PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebenarnya masih merupakan bisnis FMCG lokal yang dari luar terlihat stabil karena produknya tersebar di seluruh minimarket, logonya dikenal bahkan anak SD, distribusinya rapi, kapasitas produksinya besar, dan dividen tetap dibagikan.
Tapi kalau dikuliti laporan keuangannya, ternyata di balik semua itu, kondisi keuangannya tidak se-wangi roti yang baru matang. Penurunan laba yang tajam, arus kas operasional yang justru negatif, serta mismatch antara narasi manajemen dan realita finansial membuat kita patut bertanya apakah ini bisnis sehat tapi kebanyakan utang janji, atau mulai mengarah ke value trap?
ROTI mengambil bahan baku utama seperti tepung, gula, minyak sawit, cokelat, dan kemasan dari vendor besar, sebagian besar masih satu grup juga seperti Indofood Sukses Makmur INDF, Salim Ivomas Pratama SIMP, Indolakto.
Artinya dari hulu, mereka sangat bergantung pada harga dan pasokan dari internal group. Nilai transaksi ke pihak-pihak berelasi ini sekitar Rp62,7 Miliar hanya dalam 3 bulan pertama 2025,setara 15 % dari total COGS. Artinya, kalau harga gandum dunia naik atau ada kebijakan harga dari grup, ROTI bisa langsung kena margin-nya.
Di bagian produksi, perusahaan memiliki pabrik sendiri yang kapasitasnya mencapai 6 juta roti per hari. Aset tetap yang dimiliki mencapai Rp2,5 Triliun, mendominasi 67 % total aset.
Ini artinya fixed cost perusahaan besar, dan mereka harus produksi dalam skala besar untuk bisa dapat efisiensi. Depresiasi pabrik dan mesin saja Rp49,4 Miliar di Q1, setara 5,7 % revenue. Jadi, kalau penjualan turun, biaya tetap ini tetap harus dibayar, dan laba langsung tergerus.
Distribusinya dibagi dua. Pertama, ke jaringan modern seperti Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi dengan sistem konsinyasi dan fee promosi yang terstruktur. ROTI membayar fee ke mereka (Rp14,8 Miliar) dan menyetor uang jaminan (Rp23,1 Miliar) yang disimpan dalam deposito.
Sedangkan sistem distribusi untuk wilayah yang belum tersentuh ritel modern, ROTI memakai sistem van selling dengan agen yang juga diminta menyetor uang jaminan. Uang-uang jaminan ini muncul di neraca sebagai deposito dan customers deposits, dan meski seimbang antara aset dan liabilitas, uang ini menahan likuiditas. ROTI juga bayar bunga ke agen atas uang ini, yang memotong margin keuangan.
Penjualan paling besar ada di wilayah Tengah (Jawa), sebesar 51,5 % dari total, tapi sayangnya justru wilayah ini mencatat rugi Rp36,6 Miliar, sedangkan wilayah Timur yang kontribusinya lebih kecil justru untung Rp55,6 Miliar.
Ini jadi sinyal bahwa di daerah yang pasarnya paling besar, mereka justru habis-habisan kasih diskon dan margin tipis. Dugaan kuatnya, persaingan dengan roti lokal dan produsen rumahan di Jawa memaksa ROTI banting harga.
Revenue kuartal I-2025 anjlok 9,6 % YoY ke Rp859,6 Miliar. Gross profit ikut turun 14,9 %, margin kempes dari 54,3 % ke 51,1 %. Operating profit bahkan turun lebih parah, karena beban operasional tidak turun secepat revenue sehingga margin operasi dari 10,9 % tinggal 4,5 %.
Laba bersih nyungsep 69,4 % ke Rp22,6 Miliar. Net profit margin tinggal 2,6 %. Lebih parah lagi, cash flow from operations (CFO) negatif Rp26,8 Miliar. Padahal, ini perusahaan makanan. Kok bisa?
Ternyata sumber utamanya adalah kenaikan tajam di prepaid tax dan prepaid expenses. Restitusi PPN yang belum cair dan uang muka iklan serta gudang bikin kas keluar duluan tanpa masuk balik. Artinya, walaupun masih untung secara laba akrual, secara kas masuk, perusahaan justru boncos.
