Saturday, February 28, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightLaporan Keuangan CDIA: Anak TPIA, Cucu BRPT yang Katanya akan IPO

Laporan Keuangan CDIA: Anak TPIA, Cucu BRPT yang Katanya akan IPO

Setelah baca LK-nya, saya baru tahu kalau Chandra Daya Investasi (CDIA) adalah perusahaan baru yang belum genap dua tahun tapi sudah siap dilempar ke ring utama bursa. Lahir Februari 2023 sebagai anak usaha dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan cucu dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT),

CDIA nampaknya memang sengaja diciptakan bukan sebagai pemain biasa, tapi sebagai jembatan infrastruktur energi dan logistik yang menopang ambisi konglomerasi Barito ke sektor hilir energi dan kawasan industri.

Ibarat warung bakso, CDIA ini bukan warung pinggir jalan ecek – ecek yang mulai dari nol, tapi franchise premium karena kakek dan bapaknya tajir melintir, yang langsung buka di pusat kota, sewa tempat di mal, pakai bahan impor, dan langsung cetak brosur IPO sebelum pelayannya sempat hafal menu restoran.

Kalau Pak Toto buka warung bakso pakai modal sendiri, kerja keras dari bawah buka cabang satu persatu, siang malam banting tulang demi dapur ngebul. CDIA ini bisa dibilang nepo baby, baru lahir 2023, langsung buka warung bakso langsung 100 cabang dan di 2025 sudah mau IPO karena kakek dan bapaknya orang terkaya di Indonesia. Seandainya Pak Toto bisa sekaya Papa Prajogo.

Secara neraca, CDIA memang kelihatan besar. Per akhir 2024, total asetnya mencapai US$1,08 miliar atau setara Rp17,2 triliun, dengan ekuitas Rp11,96 triliun dan modal disetor Rp9,7 triliun. Tapi isi asetnya sebagian besar bukan infrastruktur operasional, melainkan aset keuangan seperti deposito dan obligasi senilai US$436,8 juta atau hampir Rp7 triliun.

Ini membuat setengah wajah perusahaan adalah surat utang, bukan mesin pembangkit, bukan pelabuhan, bukan kapal. Aset-aset fisik tentu ada seperti pembangkit listrik, jetty, tangki BBM, dan kapal tunda. Tapi secara nilai, justru instrumen finansial yang paling dominan.

Jadi kalau diibaratkan warung bakso, CDIA lebih banyak punya tabungan deposito di bank daripada kompor atau stok daging. Bisnis utamanya belum masak, tapi bunga dari deposito sudah disajikan sebagai pendapatan utama.

Jadi dari semua isi aset CDIA, yang paling banyak malah aset saham dan surat utang. Bukannya aset operasional. CDIA ini lebih cocok jadi perusahaan finansial ketimbang jadi perusahaan infrastruktur.

Revenue alias pendapatan utama CDIA berasal dari segmen kelistrikan yang dikelola oleh anak usaha PT Krakatau Chandra Energi. Unit ini menyuplai listrik berbasis gas ke kawasan industri milik Krakatau Steel di Cilegon. Kontribusinya terhadap pendapatan mencapai 73 persen dan sangat dominan.

Tapi marginnya tipis, hanya menghasilkan laba segmen sekitar US$5,98 juta di 2024 bahkan lebih kecil dari tahun sebelumnya meski penjualannya naik 45 persen. Kenapa? Karena harga gas naik sementara tarif jual listrik belum naik. Dan ini belum selesai. Pada 2025, tekanan berpotensi bertambah karena konflik Timur Tengah seperti perang antara Israel dan Iran yang telah menyebabkan harga gas global melonjak.

CDIA yang bergantung pada gas dari PLN dan Pertamina sangat rentan. Kalau tarif listrik tidak naik sementara harga gas terus naik, margin bisa makin tipis bahkan bisa negatif. Bayangkan warung bakso Pak Toto yang andalkan gas elpiji untuk rebus bakso, lalu elpiji naik drastis tapi harga menu tetap. Lama-lama warung cuma masak rugi.

Segmen lainnya seperti pelabuhan dan shipping memang lebih sehat secara margin. Pelabuhan dan tank jetty seperti Redeco dan Chandra Cilegon Port menyumbang 5 persen revenue dengan margin 57 persen. Shipping seperti Marina Indah Maritim dan Chandra Shipping International menyumbang 5 persen revenue dengan margin 56 persen.

Sisanya dari jasa engineering dan manajemen proyek sebesar 16 persen revenue tapi hanya margin 16 persen. Secara kas, shipping dan pelabuhan ini seperti menu sampingan di warung bakso yang justru ternyata lebih laku seperti es teh dan gorengan yang punya margin lebih tinggi daripada semangkuk bakso besar.

Jadi revenue terbesar CDIA memang jual listrik bareng KRAS, tapi yang margin labanya paling gede malah dari bisnis shipping. Boleh juga ini skenario hipotesis CDIA masuk bisnis kapal dan logistik sekalian sedangkan bisnis listriknya yang margin tipis jual aja ke Danantara pakai harga premium. Kan sohib. Skenario bisnis yang jelek – jelek kasi ke Danantara, yang bagus – bagus simpan sendiri. Sekali lagi ini hanya skenario hipotesis, belum tentu terjadi.

Sayangnya, meski laporan laba rugi terlihat manis yaitu laba bersih US$32,7 juta atau Rp523 miliar, kita harus buka lapisan bawahnya. EBIT-nya alias laba core operation hanya US$2,2 juta. Artinya, 93 persen dari laba bersih itu berasal dari bunga obligasi dan share profit dari entitas asosiasi seperti Krakatau Pipe Industries. Arus kas operasional hanya US$1,23 juta, sementara beban bunga tunai mencapai US$22,4 juta. Ini berarti laba bersih hanya angka akuntansi alias laba di atas kertas.

Secara arus kas, CDIA masih belum bisa hidup dari operasinya sendiri. Bahkan free cash flow minus US$524 juta atau sekitar Rp8,4 triliun karena belanja capex sebesar US$71,5 juta, beli obligasi sebesar US$436,8 juta, dan pemberian pinjaman ke entitas berelasi sebesar US$38,4 juta. Ini semua dibiayai dari utang bank sebesar US$251 juta. CDIA saat ini hidup dari utang dan portofolio, bukan dari pelanggan yang bayar tagihan.

CDIA baru lahir di 2023 tapi sudah punya tabungan kas dan SBN gede dari kakek dan bapaknya. Bisnis jual listrik dan kapal itu hanya sampingan karena laba utamanya justru dari aset finansial deposito dan kupon surat utang.

Dari sisi struktur modal, DER-nya 0,4 kali dan masih aman. Tapi interest coverage ratio-nya negatif. ROE hanya 4,6 persen dan ROA 3,3 persen yang tergolong rendah untuk perusahaan dengan ambisi besar. Rasio likuiditas terlihat tinggi seperti current ratio 9 kali dan quick ratio 7 kali, tapi ini semu.

Rasio tinggi karena obligasi dimasukkan ke aset lancar. Kalau nanti obligasinya sulit dicairkan atau nilainya turun, rasio likuiditas bisa anjlok mendadak. Risiko kurs juga tinggi karena pendapatan tercatat dalam USD tapi sebagian besar beban seperti operasional dan utang berdenominasi rupiah.

Deloitte menghitung setiap pelemahan 2 persen rupiah terhadap dolar bisa menggerus laba hingga US$1,5 juta. Sementara risiko suku bunga juga mengintai karena sebagian besar utangnya berbunga mengambang.

Transaksi dengan pihak berelasi menambah cerita. CDIA meminjamkan US$38,4 juta ke entitas sepengendali alias ke keluarga sendiri. Artinya, dana perusahaan tidak sepenuhnya difokuskan ke proyek produktif, tapi berputar di dalam grup. Ini memperkuat kesan bahwa kas bukan untuk mendorong pertumbuhan langsung, melainkan menjadi alat manajemen kas internal Grup Barito.

Baik banget ini CDIA. Ambil utang gede lalu duit utang itu dikasi pinjam ke keluarga sendiri. Anak yang berbakti pada papa dan kakek.

Kini masuk ke bagian paling krusial yaitu soal valuasi IPO dan peran bandar. Dengan nilai buku Rp11,96 triliun, jika IPO di PBV 2 maka valuasinya Rp23,9 triliun. Di PBV 5, Rp59,8 triliun. Kalau ikut skenario ekstrem seperti BREN dengan PBV 90 maka valuasi CDIA bisa tembus Rp1.076 triliun. Tapi angka segila itu hanya bisa terjadi kalau bandar pegang kendali penuh.

