Kondisi PT Gudang Garam Tbk (GGRM) saat ini ekstrem dan nyaris tidak bisa dibandingkan dengan fase mana pun dalam sejarah panjang perusahaan ini. Perusahaan yang dulu identik dengan laba bersih tahunan di atas Rp7 triliun, dividen tunai yang nyaris rutin, dominasi di pasar rokok nasional, dan kekuatan finansial yang solid, kini berada dalam posisi yang goyah di hampir semua lini.
Bukan hanya tekanan dari industri rokok yang makin tertekan, tapi juga proyek-proyek diversifikasi raksasa yang justru belum memberikan hasil apa-apa. Semua berlangsung bersamaan, menyeret arus kas, membuat neraca keuangan kian sempit, dan menyebabkan harga sahamnya terjun bebas 50% hanya dalam waktu 12 bulan terakhir.
Laporan keuangan GGRM tahun 2024 mencatat laba bersih hanya Rp980,8 miliar, anjlok 81,58% dibanding 2023. Pada kuartal I 2025, kondisi memburuk dengan laba bersih turun lagi menjadi Rp104,43 miliar, turun 82,46% secara tahunan. Pendapatan ikut tertekan, dari Rp26,2 triliun menjadi Rp23,06 triliun, turun 12%.
Penurunan volume penjualan rokok sebesar 17,13% menjadi penyebab utama, didorong kenaikan cukai yang agresif dan daya beli masyarakat yang terus menurun. Rokok sebagai core business mereka kini tidak lagi mampu menopang beban operasional, apalagi mendanai ekspansi besar.
GGRM merespons dengan strategi transformasi. Mereka mencoba meninggalkan ketergantungan tunggal pada rokok dan masuk ke infrastruktur dengan dua proyek besar sekaligus, yaitu Bandara Dhoho dan Jalan Tol Kediri–Tulungagung. Bandara Dhoho resmi beroperasi sejak April 2024 dengan target jangka panjang kapasitas hingga 10 juta penumpang per tahun. Namun fakta di lapangan jauh dari harapan.
Sejak awal hanya satu maskapai yang masuk, yaitu Citilink, dengan frekuensi yang minim. Dan sejak Juni 2025 seluruh penerbangan dihentikan karena armada Citilink sedang menjalani perawatan. Hingga 31 Juli 2025, bandara tetap buka namun tidak ada satu pun aktivitas penerbangan. Terminal berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun kosong total. Tidak ada maskapai lain yang masuk. Tidak ada progres berarti untuk membuka rute internasional atau umrah seperti yang sempat diwacanakan.
Sementara itu proyek Jalan Tol Kediri–Tulungagung juga tidak lebih baik. Segmen akses bandara sepanjang 6,82 km ditargetkan rampung dan beroperasi Oktober 2025, namun data terakhir menunjukkan progres pembebasan lahan baru 41,2% dari total 87,6 hektar per November 2024. Untuk segmen utama sepanjang 37,35 km malah lebih belum jelas. Proses lahan masih tersendat dan proyek ini melintasi 23 desa di 3 kecamatan yang memiliki potensi penolakan sosial.
Dalam kondisi seperti ini target penyelesaian pada 2025 tampak berat. GGRM telah menyuntikkan dana Rp7 triliun pada 2023 dan menambah Rp1,5 triliun lagi pada Mei 2025 ke anak usaha mereka PT Surya Sapta Agung Tol. Total Rp8,5 triliun telah dikucurkan hanya untuk proyek tol. Bandara sendiri menyedot Rp15 triliun. Semua menggunakan dana internal. Tidak ada pendanaan eksternal. Tidak ada pembiayaan APBN. Tidak ada revenue balik yang masuk hingga saat ini.
