa melonjak ke Rp446,6 M.

Meskipun ngutang, SKRN tetap pegang kas Rp313,3 M, cukup buat bayar 4 tahun bunga bank ke depan. Jadi selama alat-alatnya terus dipakai pelanggan, posisi kas ini jadi bantalan risiko yang kuat.

Pelanggan SKRN ini juga mirip pelanggan tetap warung Pak Toto. Ada tiga orang kaya yang rutin datang yaitu MCC15, Saipem Indonesia, dan BP Berau LNG. Mereka bertiga nyumbang 44% pendapatan kuartal ini, dan bahkan 57% tahun lalu. Artinya, warung ini bener-bener hidup dari langganan segelintir orang.

Kalau satu aja batal makan, warung bisa langsung sepi. Tapi sejauh ini mereka masih setia. Bahkan BP Berau masih kasih DP proyek dalam bentuk aset kontrak senilai Rp58,8 M di neraca. Tapi tentu, ketergantungan ke segelintir pelanggan ini bikin posisi bisnis agak rapuh kalau dilihat dari sisi keberlanjutan jangka panjang.

Transaksi dengan pihak berelasi juga patut diperhatikan. Bayangin Pak Toto nyewa tempat mangkal dari dirinya sendiri. SKRN nyewa lahan pool crane 10.200 m² di Cilincing dari dua direksi-nya sendiri yaitu Yafin dan Linayati, dengan nilai Rp3,5 M per tahun. Itu setara 20% dari total beban usaha kuartalan.

Belum lagi SKRN juga nyewa alat berat dari PT Gala Sentosa Abadi (entitas sepengendali) senilai Rp3,4 M, sekitar 3,2% dari COGS. Bahkan utang suku cadang ke Gala juga naik ke Rp2,85 M.

Kalau dari sisi nominal mungkin gak besar, tapi dari sisi tata kelola, ini kayak warung yang nyewa gerobak dan tempat jualan dari pemiliknya sendiri, dengan harga sewa yang bisa disetir sesuka hati. Selama wajar dan transparan sih gak masalah, tapi jelas perlu diaudit independen, terutama kalau margin mulai menyempit.

Sekarang kita bandingin dengan bisnis influencer saham, Pak BudiDolDol bin Judd Old, mantan operator koperasi merah ijo Kamboja sabung ghoib. Gaya dia itu manipulatif karena suka goreng narasi, jual mimpi, dan hasilkan profit tak berulang dari transaksi siluman.

SKRN sejauh ini gak seperti Pak BudiDolDol Judd Old karena laba Rp82,6 M SKRN ini bukan dari pelepasan aset, bukan dari revaluasi goodwill, dan bukan dari selisih kurs. Murni dari bisnis inti yakni crane disewa, duit masuk, beban bisa ditekan.

Bahkan, CFO-nya Rp97,8 M, lebih tinggi dari laba bersih. Kenapa bisa? Karena piutang turun Rp33 M, gak ada stok yang nyangkut, dan kas dibebaskan dari posisi restricted (Yen 10,3 M sudah cair). Capex Rp31,8 M juga masih di bawah depresiasi. Artinya, mereka gak lagi ekspansi agresif. Mereka lagi mode peras dulu aset yang ada sampai kering.

Tapi tetap ada misteri ala gaya BudiDolDol: ada inflow leasing Rp195 M tapi juga ada outflow Rp174 M di pos cash paid for others yang gak dijelasin rinci di CALK. Apakah itu DP ke vendor? Reimburse pihak terkait? Uang titipan? Gak tahu.

Yang jelas, transaksi sebesar itu patut diaudit lebih lanjut. Belum lagi, selisih antara asset hak sewa Rp399,1 M dan lease liability Rp446,6 M yang menunjukkan adanya front-loaded payment atau indeksasi yang bisa bikin beban lebih berat ke depan.

Dari sisi struktur keuangan, SKRN tergolong efisien. Rasio current 2,8×, quick ratio 2,4×, net-debt/EBITDA 0,4×, dan ROE 41,9% (meski ini dibantu leverage). Bahkan di harga 408 rupiah, PER-nya cuma 8,8×. Kalau payout 2024 diulang (125% dari laba), dividend yield bisa tembus 13%.

Itu bikin SKRN tampil sebagai saham dengan potensi dividen tertinggi di sektor alat berat. Tapi ya, semua ini sangat tergantung pada tiga faktor yaitu utilisasi crane, disiplin leasing, dan kelanjutan proyek migas/smelter.

Investor seperti Pak Toto harus tahu bahwa bisnis ini adalah bisnis mangkok yaitu mangkok besar, tebal, berat, dan mahal. Selama ada pelanggan rutin, tiap hari crane berputar, margin tetap tebal.

Tapi kalau proyek macet, pelanggan batal, atau leasing baru dibuka tanpa kontrak jangka panjang, maka mangkok ini bisa berubah jadi beban yang tiap bulan harus disusutkan nilainya. Depresiasi tetap jalan, bunga tetap jalan, tapi pendapatan mandek karena itulah mimpi buruknya. Satu kesalahan strategi aja bisa ubah bisnis efisien ini jadi jebakan value trap.

SKRN itu bukan saham gorengan gaya influencer, tapi juga bukan saham santai tidur-tidur dapet dividen. Ini saham buat investor yang paham siklus proyek, ngerti laporan keuangan, dan bisa membaca arah utilisasi alat.

Keunggulannya jelas yaitu cashflow kuat, margin gemuk, core bisnis efisien. Kekurangannya juga jelas yakni pelanggan terbatas, leasing tinggi, dan beberapa transaksi berelasi yang butuh pengawasan.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular