ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Saham Bluechip Aman?

Kalau sekarang $BBCA yang jadi market cap terbesar, maka 2008 $BUMI menjadi saham dengan market capital terbesar di Indonesia.

BUMI adalah bluechip di masa itu. Sama seperti $BTC dan $ANTM saat ini yang dikejar – kejar oleh investor. BUMI juga dikejar – kejar oleh investor. Saking banyaknya investor di BUMI, saham itu disebut saham sejuta umat.

Kalau di SB tiap hari kita lihat perkelahian investor ANTM $BRIS vs hater ANTM BRIS, maka di 2008 perkelahian itu terjadi di milis dan Kaskus. Nothing new under the sun lah.

Waktu itu hampir semua reksadana menjadikan BUMI sebagai top holding mereka. Sebagai contohnya reksadana mandiri investa atraktif, di 2008 ada BUMI di top holding mereka. Bahkan BUMI menjadi top holding nomor 1.

Banyak juga politisi hingga menteri yang nyangkut di saham BUMI.

Menteri BUMN dan BUMI
Menteri BUMN dan BUMI

 

Reksadana Koleksi BUMI
Reksadana Koleksi BUMI

Kenapa Investor 2008 Berbodong-bondong Membeli Saham BUMI?

Karena BUMI saham bluechip. Kok bisa bluechip? Market capital nya yang terbesar di IHSG.

Investor merasa aman. Padahal itu false sense of security. Harga tertinggi BUMI waktu itu adalah 8550 rupiah. Saham beredar 19 milyar lembar. Itu artinya market cap BUMI di Juni 2008 sekitar 162 Triliun. Terbesar di Indonesia.

Investor tidak melihat utang berbunga BUMI di 2008 itu sudah mencapai 15,3 Triliun rupiah dengan modal kerja sudah minus 5,1 Triliun rupiah. DER BUMI waktu itu sudah 3,19.

Dengan DER setinggi itu, saham BUMI di repokan oleh banyak pihak. Sampai akhirnya terjadi gagal bayar. Setelah terjadi gagal bayar dan forced di mana – mana, akhirnya BUMI gocap. Investor meradang.

Sekarang BUMI mencoba bangkit lagi. Ingin menjadi bluechip dengan market cap terbesar lagi? Hanya Tuhan yang tahu.

Jadi Haruskah Investasi di Bluechip?

Itulah kenapa saya jarang menggunakan market capital sebagai indikator bluechip. Karena market capital itu bisa saja di manipulasi lewat mekanisme pump and dump meskipun fundamental perusahaan jelek.

Lihat Bitcoin (BTC) dan pasar kripto saat ini. Market capital mereka sudah lebih besar dari Indonesia, apa itu artinya kripto lebih bluechip dari ekonomi Indonesia secara keseluruhan? Kalau hanya lihat market cap, maka GDP Indonesia yang hanya 1,1 Triliun dollar sudah kalah dari market cap Kripto yang mencapai 1,4 Triliun dollar. Secara market cap, crypto is bigger than Indonesia economy. Tapi secara real, apa iya?

Kalau melihat skala ekonomi mana orang akan lebih memilih investasi ke kripto yang market capital nya lebih besar dari GDP Indonesia. Tapi kalau pakai common sense, I won’t do that. Saya tetap lebih percaya pada ekonomi riil Indonesia ketimbang kripto.

Market Capital bisa lenyap dalam semalam. Sama seperti BUMI di 2008 yang hanya dalam sebulan dari market capital terbesar di Indonesia menjadi gocap dalam beberapa tahun kemudian. Di kripto pun begitu, market capital bisa lenyap hanya karena kepanikan market dalam semalam. Sedangkan ekonomi Indonesia, GDP nya bisa bertahan selama tidak ada wabah besar ataupun perang dunia. Ekonomi riil.

Market Cap Kripto vs GDP Indonesia
Market Cap Kripto vs GDP Indonesia

Takeaways

  • Jangan jadikan market capital sebagai satu – satunya patokan untuk menentukan kriteria bluechip. Karena market capital itu mayoritas di drive up oleh psikologi massa bukan oleh kondisi riil perusahaan. Kita bisa melihat apa yang terjadi pada BUMI di 2008 lalu menjadikan itu sebagai pelajaran.
  • Fundamental perusahaan tetap harus menjadi hal yang utama dalam menentukan kriteria bluechip. Earning, cashflow, debt, GCG. Meskipun suatu saham dianggap bluechip karena market capital besar, kita tidak perlu membelinya jika Earning, cashflow, debt dan GCG perusahaan bermasalah.
  • Hanya karena semua orang membeli saham yang sama, belum tentu saham itu bagus. Bisa lihat apa yang terjadi pada BUMI. Banyak yang beli tapi ternyata, perusahaan tersebut bermasalah di kemudian hari.
  • Jangan pernah beli saham yang sudah overvalued di pucuk. Valuasi adalah hal yang wajib dilihat sebelum membeli perusahaan. Sebagus apapun perusahaan jika overvalued, maka tidak akan memberikan manfaat bagi investornya.

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Jika ingin diskusi saham via Telegram bisa ke sini

Untuk Insights Saham bisa ke sini.

Jika ingin pesan analisis Laporan Keuangan Kuartalan Komprehensif dari Pintarsaham.id bisa pesan di sini

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi

Leave a Reply