Di bursa Indonesia, harga saham bukan soal DCF atau soal EPS tapi soal siapa yang bisa kontrol persepsi pasar. Dan Grup Barito ahli dalam hal ini. TPIA listing 2010 dengan valuasi besar. BRPT dipoles ulang dan sekarang diperdagangkan di PBV 5.

BREN yang IPO 2023 sempat terbang ke PBV 93 sebelum ambruk karena realitas arus kas tak bisa mengejar harga. Semua pola IPO mereka punya kesamaan yaitu saham sedikit, cerita besar, distribusi dikunci bandar, dan narasi dibakar habis-habisan di media sosial.

Bandar adalah elemen utama dalam permainan harga saham saat IPO. Kalau bandar kuat, distribusi ketat, dan cerita bisa dijual, harga bisa digoreng. Tapi jika kendali kendur, jika narasi mulai tak dipercaya, jika volume harian mulai tipis, harga akan longsor mengejar kenyataan.

CDIA akan masuk pasar dengan silsilah elite, tapi isinya belum tentu mendukung harga premium. Ibarat warung bakso Pak Toto yang soft opening disiarkan influencer, dikasih diskon besar, antrian panjang, tapi setelah seminggu rasa kuahnya mulai hambar dan pelanggan mulai bertanya apakah ini warung beneran atau sekadar promo.

Kalau CDIA ingin layak dihargai di PBV 3 sampai 5 maka empat hal mutlak diperbaiki. Pertama, CFO harus minimal dua kali lipat beban bunga agar perusahaan tidak hanya untung di laporan tapi juga di kas.

Kedua, margin listrik dari Krakatau Chandra Energi harus naik ke atas 15 persen lewat renegosiasi tarif atau efisiensi pasokan gas. Ketiga, segmen pelabuhan dan shipping harus mulai menghasilkan arus kas nyata bukan hanya margin di kertas. Keempat, bandarnya harus kuat goreng saham, kalau kere bandarnya ya wassalam. No bandar, no goreng, no party.

Jika semua empat ini tercapai, CDIA bisa masuk kelas perusahaan logistik dan utilitas yang premium. Tapi jika tidak, valuasi tinggi hanya akan menjadi jebakan dan investor yang masuk di harga tinggi bisa nyangkut lama seperti mangkok bakso yang sudah basi tapi tetap dipajang karena branding-nya kuat.

Jadi CDIA bukan perusahaan ecek-ecek. CDIA adalah nepo baby yang punya punggung kuat dari Grup Barito, punya segmen bisnis yang kelihatan solid di atas kertas, dan akan masuk pasar dengan dukungan narasi besar. Tapi dari sisi keuangan, perusahaan ini belum hidup dari operasi. Arus kas tipis, margin tertekan, dan risiko pasar makin tinggi.

Harga sahamnya nanti bukan ditentukan oleh laba bersih, tapi oleh seberapa kuat bandar mengatur cerita dan distribusi. Kalau cerita kuat dan bandar solid, harga bisa naik. Tapi kalau salah langkah, semua kemegahan IPO itu hanya akan jadi brosur mahal yang dilupakan pasar. Dan CDIA adalah warung bakso paling mahal yang belum laku.

Pendapat jujur, saya bisa bilang kalau laporan keuangan CDIA ini bisa dikatakan so so. Tapi saya rasa biarpun laporan keuangannya so so, orang – orang akan tetap ramai ikut IPO nya karena ini adalah IPO nya perusahaan orang terkaya di dunia. Ikutan IPO 100 juta, dapat penjatahan paling 3-10 lot aja. ARA 2-4 hari, cuan, jual semua atau jual sebagian, move on.

Kuncinya itu ada di bandar saham. Sejelek apapun laporan keuangan sebuah perusahaan, selama bandarnya kuat goreng maka harga saham akan terus naik. Soal nanti siapa yang akan beli di pucuk itu urusan belakangan, itulah gunanya strategi cutloss di saham yang spekulasi tingkat tinggi.

Yang beli saham bukan laporan keuangan dan rasio fundamental. Yang beli saham adalah manusia. Yang tekan tombol buy dan sell adalah manusia. Bandar = manusia. Jadi yang bisa naikkan harga saham ya bandar berwujud manusia, bukan laporan keuangan dan fundamental.

Kalau merasa tidak suka dengan grup Prajogo Pangestu karena merasa ini gorengan maka tidak usah ikut IPO nya. Tapi jika yakin in PP we Trust, maka tinggal ikut IPO nya biarpun mungkin cuma dapat 5-10 lot aja.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular