ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami
Analisis Rasio Fundamental Perusahaan

Sahabat Pintarsaham pastinya mengetahui istilah analisis fundamental. Analisis fundamental merupakan salah satu metode untuk menilai suatu saham berdasarkan karakteristik dan performa dari perusahaan tersebut.

Basis yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan perusahaan dengan melihat 3 hal penting, diantaranya kinerja dan kondisi perusahaan, harga wajarsaham, evaluasi saham secara rutin.

Untuk melakukan ketiga hal tersebut, investor biasanya menggunakan rasio keuangan untuk memudahkannya dalam menganalisis perkembangan perusahaan dan menetapkan keputusan berinvestasi.

Rasio keuangan dapat diartikan sebagai suatu metode analisis keuangan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada masing-masing pos di laporan keuangan perusahaan. Rasio keuangan memiliki fungsi vital sebagai landasan penentuan keputusan. Adapun fungsi rasio keuangan sebagai berikut:

  1. Mengetahui optimalisasi keuangan
  2. Menganalisis efektivitas manajemen operasional
  3. Melihat optimalisasi penggunaan aset
  4. Mengetahui tingkat kesehatan perusahaan
  5. Menganalisis kemampuan perusahaan untuk berkembang

Untuk memahami lebih dalam terkait rasio keuangan, maka penulis menggunakan contoh emiten ICBP (PT Indofood Sukses Makmur, Tbk). Rasio-rasio yang dibahas berupa Price to Free Cash Flow, Enterprises Value, EV/EBITDA, EV/EBIT, Net Income/Employee, Inventory Turnover, dan Cash Conversion Cycle.

Rasio Fundamental ICBP
Rasio Fundamental ICBP

Tabel 1. Ringkasan Analisis Rasio ICBP (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Price to Free Cash Flow = Market Cap/Free Cashflow

Rasio Free Cash Flow
Rasio Free Cash Flow (FCF) ICBP

Tabel 2. Price to Free Cash Flow ICBP (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Rasio ini merupakan perbandingan antara kapitalisasi pasar dengan free cash flow atau perbandingan antara harga pasar per saham perusahaan dengan FCF per saham. Rasio ini mirip dengan Price to Cash Flow, akan tetapi rasio Price to Free Cash Flow pengukurannya lebih ketat dengan mengeluarkan Capital Expenditure dari Operating Cash Flow sehingga merefleksikan arus kas aktual yang tersedia untuk mendanai pertumbuhan non aset.

Berdasarkan Tabel 2. didapatkan bahwa P/FCF ICBP fluktuatif dari tahun 2017 hingga 2018. Rasio ini meningkat pada tahun 2018 yang awalnya 30.73 (2017) menjadi 113.75. Kemudian menurun signifikan menjadi 24.29 di tahun 2019.

Nilai P/FCF yang lebih rendah menandakan bahwa perusahaan tersebut undervalued dan sahamnya relatif murah. Nilai yang lebih tinggi menunjukkan perusahaan yang dinilai terlalu tinggi (overvalued).

  • Enterprises Value (EV)

EV = Market Cap + Total Debt – Cash and Cash Equivalent

Enterprise Value ICBP
Enterprise Value ICBP

Tabel 3. Enterprise Value (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Enterprise Value mengukur total value dari perusahaan yang lebih komprehensif dibandingkan Market Capitalization. EV ini menghitung kapitalisasi pasar perusahaan dengan memperhitungkan utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan kas dari laporan neraca. EV digunakan sebagai basis dalam mengukur performa perusahaan, semakin tinggi semakin baik. Secara historical, ICBP memiliki EV yang meningkat dari tahun 2017 hingga 2019 yakni Rp106,628 Miliar, Rp129,198 Miliar, dan Rp134,134 Miliar.

  • EV/EBITDA

EV/EBITDA =Enterprise Value/EBITDA

EBITDA = Recurring Earnings from Continuing Operations + Interest + Taxes + Depreciation + Amortization

Rasio ini berguna dalam beberapa situasi, seperti:

  • Membandingkan perusahaan dengan tingkat leverage keuangan yang berbeda (rasio lebih baik dibandingkan P/E)
  • EBITDA dapat digunakan untuk menilai capital-intensive businesses dengan tingkat depresiasi dan amortisasi yang tinggi
  • Nilai EBITDA biasanya positif meskipun EPS perusahaan tidak.

Semakin kecil nilai rasio ini, maka semakin murah (undervalued) perusahaan tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi nilainya maka perusahaan dikategorikan mahal (overvalued). Pada Bank BCA, EV/EBITDA-nya terus meningkat dari tahun 2017 hingga 2019 sehingga dapat disimpulkan nilai perusahaan di pasar semakin mahal.

  • EV/EBIT

EV/EBIT =

EBIT = Recurring Earnings from Continuing Operations + Interest + Taxes

Enterprise Value
Enterprise Value

Tabel 4. EV/EBIT (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

 EV/EBIT juga digunakan untuk menentukan harga saham perusahaan tergolong tinggi atau terlalu rendah. EV/EBIT biasanya digunakan untuk membandingkan nilai relatif dari bisnis yang berbeda. EV/EBIT berbeda dengan EV/EBITDA karena tidak mencakup nilai depresiasi dan amortisasi perusahaan. Rasio yang tinggi berarti saham perusahaan dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah menandakan perusahaan tergolong undervalued yang artinya harga saham di pasar lebih rendah dibandingkan nilai sebenarnya (intrinsic value). Ketika pasar memberikan nilai yang lebih sesuai, harga saham perusahaan perlahan naik. Jika dilihat pada ICBP, nilai EV/EBIT relatif menurun tetapi tidak signifikan selama 3 tahun dari 2017-2019.

