ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Definisi Saham Undervalued

Di berbagai sosial media banyak yang bertanya mulai dari Telegram hingga Stockbit, banyak investor newbie yang bertanya pada saya mengenai definisi Saham Undervalued.

Mengenal Nilai Pasar atau Nilai Buku
Mengenal Nilai Pasar atau Nilai Buku

Undervalued istilah sederhananya adalah saham murah dimana nilai intrinsik nya atau nilai asetnya jauh lebih besar dari nilai pasarnya.

Undervalued Dari Sisi Laba

Sebagai contoh sebuah perusahaan ABCD bisa mencetak laba 100 Milyar dalam setahun, tapi market hanya menghargai perusahaan ini 50 miliar.

Lalu ada perusahaan WXYZ bisa mencetak laba 500 Milyar dalam setahun tapi di hargai market 10 Triliun.

Antara perusahaan ABCD dan WXYZ, mana yang undervalued?

Kalau secara matematika sederhana, yang Undervalued adalah perusahaan ABCD karena untuk mendapatkan laba 1 rupiah perusahaan ABCD kita hanya perlu membayar sebanyak = 50 milyar/100 Milyar = 0,5 rupiah.

Bandingkan dengan perusahaan WXYZ, untuk mendapatkan laba 1 rupiah di perusahaan WXYZ kita harus membayar sebanyak = 10 Triliun/500 Milyar = 20 rupiah.

Undervalued Dari Sisi Aset

Sebuah perusahaan yang memiliki aset 20 Triliun yang terdiri atas 10 Triliun ekuitas dan 10 Triliun liabilitas jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan perusahaan dengan asset 20 Triliun juga tapi dengan 19 Triliun ekuitas dan 1 Triliun liabilitas.

Meskipun sama-sama punya aset dengan jumlah yang sama, perusahaan yang punya lebih banyak ekuitas jauh lebih undervalued dari sisi aset ketimbang perusahaan yang punya lebih banyak liabilitas.

Indikator Apa Yang Dapat Digunakan Untuk Menilai Undervalued Atau Tidak Suatu Saham?

Secara sederhana ada 3 indikator yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu saham Undervalued.

1. PBV atau Price To Book Value

2. PER atau Price to Earning Ratio

3. PFCFR atau Price to Free Cashflow Ratio

Kapan Menggunakan Ketiga Rasio di Atas?

Idealnya PBV digunakan untuk menilai valuasi perusahaan yang labanya tidak stabil atau yang labanya siklikal.
Contoh Valuasi TOTL menggunakan PBV di sini

PER digunakan untuk menilai valuasi perusahaan yang labanya stabil.
Contoh valuasi PER TOWR di sini.

PFCFR digunakan untuk menilai valuasi perusahaan yang menghasilkan free cashflow yang stabil.
Contoh valuasi PFCFR BISI di sini

Lalu Berapa Nilai Pasti Untuk Menentukan Apakah Suatu Perusahaan Undervalued?

Ada 2 metode untuk menentukan valuasi saham.

Pertama, bandingkan PER, PBV, PFCFR dengan perusahaan lain yang sejenis atau bergerak di bidang industri yang sama. Jika PER PBV PFCR perusahaan lebih rendah dari rata-rata rasio perusahaan yang sejenis maka perusahaan itu bisa saja undervalued.

Kedua, bandingkan rasio PER PBV PFCFR perusahaan dengan rasio nya di masa lalu.
Contoh valuasi historis IGAR di sini

Last Consideration

Tapi perlu diingat, jangan hanya tertumpu pada rasio PER PBV PFCR. Karena hanya menggunakan rasio saja bisa misleading dan berpotensi terjebak di saham value trap. Kelihatan murah tapi ternyata murahan.

Investor saham wajib melakukan analisis juga ke kualitas manajemen, kualitas asset, kualitas earning, dan kualitas cashflow. Karena perusahaan yang baik wajib memiliki keempat hal tersebut. Jika empat hal ini berkualitas, baru lihat rasio.

Leave a Reply