ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Radar 22 September 2021: Kisah Jepang

Skydrugz Radar 22 September 2021: Underestimate Kisah Bubble Jepang

Penilaian saya tentang Evergrande sudah saya bahas di postingan sebelumnya. Poin utamanya adalah emiten yang saya hold tidak ada hubungannya langsung dengan Evergrande. Selama emiten yang kita punya adalah low debt dan rich cash maka nothing to worry.

Tapi yang perlu kita ingat adalah di market kita tidak hidup sendiri. Ada banyak pelaku pasar lain yang mungkin saja akan bereaksi secara berbeda dengan kita. Dan ada baiknya kita tidak pernah underestimate suatu persoalan yang melibatkan banyak duit. 300 Miliar dollar atau 4000 Triliun rupiah itu adalah duit yang sangat banyak. Kalau kita hanya melihat masalah Evergrande secara isolated di Evergrande itu sendiri, kelihatannya ini masalah yang mudah. Tinggal bailout, problem solved. Yang seringkali sulit kita nilai adalah spill over effect nya. Kita tahu bersama, Evergrande bukanlah satu-satunya perusahaan property di China yang overleverage. Lalu kebijakan China yang membuat batas atas harga property membuat para developer tidak bisa lagi menjual harga property di harga super mahal. Dan sejak 2020, makin banyak perusahaan property China yang bangkrut. Di 2020 ada 390 perusahaan property bangkrut di China, di 2021 sudah 220 perusahaan property bangkrut.

Dan utang Evergrande yang 300 milyar dollar hanya yang tercatat di Laporan Keuangan. Tip of iceberg. Karena ternyata Evergrande juga melakukan shadow banking seperti yang pernah dilakukan oleh MYRX di masa lalu. Utang yang dihimpun oleh Evergrande itu off balance sheet alias tidak tercatat di laporan keuangan. Untuk mendanai proyek, Evergrande menghimpun dana publik dengan menawarkan produk investasi fixed Income. Di Indonesia, kegiatan shadow banking seperti Evergrande juga banyak dilakukan.

Meskipun banyak yang meremehkan Evergrande, saya sendiri tidak ingin ikut – ikutan underestimate efek Evergrande karena spill over effect Evergrande belum sepenuhnya kita pahami. Tapi saya juga tidak ingin menjadikannya sebagai concern utama. Rule thumb di masa – masa yang penuh ketidakpastian adalah stick to the cash rich and low debt.

Meremehkan bisa menimbulkan false sense of security. Di 2008, meskipun krisis subprime mortgage tidak berefek langsung pada Indonesia, IHSG tetap saja anjlok parah. Perusahaan yang high leverage seperti BUMI juga terkena imbas tidak langsung dari krisis subprime mortgage di 2008 dan sampai sekarang mereka belum berhasil recovery. Yang ditakutkan dari setiap krisis adalah credit crunching. Duit bank nyangkut di bad debt hingga akhirnya gagal mendanai perusahaan lain yang lebih sehat dan produktif.

Evergrande meskipun tidak berefek secara langsung pada ekonomi Indonesia tetap saja kita tidak bisa mengendalikan reaksi pelaku market. Jika pemerintah China tidak melakukan bailout dan Evergrande default maka 120 bank akan mencatatkan bad debt alias kredit macet di balance sheet mereka. Credit crunch.

Krisis 2008 juga berawal dari The Fed yang meremehkan situasi di 2007. Di 2007 waktu mulai banyak subprime mortgage yang default, Ben Bernanke, petinggi The Fed, mengatakan bahwa itu bukan masalah besar bagi ekonomi, default subprime mortgage tidak akan melukai ekonomi. Yang tidak diketahui oleh Ben Bernanke adalah spill over effect CDO dan synthetic CDO. Akibat tindakan meremehkan seperti ini, krisis keuangan 2008 terjadi and the rest is history.

Awal 2020 juga banyak pelaku market yang meremehkan Covid-19. And the rest is history.

Strategi nya tetap sama. Never underestimate. Never all in. Always selot selot.

Kisah Jepang

Setelah krisis akan ada rebound. Cuma masalahnya kita tidak tahu kapan akan rebound. Tiap negara punya masa recovery market yang berbeda. Waktu Covid-19, IHSG rebound terjadi dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun. Sedangkan Nikkei Jepang, housing bubble di 1989-1991, recovery baru terjadi di 2020. Market bertahun-tahun downtrend dan sideways.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah China saat ini yang ingin menekan spekulasi di sektor property, sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Jepang di 1989-1991. It didn’t end well. Pemerintah Korea Selatan juga mulai khawatir, kondisi yang sama akan terjadi di negara mereka. Di 1989, semua orang mengira Jepang akan melewati Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia. Tapi ternyata Jepang kolaps karena spekulasi yang berlebihan dan overleverage. Di masa jayanya, harga tanah Jepang = 4x harga tanah seluruh Amerika Serikat. Padahal luas Jepang lebih kecil dari luas Amerika Serikat. Saat ini China memiliki kesamaan kisah dengan Jepang di 1989. Banyak perusahaan yang tumbuh karena over leverage, pakai utang berlebihan dan pemerintah China khawatir dengan kondisi tersebut lalu mulai mengambil berbagai tindakan untuk mengurangi over leverage. Apakah China akan menjadi seperti Jepang di 1989? Time will tell.

Perusahaan Konstruksi Dengan Cadangan Kas Terbesar di Bursa

WIKA adalah perusahaan dengan cadangan kas paling besar di bursa saat ini. Dengan cadangan kas 7,5 Triliun, nilainya jauh lebih besar dari perusahaan konstruksi lain seperti PTPP dan WSKT.

Sayangnya utang berbunga WIKA juga lumayan besar, tembus 24,6 Triliun. Setidaknya cadangan kas WIKA bisa cover 30% utang berbunganya. Menurut saya ini masih dalam batas wajar. Kondisi serupa juga dialami oleh PTPP. Cadangan kas nya hanya bisa cover 30% utang berbunga. Tapi setidaknya WIKA dan PTPP memiliki ruang refinancing yang cukup luas untuk bisa survive. Yang kondisinya agak riskan menurut saya adalah WSKT dan ADHI. Kas ADHI hanya bisa cover 6% utang berbunga sedangkan WSKT hanya bisa cover 5% utang berbunganya. WSKT dan ADHI harus right issue atau jual aset agar bisa melakukan deleverage.

Perusahaan Konstruksi yang menurut saya sehat adalah WEGE dan NRCA. Sedangkan yang super sehat adalah TOTL, zero interest bearing debt.

Saham Kas Utang Berbunga  PBV Harga
WIKA 7,566.76 B 24,677.70 B 0.71 1,095.00
PTPP 5,473.59 B 17,965.81 B 0.60 1,045.00
WSKT 3,640.96 B 67,715.77 B 1.47 830.00
SSIA 1,061.99 B 1,652.68 B 0.67 515.00
WEGE 791.51 B 766.52 B 0.82 192.00
BUKK 682.72 B 778.59 B 0.89 1,015.00
ADHI 670.93 B 10,538.83 B 0.57 885.00
TOTL 581.38 B 0.92 312.00
JKON 564.42 B 629.40 B 1.10 172.00
NRCA 518.37 B 200.39 B 0.66 296.00
PPRE 278.94 B 2,002.94 B 1.01 216.00
Skydrugz Bot Radar
  • Cara menggunakan Radar ini bisa cek di sini
  • Di radar sebelumnya 25 saham yang masuk radar. Namun di radar kali ini naik jadi 30 saham. Radar mulai ramai tapi mayoritas masih dihuni oleh perusahaan dengan market cap <100 Triliun. Sisa HMSP perusahaan big cap yang masuk radar. BBRI UNVR yang kemarin masuk radar sudah exit. Belum bisa dikatakan diskon. Saat ini ada 12 emiten saja yang memiliki market cap di atas 100 Triliun. Kalau hanya 1 yang masuk radar, itu artinya market masih baik – baik saja. Kecuali big cap yang masuk radar lebih dari 6 emiten
  • HRTA radar hari-12. ASB Play. Nyaris 2 minggu HRTA masuk radar. Entah ada masalah apa di HRTA hingga masuk radar terus.
  • ARCI radar hari ke-10
  • GJTL radar hari ke-9
  • BCAP radar hari ke-9
  • INDF Radar Hari ke-6
  • UNVR sudah exit. Hanya masuk radar hari ke-5
  • INCO radar hari 4
  • GGRM radar hari 4
  • HMSP Radar Hari 2
  • BBRI keluar. Hanya masuk radar hari 3
  • ACES radar hari 4
  • PNBN Radar Hari 3
  • MCOR Radar Hari 3
  • AUTO Radar Hari 2
  • DSNG Radar Hari 2
  • SMGR radar hari 1
  • MNCN radar hari 1

Jika ingin mendapatkan data analisis Laporan Keuangan Kuartalan bisa pesan di sini atau menghubungi Whatsapp Admin Pintarsaham.id +62 831-1918-1386

Untuk konsultasi perencanaan keuangan atau Financial Planning dari Certified Financial Planner Tim Pintarsaham.id bisa juga melakukan reservasi via Whatsapp +62 831-1918-1386

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini atau hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386 atau dengan Buka rekening saham di Sucor Sekuritas di sini dengan menggunakan referal TIRA2. Sedangkan jika ingin Trading Kripto bisa daftar di sini

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply