Perusahaan menara di IHSG itu tidak terlalu banyak. Justru karena sedikit, efeknya ke ekosistem telekomunikasi jadi besar, karena menara itu seperti jalan tol, semua operator lewat situ, dan yang pegang gerbang tol bisa mengatur ritme industri. Banyak investor terlalu fokus ke telko yang jual paket data, padahal pabrik uang yang paling kalem sering ada di layer infrastruktur, kontraknya panjang, tagihannya rutin, dan arus kasnya tebal.
Masalahnya, di industri menara yang terlihat tenang ini, kompetisi tetap brutal dalam bentuk akuisisi, efisiensi capex, dan perebutan kontrak multi-tahun. Jadi kalau investor mau menilai siapa yang sedang unggul, jangan cuma lihat laba bersih, lihat juga skala aset, komposisi pelanggan, dan seberapa kencang arus kas bebasnya.
Kalau dibawa ke peta besar, ada tiga nama yang sering jadi acuan, TOWR, MTEL, dan TBIG. Dari sisi tren industri, tiga-tiganya sedang bergerak dari fase membangun besar-besaran menuju fase memanen, terlihat dari capex yang turun tajam secara tahunan, TOWR turun 33%, MTEL turun 23,7%, dan TBIG turun 22%.
Ini penting karena bisnis menara itu biasanya berat di awal, lalu jadi mesin kas ketika portofolio sudah matang, tenant bertambah, dan kontrak sewa berjalan stabil. Pada titik ini, yang menang biasanya bukan yang paling heboh membangun, tapi yang paling efisien mengubah revenue menjadi kas, lalu kas menjadi arus kas bebas.
Sekarang bandingkan skala dan ekosistemnya. MTEL punya kartu truf yang tidak dimiliki pemain lain, statusnya anak TLKM, sehingga ada jangkar demand yang sangat kuat dari Telkomsel. Di 9M 2025, Telkomsel menyumbang 55% revenue MTEL, setara Rp3,78 triliun, ini seperti punya penyewa utama yang tidak gampang kabur.
Efeknya bukan cuma stabilitas revenue, tapi juga bargaining power saat MTEL mau ekspansi ke menara baru, in-building coverage, atau jaringan kabel, karena demand awal sudah ada. Namun konsekuensinya jelas, konsentrasi pelanggan jadi risiko yang harus ditelan, karena lebih dari 60% pendapatan jika digabung dengan Telkom group lain berarti nasib MTEL sensitif terhadap kebijakan belanja induknya.
Kalau investor fokus ke kualitas kas, MTEL terlihat sangat kuat. CFO MTEL 9M 2025 mencapai Rp5,68 triliun, sementara laba bersihnya Rp1,54 triliun, artinya kas operasional masuk 3,68 kali lebih besar dari laba akuntansi. Ini pola khas bisnis infrastruktur yang sehat, laba bisa terlihat moderat karena penyusutan dan akuntansi, tapi kasnya deras karena kontrak sewa berjalan dan tagihan tertagih.
Setelah dikurangi capex Rp1,30 triliun, MTEL masih menyisakan FCF Rp4,38 triliun, ini yang bikin MTEL punya ruang napas untuk ekspansi organik, akuisisi selektif, atau memperkuat neraca. Bahkan secara teori, dengan FCF tahunan, MTEL bisa melunasi utang pendanaannya sekitar 3,5 tahun, angka ini memberi sinyal daya tahan yang tinggi saat bunga naik atau kompetisi makin ketat.
Namun menariknya, kalau dilihat dari rasio industri, MTEL bukan yang paling dominan di semua metrik. Di 9M 2025, Capex terhadap Revenue, MTEL 18,86% lebih hemat dibanding TOWR 23,79% dan jauh di bawah TBIG 31,40%. Artinya, TBIG sedang menekan gas investasi paling dalam, bisa berarti mengejar pertumbuhan portofolio atau upgrade aset, tapi konsekuensinya arus kas bebas relatif lebih tertekan dibanding jika capex lebih rendah. Di sisi lain, CFO terhadap Revenue, TOWR unggul di 88,59%, sementara MTEL 82,53% dan TBIG 82,05%, jadi TOWR paling jago mengubah revenue menjadi kas operasional, ini keunggulan yang sering tidak terlihat kalau investor cuma baca laba.
Kalau investor mau metrik yang paling terasa untuk pemegang saham dan daya tahan bisnis, lihat FCF terhadap Revenue. TOWR 64,80% dan MTEL 63,67% itu dua angka yang sangat tinggi, TBIG 50,65% masih bagus tetapi kalah tebal. Ini menjelaskan kenapa industri menara sering dipandang seperti mesin kas, ketika fase pembangunan melambat, setiap rupiah revenue bisa berubah jadi kas bebas dalam porsi besar.
Net margin, TOWR kembali memimpin 26,36%, sementara MTEL 22,41% dan TBIG 22,25%, jadi TOWR terlihat paling rapi di level bottom line. Tetapi di sini investor perlu hati-hati, margin tinggi di industri ini bisa dipengaruhi struktur depresiasi, struktur utang, dan komposisi bisnis tambahan seperti fiber atau jasa lainnya.
Metrik yang sering bikin investor kebuka matanya adalah perbandingan Laba Bersih terhadap CFO. TOWR 29,75%, MTEL 27,15%, TBIG 27,12%, tiga-tiganya relatif mirip, dan ini memberi pesan bahwa laba bersih memang bukan representasi kas yang masuk, karena kasnya jauh lebih besar dari laba.
