ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Valuasi Saham dengan Price to Free Cash Flow Ratio 

Menentukan Valuasi Saham Berdasarkan PFCR

Ada banyak metode valuasi, mulai dari yang populer seperti Price to Earning Ratio (PER), Price to Book Value hingga Price to Revenue Ratio (PRR). Pada pembahasan kali ini saya akan membahas salah satu ratio yang sederhana namun menurut saya powerful, yakni Price to Free Cashflow Ratio (PFCR). Ratio ini kurang populer digunakan oleh investor jika dibandingkan dengan ratio valuasi lain seperti PER dan PBV. Dalam pembahasan berbagai forum saham yang pernah saya ikuti, jarang saya temukan orang yang membahas penggunaan valuasi ini.

Cash Flow atau arus kas adalah jumlah uang yang diterima perusahaan sebagai hasil menjalankan bisnis.

Semua perusahaan mendapat uang, tapi beberapa mengeluarkan uang lebih banyak untuk itu di banding yang lain. Ini yang membuat perusahaan seperti Phillip Morris menjadi perusahaan yang luar biasa jika dibandingkan dengan perusahaan baja atau pun perusahaan penerbangan.

Valuasi Saham dengan Price to Free Cash Flow Ratio
Valuasi Saham BISI dengan Price to Free Cash Flow Ratio

Perusahaan yang membakar uang untuk mendapat uang tidak akan melangkah jauh. Mayoritas perusahaan yang membakar kas dalam jangka panjang akhirnya terjerat utang atau malah bangkrut.

Tidak banyak investor Indonesia yang menggunakan angka cash flow untuk menghitung saham. Saham dengan harga 200 rupiah/saham dan cash flow 20 rupiah/saham akan menghasilkan nilai rasio 10:1 yang mana ini bisa disebut Undervalued. Perusahaan dengan rasio 20:1 adalah fair price.

Dan jika anda menemukan saham dengan harga 20 rupiah/saham dan cash flow 10 rupiah/saham maka belilah sebanyak mungkin saham yang bisa ditemukan.

Tidak ada gunanya diperpanjang, tapi jika anda membeli berdasarkan cash flow, pastikan ini adalah free cash flow, yaitu uang lebih yang sudah dikurangi pengeluaran rutin. Ini adalah uang yang tidak anda gunakan. Dan pastikan free cashflow tersebut bisa digunakan untuk membayar utang perusahaan.

Untuk mendapatkan nilai free cashflow kita bisa lihat di laporan keuangan.

Valuasi BISI

Saya ambil contoh saja BISI. Mati kita coba hitung valuasi perusahaan ini dengan PFCR.

Saya menggunakan rujukan laporan keuangan full year 2019.

Dari laporan keuangan BISI full year 2019

Perusahaan ini memiliki arus kas operasional 370,396 milyar.

Lalu capex perusahaan ini adalah 21,184 miliar.

Sehingga arus kas bebas (free cashflow) perusahaan ini adalah 349,212 milyar rupiah.

Jumlah saham beredar perusahaan ini adalah 3 milyar lembar

Sehingga arus kas bebas/saham perusahaan ini adalah 116,404 rupiah/lembar.

Jika kita bersumsi bahwa di tahun 2020 dan 2021 BISI berhasil mengumpulkan cashflow yang sama seperti di tahun 2019 maka rasio harga BISI yang sekarang 1145 rupiah/lembar dengan arus kas 116,404 rupiah/lembar saham adalah 9,8:1.

Yang mana ini masih di bawah nilai standar Undervalued seperti yang disebutkan Peter Lynch yaitu 10:1.

Jika menggunakan rasio 10:1 maka harga wajar BISI adalah 1160 rupiah per lembar saham.

Sehingga dengan begitu, Margin of Safety BISI di harga sekarang adalah 1,3%.

Tapi sekali lagi perlu diingat bahwa valuasi tersebut bisa benar hanya jika BISI mampu menghasilkan arus kas yang serupa dengan arus kas 2019.

Jika perusahaan menghasilkan arus kas yang lebih rendah atau lebih tinggi dari arus kas 2019, maka kita harus melakukan adjustment dalam teknik valuasi kita. Itulah pembahasan Valuasi Saham dengan Price to Free Cash Flow Ratio.

Disclaimer on

Leave a Reply