Di sisi pasar saham, harga GGRM turun dari Rp18.550 di 2024 menjadi Rp9.000 per akhir Juni 2025. Koreksi 50% dalam waktu 1 tahun ini bukan sekadar refleksi IHSG atau tekanan makro, tapi murni karena krisis internal dan ketidakpastian arah bisnis perusahaan. Di tengah krisis ini manajemen justru mengumumkan pembagian dividen tunai Rp500 per saham atau setara Rp962 miliar dari laba 2024 yang tinggal Rp980 miliar. Dividen yang dibagikan hampir menyamai laba bersih, memperlihatkan tekanan likuiditas yang besar. Ini mungkin ditujukan untuk menjaga loyalitas investor, tapi secara fundamental langkah ini justru mempersempit ruang napas GGRM untuk bertahan lebih lama
Tidak hanya itu, dari sisi hulu, GGRM juga memangkas pembelian tembakau dari petani Temanggung sejak akhir 2024. Alasannya stok yang mereka miliki cukup untuk kebutuhan 4 tahun ke depan. Tapi efeknya brutal. Petani kehilangan pembeli utama. Stok menumpuk di gudang. Harga di tingkat petani jatuh. Dan seluruh ekosistem hulu yang dulu menopang kekuatan GGRM kini terguncang. Langkah efisiensi yang terlihat rasional dari sisi internal justru menimbulkan efek sosial yang bisa menggerus citra dan kepercayaan stakeholder.
Manajemen masih dikuasai keluarga. Susilo Wonowidjojo dikukuhkan kembali sebagai Presiden Direktur. Juni Setiawati Wonowidjojo menjadi Presiden Komisaris. Struktur tidak berubah. Strategi pun tampak bertahan di jalur yang sama. Padahal kondisi berubah cepat. Dan tekanan yang dihadapi sekarang sangat berbeda dari masa keemasan GGRM 10 tahun lalu.
Bagi investor yang masih memegang harapan, ada 3 titik krusial yang harus diperhatikan. Pertama, Citilink atau maskapai lain benar-benar kembali beroperasi di Bandara Dhoho setelah 31 Juli 2025. Kedua, proyek tol akses bandara selesai tepat waktu Oktober 2025 agar bisa memicu trafik penumpang bandara.
Ketiga, dalam 3–5 tahun ke depan proyek bandara dan tol mulai menghasilkan arus kas yang signifikan. Karena semua proyek dijalankan lewat anak usaha yang 100% dikendalikan GGRM, potensi laba bisa langsung dikonsolidasikan ke induk. Kalau skenario ini berjalan sesuai harapan, GGRM bisa muncul sebagai entitas infrastruktur yang mandiri dan bebas dari ketergantungan pada industri rokok.
Namun bagi investor pesimis, semua sinyal peringatan sudah menyala. Core business menyusut drastis. Proyek baru belum ada hasil. Dividen justru menyerap hampir seluruh laba. Arus kas keluar triliunan tanpa pendapatan balik. Harga saham longsor. Dampak sosial mulai terasa. Dan waktu makin tidak berpihak.
Jika Citilink tak kembali, jika tol molor, jika tidak ada maskapai lain yang masuk, maka proyek infrastruktur ini akan berubah menjadi beban jangka panjang yang bisa menggerus kekuatan finansial GGRM secara permanen.
GGRM saat ini menghadapi triple threat. Bisnis rokok stagnan. Proyek bandara vakum. Tol belum selesai. Keuangan makin sempit. Harga saham tertekan. Ekosistem hulu terganggu. Dan semua ini terjadi bersamaan. Harapan memang masih ada. Tapi harapan itu kini sepenuhnya bergantung pada ketepatan waktu penyelesaian proyek dan munculnya pendapatan baru dari sektor non-rokok.
Jika dua hal itu gagal, GGRM akan menjadi studi kasus klasik tentang bagaimana ekspansi besar-besaran justru mempercepat kejatuhan perusahaan yang gagal beradaptasi. Saat ini GGRM sedang berjalan di atas tali yang tipis dan waktu terus berlari ke arah yang tidak menguntungkan.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.