  • Net Income/Employee

Net Income/Employee =Laba bersih/jumlah karyawan

"<yoastmark

Tabel 5. Net Income/Employee ICBP (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Net Income/Employee merupakan rasio yang mengukur besar laba yang dihasilkan dibandingkan dengan jumlah karyawan yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba tersebut. Rasio ini berguna untuk mengukur efisiensi manajemen dengan kata lain kemampuan manajemen mengelola sumber daya manusianya dengan efektif untuk menghasilkan profit. Oleh karena itu, semakin tinggi rasio ini, dapat dikatakan perusahaan semakin efisien mengelola sumber daya manusianya. Berdasarkan tabel di atas, Net Income/Employee ICBP mengalami peningkatan dari tahun 2017 hingga 2019. Oleh karena itu, efisiensi dalam manajemen sumber daya manusia ICBP dapat dikatakan semakin baik.

  • Inventory turnover

Inventory Turnover = COGS/Average inventory

"<yoastmark

Tabel 6. Inventory Turnover ICBP (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Inventory turnover adalah rasio yang menggambarkan jumlah perputaran inventory perusahaan dalam satu periode. Menghitung perputaran inventory dapat membantu perusahaan mengambil keputusan terkait harga, manufaktur, pemasaran, dan pembelian inventaris baru. Inventory turnover juga mengukur seberapa cepat perusahaan menjual persediaan. Perputaran yang rendah menyiratkan penjualan yang lemah dan kemungkinan persediaan yang berlebih atau disebut overstocking. Ini mungkin menunjukkan masalah dengan barang yang ditawarkan untuk dijual atau akibat dari pemasaran yang terlalu sedikit. Sebaliknya, turnover yang tinggi berarti penjualan yang kuat atau inventaris yang tidak mencukupi. Jika dikaitkan dengan emiten, ICBP memiliki rasio Inventory Turnover yang semakin menurun tiap tahunnya.

  • Cash Conversion Cycle

Cash Conversion Cycle = DIO + DSO – DPO

g.Cash Conversion Cycle
g.Cash Conversion Cycle ICBP

Tabel 7. Cash Conversion Cycle (2017-2019)

sumber: annual report, stockbit, estimasi penulis

Cash Conversion Cycle bertujuan untuk menilai efisiensi perusahaan dalam mengelola modal kerjanya. Semakin pendek siklus konversi kas, semakin baik perusahaan dalam menjual inventaris dan memperoleh kembali kas dari penjualan ini sambil membayar pemasok.

DIO (Days Inventory Outstanding)

DIO merupakan rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan dalam mengubah inventorynya menjadi penjualan (sales). Dapat diartikan juga sebagai jumlah rata-rata hari perusahaan menyimpan inventarisnya sebelum dijual.

DIO = (Average Inventory/COGS) x 365

DSO (Days Sales Outstanding)

DSO diartikan sebagai jumlah rata-rata hari yang dibutuhkan perusahaan untuk menagih seluruh piutangnya.

DSO =(Average Account Receivables/Total Sales) x 365

DPO (Days Payable Outstanding)

DPO adalah jumlah rata-rata hari yang dibutuhkan perusahaan untuk melunasi utang-utangnya.

DPO = (Average Account Payables/COGS)x 365

Berdasarkan tabel di atas, ICBP memiliki Cash Conversion Ratio yang semakin meningkat. Hal ini didorong oleh membaiknya DPO karena nilai DPO menurun sehingga ICBP semakin cepat membayar utang-utangnya dan penurunan DSO yang mengindikasikan perusahaan semakin cepat menagih piutangnya. Pada akun DIO, perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2017-2019 sehingga perusahaan membutuhkan waktu yang semakin lama untuk mengubah inventory-nya menjadi penjualan.

Penutup

Setelah menganalisis rasio-rasio di atas, Sahabat Pintarsaham masih perlu membandingkan rasio-rasio tersebut dengan rasio industrinya sehingga keputusan berinvestasi dapat dilakukan dengan lebih baik.

Selain itu, Anda juga perlu mengkolaborasikan rasio-rasio lainnya yang berdampak signifikan bagi keputusan berinvestasi. Perlu diingat, analisis makroekonomi juga diperlukan untuk mengetahui potensi perusahaan kedepannya.

 Oleh : Ni Putu Diah Anggreni (Instagram : @putudiah01)

Sumber:

https://accurate.id/akuntansi/rasio-keuangan/

https://www.investopedia.com/terms/p/pricetofreecashflow.asp

https://www.investopedia.com/terms/e/enterprisevalue.asp

https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/valuation/ev-ebit-ratio/#:~:text=The%20enterprise%20value%20to%20earnings,earnings%20(P%2FE)%20ratio

https://www.money-zine.com/definitions/investing-dictionary/income-per-employee/

https://www.investopedia.com/terms/i/inventoryturnover.asp

https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/accounting/cash-conversion-cycle/

Leave a Reply