Capex perusahaan juga masih jalan (Rp33,3 Miliar), sehingga free cash flow negatif sekitar Rp60 Miliar. Dan anehnya, mereka tetap jalanin buyback Rp26 Miliar. Padahal kas perusahaan turun dari Rp432 Miliar ke Rp325 Miliar, tergerus hampir 25 %.
Kalau kita telusuri ke balance sheet, memang piutang dan persediaan naik, memperpanjang cash conversion cycle jadi 47 hari. Di saat yang sama, utang ke vendor pihak ketiga naik, sedangkan ke pihak berelasi justru turun. Ini menunjukkan bahwa mungkin ada tekanan dari vendor internal untuk dibayar lebih cepat, atau ada perubahan kebijakan grup.
Posisi utang berbunga masih rendah, net debt hanya Rp289 Miliar, dan rasio net-debt-to-equity hanya 12,5 %, tapi beban bunga tetap naik dan interest coverage ratio turun ke 3,2x. Kalau suku bunga acuan naik 1 %, ROTI bisa kehilangan Rp5 Miliar laba lagi.
Soal risiko, ROTI minim eksposur mata uang asing karena transaksi USD sudah ditekan. Risiko terbesar justru dari harga komoditas (gandum, gula, kakao) dan risiko operasional stok rusak atau tidak laku.
Di Q1 saja, volume turun signifikan, dan karena persediaan naik, ada risiko besar bahwa sebagian stok akan kadaluarsa dan harus di-return. Ini berarti margin Q2 bisa lebih parah lagi.
Tidak ada kasus hukum yang besar. Kasus terbesar justru gagal ekspansi luar negeri lewat Caffe Bene Korea, yang akhirnya dihapuskan (impairment Rp8,6 Miliar) dan dianggap lunas. Selebihnya, tidak ada perkara hukum material.
Jadi bisa dibilang, LK ROTI ini tidak bagus dan tidak jelek dalam waktu bersamaan. Sudah, tapi belum. Kalau dilihat dari struktur keuangan dan kekuatan distribusinya, masih kuat. Tapi kalau dilihat dari trend penjualan, margin, dan cashflow, ini tanda-tanda bahwa mereka mulai masuk zona bahaya sebab volume menurun, margin ditekan, kas menyusut, dan aksi korporasi tidak sesuai dengan kondisi aktual.
Ini membuat pasar mulai mencium risiko value trap. Dividen memang masih dibayar, tapi kalau terus begini, bisa jadi tahun depan ditekan.
Kenapa harga saham bisa jatuh dari Rp1.100 ke Rp840? Jawabannya adalah karena semua ketimpangan di atas terbaca oleh pasar. ROTI terlihat seperti perusahaan defensif yang cocok buat simpanan jangka panjang, tapi saat margin ambruk, kas boncos, dan manajemen malah buyback, pasar jadi sinis.
Apalagi di era sekarang, investor retail makin cerdas baca laporan keuangan. ROTI terlihat makin matang, dalam arti tidak lagi bertumbuh. Kalau perusahaan yang tidak tumbuh, margin makin tipis, dan dividen tidak meningkat maka wajar kalau sahamnya turun.
Tapi masih ada harapan untuk perusahaan ini. ROTI tetap punya jalur distribusi terbaik untuk makanan ringan di Indonesia, merek kuat, dan kemampuan produksi massal. Kalau mereka bisa pulihkan penjualan di Q2 lewat Lebaran idul Adha atau natal di Q4 dan tahun ajaran baru, serta pencairan restitusi pajak bisa masuk, maka CFO bisa balik positif dan harga saham bisa mantul.
Tapi kalau tidak? Maka kita bisa lihat ROTI jadi seperti bisnis roti konvensional yang gede di aset, tinggi fixed cost, tapi volume dan margin makin susah naik. Dan dalam skenario itu, sahamnya bisa lama di bawah Rp1.000, atau bahkan turun lagi.
Sebagai investor, harapannya tentu ROTI bisa keluar dari fase ini. Tapi harus objektif karena ini bukan saham yang bisa disimpan hanya karena pernah bagus. Kita perlu lihat dulu hasil Q2 dan strategi manajemen ke depan.
Lagi cari saham yang prospeknya oke dan gak cuma “katanya”? Coba cek ini deh.