Di sini keunggulan MTEL bukan sekadar angka rasio, tapi konteks, kas yang besar itu disokong ekosistem grup, sehingga secara siklus bisnis terasa lebih defensif. Sementara TOWR unggul karena efisiensi monetisasi aset, jadi saat capex turun, mereka bisa memeras lebih banyak kas dari basis aset yang sudah ada.
Kalau bicara tren pertumbuhan, gambarannya juga menarik. Revenue growth 9M 2025 versus 9M 2024, TOWR memimpin 2,52%, TBIG 0,70%, MTEL -0,16% yang artinya stagnan cenderung turun tipis. Net profit growth, TOWR naik 3,05%, MTEL naik 0,61%, TBIG justru turun -4,96%. Ini pola yang nyambung dengan cerita besar tadi, industri sedang panen kas, tetapi pertumbuhan revenue mulai melambat, sehingga permainan bergeser ke efisiensi, pengelolaan biaya, dan strategi inorganik seperti akuisisi.
Di sinilah gaya bertarung tiap emiten terlihat beda. TOWR lebih berani bermain inorganik, beberapa tahun terakhir melakukan akuisisi seperti IKS pada Maret 2024, IBST pada Juli 2024, dan MAN pada September 2025, ini seperti strategi mempercepat skala tanpa menunggu build organik.
MTEL lebih seimbang, tetap punya backlog jasa konstruksi dan manajemen proyek Rp267,67 miliar yang memberi tambahan aktivitas di luar sewa, sambil tetap menjaga efisiensi capex. TBIG terlihat masih relatif agresif di investasi fisik, tercermin dari Capex terhadap Revenue yang paling tinggi, sehingga narasinya lebih ke penguatan portofolio dan kapasitas jangka panjang, meskipun jangka pendeknya FCF relatif tidak setebal dua pesaingnya.
Soal skala aset, investor juga perlu melihat ini dengan kacamata yang benar. TOWR punya total aset Rp78,29 triliun, MTEL Rp58,05 triliun, TBIG Rp44,72 triliun. Di atas kertas TOWR paling besar, tetapi investor harus ingat aset TOWR juga memuat goodwill akuisisi yang besar, jadi skala besar tidak selalu berarti aset fisik menara paling dominan, bisa juga berarti strategi ekspansi via M&A yang mengangkat goodwill di neraca.
MTEL lebih menarik dari sisi ekosistem, karena aset yang lebih kecil dari TOWR tetap bisa menghasilkan arus kas yang sangat tebal berkat anchor tenant Telkomsel. TBIG berada di posisi menengah yang bisa terlihat kurang mencolok, tetapi tetap berada di liga yang sama sebagai penyedia infrastruktur yang kontraknya panjang dan cash generative.
Kalau masuk ke segmen, ketiganya memang sama-sama bergantung pada sewa menara sebagai kontributor di atas 90%. Tetapi perbedaannya ada di mesin pertumbuhan tambahan. TOWR punya segmen jasa lainnya yang tumbuh dari Rp902 miliar menjadi Rp1,18 triliun, naik 31%, ini sinyal diversifikasi yang sedang berhasil.
TBIG punya pertumbuhan di serat optik dari Rp411 miliar menjadi Rp469 miliar, naik 14%, jadi ada dorongan dari fiber sebagai pelengkap menara. MTEL justru pendapatan jasa lainnya turun dari Rp452 miliar ke Rp391 miliar, jadi untuk MTEL, cerita utamanya tetap menara dan ekosistem telko grup, bukan jasa tambahan.
Sekarang bagian yang sering dilupakan investor, risiko neraca dan likuiditas. MTEL punya defisit modal kerja Rp5,03 triliun karena liabilitas jangka pendek besar, tetapi konteksnya biasanya tertolong oleh fasilitas pinjaman jangka panjang dan kemampuan FCF yang tebal.
Ini beda dengan perusahaan yang defisit modal kerja karena kasnya kering, MTEL defisit modal kerja tetapi mesin kasnya kuat, jadi risikonya lebih ke manajemen struktur utang dan jatuh tempo, bukan ke ketidakmampuan menghasilkan uang. Risiko yang lebih strategis tetap konsentrasi pelanggan, karena ketika sebagian besar revenue datang dari keluarga sendiri, stabil, tetapi ruang negosiasi harga dan volume bisa dipengaruhi kebijakan grup.
Jadi TOWR unggul di efisiensi kas dan profitabilitas, CFO terhadap Revenue 88,59% dan net margin 26,36%, lalu ditopang strategi akuisisi yang membuat pertumbuhan tetap hidup saat industri mulai melambat. MTEL unggul di daya tahan ekosistem dan kualitas kas, FCF Rp4,38 triliun, CFO 3,68 kali laba, serta jangkar Telkomsel 55% revenue, ini membuat MTEL terasa seperti infrastruktur negara versi korporasi.
TBIG unggul di intensitas investasi, Capex terhadap Revenue 31,40% menunjukkan mereka masih membangun dan menguatkan kapasitas, cocok untuk investor yang percaya fase berikutnya masih membutuhkan ekspansi aset dan fiber lebih agresif. Jadi pada fase industri menara yang sudah masuk mode panen, pemenang bukan cuma yang paling besar, tetapi yang paling disiplin mengubah pendapatan menjadi kas, dan paling cerdas memilih kapan ekspansi organik, kapan akuisisi, dan kapan menahan diri.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan! https://bit.ly/pintarsahamid


