Banyak investor menduga salah satu dari ADRO, BUMI, atau CDIA akan masuk MSCI Global Index pada Februari 2026, dan dugaan itu wajar karena pergerakan harga serta transaksi ketiganya memang mencolok. Namun MSCI tidak bekerja dengan logika cerita pasar, melainkan dengan angka yang disaring berlapis.
Ukuran besar saja tidak cukup, likuiditas saja juga tidak cukup, dan popularitas sama sekali tidak relevan. Yang diuji adalah kombinasi ukuran, porsi saham publik, serta konsistensi transaksi dalam satu kerangka metodologi yang kaku. Dari titik ini, perbandingan ketiganya justru menghasilkan kesimpulan yang tidak simetris.
BUMI berada pada posisi paling matang secara statistik. Kapitalisasi pasar penuh BUMI sekitar Rp123,28 triliun atau setara USD 7,29 miliar sudah melewati referensi global Standard Index sekitar USD 7,15 miliar, sehingga dari sisi ukuran headline sebenarnya sudah lolos.
Dengan free float 32,53% yang dibulatkan menjadi faktor 0,35, nilai kapitalisasi pasar yang benar-benar bisa diinvestasikan investor global berada di kisaran USD 2,55 miliar. Angka ini sudah melampaui ambang masuk praktis Standard Index Indonesia yang secara historis berada di sekitar USD 1,78 miliar.
Dari sisi transaksi, lonjakan Value MA 20 ke Rp3,18 triliun dari MA 200 Rp908 miliar menunjukkan akselerasi likuiditas yang sangat kuat, sehingga skor ATVR BUMI hampir pasti jauh di atas syarat minimum 15%. Secara tren, BUMI menunjukkan kombinasi ukuran cukup, free float relatif aman, dan likuiditas yang justru makin menguat menjelang periode evaluasi.
CDIA berada di ujung spektrum yang berbeda. Secara kapitalisasi pasar penuh, nilainya sangat besar sekitar Rp170 triliun atau setara USD 10,04 miliar, jauh di atas batas ukuran Standard Index. Masalah utamanya bukan ukuran, melainkan free float yang hanya 9,97% sehingga faktor inklusi asing efektifnya hanya 0,10.
Dalam kondisi seperti ini, metodologi MSCI menerapkan penalti low float sebesar 1,8 kali lipat dari syarat normal, sehingga CDIA membutuhkan nilai investabel sekitar USD 3,22 miliar. Realitanya, dengan struktur kepemilikan saat ini, nilai investabel CDIA baru sekitar USD 1,00 miliar, terpaut sangat jauh dari syarat tersebut.
Dari sisi likuiditas, Value MA 20 Rp208 miliar justru berada di bawah MA 200 Rp449 miliar, sebuah sinyal bahwa momentum transaksi jangka pendek melemah. Secara tren, CDIA terlihat besar tapi tertahan, dan dalam kerangka MSCI, ini lebih cocok sebagai kandidat Small Cap daripada penantang Standard.
ADRO berada di tengah, tidak sekuat BUMI namun tidak sesulit CDIA. Kapitalisasi pasar penuh ADRO sekitar Rp70,24 triliun atau USD 4,15 miliar masih berada di bawah referensi global Standard Index USD 7,15 miliar, sehingga dari sisi ukuran headline saja sudah tertinggal satu langkah.
Dengan free float 28,67% dan faktor 0,30, nilai investabel ADRO berada di kisaran USD 1,24 miliar, masih di bawah ambang masuk Standard sekitar USD 1,78 miliar. Likuiditas ADRO relatif sehat karena MA 20 berada di atas MA 200, menandakan aktivitas transaksi yang konsisten, ditambah dividend yield sekitar 13,05% yang membuat saham ini ramai diperdagangkan.
Namun dividen tinggi juga berarti ada penyesuaian harga dan pajak dividen 20% bagi investor asing, sehingga daya tariknya di indeks global tidak sebersih kelihatannya. Secara tren, ADRO butuh kenaikan harga yang signifikan dan berkelanjutan untuk benar-benar menembus batas ukuran investabel.
Jika ketiganya disejajarkan dalam satu garis waktu menuju Februari 2026, pola yang muncul cukup jelas. BUMI sudah berada di zona masuk secara ukuran dan likuiditas, tinggal menjaga agar harga dan transaksi tidak runtuh menjelang cutoff data.
ADRO masih berada di fase mengejar, dengan kebutuhan kenaikan harga ke kisaran Rp3.400 sampai Rp3.600 agar nilai investabelnya tembus batas minimum. CDIA menghadapi tanjakan paling curam karena penalti free float membuat target kapitalisasi efektifnya melonjak sangat tinggi, mendekati Rp545 triliun secara penuh, sesuatu yang tidak realistis dalam jangka pendek tanpa perubahan struktur kepemilikan.
Kalau dari hitungan kasar, hanya BUMI yang secara statistik benar-benar siap menjadi kandidat masuk MSCI Global Standard Index pada Februari 2026. ADRO lebih masuk akal diposisikan sebagai Small Cap yang kuat sambil menunggu siklus harga berikutnya. CDIA, meskipun besar dan strategis, masih terkunci oleh free float yang terlalu kecil untuk standar MSCI. Jadi jika investor bertanya apa iya salah satu dari ketiganya masuk, jawabannya bukan tiga-tiganya, melainkan satu nama yang paling konsisten memenuhi angka, dan itu saat ini mengarah ke BUMI.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


