Banyak orang masih terbuai angka laba di laporan keuangan, seolah-olah kalau laba naik, berarti perusahaan makin kuat. “Wah, laba ANTM naik Rp1,1 triliun! Mantap!” Padahal, kalau gak paham bedanya laba akuntansi dan laba cashflow, ya siap-siap aja ketipu angka di atas kertas.
Laba akuntansi itu angka yang muncul di laporan laba rugi, dihitung berdasarkan standar akuntansi seperti PSAK. Ini bukan duit beneran, tapi sekadar angka yang diakui sebagai pendapatan atau keuntungan. Perusahaan bisa kelihatan cetak laba miliaran bahkan triliunan, tapi kalau cashflow-nya kosong, ya sama aja bohong. Mau bayar utang pakai angka di laporan? Gak bisa, bos!
Sebaliknya, laba cashflow adalah duit asli yang masuk ke kas. Ini yang sebenarnya penting, karena kalau cashflow positif, berarti perusahaan beneran ada uang buat bayar gaji, beli bahan baku, atau bagi dividen. Kalau cashflow negatif? Ya siap-siap jual aset atau gali utang baru.
Sekarang, mari lihat contoh Antam dan potensi “keajaiban” laba Rp1,1 triliun di 2025. Ini bukan karena mereka jualan emas lebih banyak atau bisnisnya makin moncer. Nope. Ini murni karena trik akuntansi bernama pembalikan provisi.
Di 2022-2023, Antam masih ribet urusan gugatan Budi Said. Mereka takut kalah dan harus bayar 1,1 ton emas (setara Rp1,1 triliun), jadi mereka pakai aturan PSAK 57 (Provisi dan Liabilitas Kontinjensi) buat nyisihin Rp1,1 triliun dari laba sebagai cadangan. Secara kas, duitnya masih ada, tapi di laporan laba rugi, angka labanya jadi lebih kecil.
Maret 2025, boom! Antam menang PK kedua! Gak perlu bayar 1,1 ton emas, berarti duit yang tadinya dicadangkan bisa dibebaskan. Secara aturan, kalau liabilitas yang sudah dicadangkan gak jadi terjadi, provisinya harus dibalik jadi laba.
Jadi, angka laba Antam langsung naik Rp1,1 triliun, tapi kas tetap gak nambah sepeser pun. Biar gampang, bayangkan gini
2023: Ada duit laba Rp10 juta, tapi karena kamu takut kena denda parkir Rp5 juta, jadi duit 10 juta tadi dipisahin 5 juta. Sehingga secara akuntansi, “hanya” punya Rp5 juta.
2025: Ternyata gak kena denda! Duit Rp5 juta yang sudah dipisahkan di 2025 untuk awalnya bayar denda bisa diklaim balik. Apakah jadi lebih kaya? Enggak, karena duitnya dari dulu juga udah ada.
Nah, Antam juga gitu. Laba akuntansi naik, tapi cashflow tetap sama. Kalau lihat laporan keuangan nanti dan liat laba melonjak, jangan langsung GR. Ini bukan duit baru, cuma angka yang dipindah-pindah dari satu akun ke akun lain.
Kalau Antam memang dapet duit beneran, itu baru namanya cashflow. Tapi sekarang? Mereka cuma menang angka, bukan menang cash. Mau bagi dividen dari laba akuntansi? Silakan, asal siap-siap kalau duitnya ternyata gak ada!
Jadi, kalau ada yang bilang, “Antam laba gede nih, cashflow pasti bagus!”, kasih tahu: “Lihat laporan arus kas dulu, bos! Jangan gampang ketipu angka akuntansi!” Perusahaan yang “Terlihat Laba”, tapi Cashflow Bleeding
Banyak yang masih percaya kalau laba akuntansi tinggi = perusahaan sehat. Padahal, ada banyak perusahaan yang kelihatan untung di laporan keuangan, tapi cashflow mereka sekarat bertahun-tahun. Contoh klasik? WSKT, WSBP, WIKA, SRIL, PBRX, TELE.
Mereka bertahun-tahun pamer laba di laporan keuangan, tapi duitnya gak ada. Ujung-ujungnya? Utang numpuk, gak bisa bayar, lalu gagal bayar.
Gimana cara mereka laba akuntansi?
1. Pendapatan diakui walaupun duit belum masuk. Jadi bisa aja jualan proyek atau barang, tapi duitnya baru cair 2-3 tahun lagi. Laba di kertas ada, tapi kas kosong.
2. Depresiasi dan amortisasi bikin laba kelihatan lebih bagus. Cara klasik biar angka terlihat cantik, padahal gak ada cash masuk.
3. Pencadangan gak cukup buat tutup utang dan kerugian. Tetap kelihatan untung, tapi arus kas terus negatif.
Coba lihat WSKT dan WSBP. Mereka bertahun-tahun mengaku laba, tapi buat biayai operasional, harus utang terus. Laba di laporan ada, tapi cashflow negatif. WSBP akhirnya gagal bayar dan sahamnya disuspend. WSKT juga gak jauh beda, harus restrukturisasi utang karena “laba akuntansi” gak bisa dipakai buat bayar utang beneran.
WIKA? Laba akuntansinya masih ada, tapi cashflow udah ngos-ngosan. Buat nutupin, harus terus cari utang baru. Gak kuat bayar? Ya siap-siap default.
Kasus paling sadis? SRIL dan PBRX. Bertahun-tahun mereka pamer laba, tapi cashflow negatif terus. Ujungnya? SRIL dipailitkan Pengadilan Negeri Semarang pada 21 Oktober 2024. Mereka sempat ajukan kasasi ke Mahkamah Agung, tapi ditolak pada 18 Desember 2024, artinya pailit tetap berlaku. PBRX? Tinggal nunggu waktu
Jangan lupa TELE. Ngaku laba terus, tapi cashflow negatif, utang numpuk, endingnya? Gagal bayar dan kena suspend. Jadi jangan buru-buru senang sama laba akuntansi.
Lihat cashflow operasional. Kalau tiap tahun negatif tapi masih ngaku laba? Itu alarm bahaya. Bisa aja perusahaan cuma hidup dari gali lubang tutup lubang—utang lama ditutup pakai utang baru sampai akhirnya kehabisan napas.
Jadi, kalau ada perusahaan ngaku untung tapi tiap tahun utang makin banyak, pertanyaan pertama yang harus diajukan: Ini untung beneran, atau cuma angka di laporan keuangan?


