ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Radar Retro 1 Agustus 2021: Kisah Lippo di MPPA dan LPPF

Skydrugz Retro: Kisah Lippo di MPPA dan LPPF

Investor saham wajib belajar dari sejarah karena seringkali apa yang terjadi di masa lalu terulang lagi di masa depan.

Kali ini saya coba mempelajari kembali kisah Lippo di MPPA dan LPPF. Mengapa? Karena setelah tidur selama beberapa tahun akhirnya saham Lippo kembali menggeliat. Kerjasama strategis antara Gojek x Tokopedia = GOTO dengan Lippo di MPPA benar-benar di luar dugaan banyak orang. Selama ini saya pikir Lippo akan merapat ke Grab karena OVO menjadi wallet utama di Grab. Lalu kemudian here comes Anthony Salim dan Sariatjmadja, peta persaingan langsung berubah. EMTK dan Salim Group bergabung dengan Grab. MLPL MPPA LPPF justru bergabung di ekosistem GOTO.

Perang Konglomerat di sektor teknologi benar-benar masif. Saya masih menunggu konglomerasi lainnya ikutan perang teknologi terutama dari konglomerasi Djarum dan konglomerasi Sinarmas. Djarum dan Simas sudah punya divisi teknologi juga tapi belum di blow up seperti Salim dan Lippo.

Tapi kali ini saya fokus saja dulu di Lippo karena mereka baru saja melakukan aksi korporasi pengalihan saham LPPF ke Auric Digital.

Pada 14 Juli 2021, Auric Digital Retail Pte Ltd resmi menjadi pemegang saham pengendali baru PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF). Kini, Auric menggenggam 840,77 juta saham atau setara 32 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Pengendalian ini merupakan hasil dari voluntary tender offer (VTO) atas saham LPPF yang dilakukan Auric Digital.

Siapa Auric Digital?

Auric Digital dikuasai oleh Auric Bespoke I Pte Ltd sebanyak 60% dan 40% sisanya dimiliki OUE Retail Holdings Pte Ltd. Adapun OUE Retail Holdings dikendalikan penuh oleh perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX).

Sementara Auric Bespoke dimiliki secara langsung oleh Auric Capital Holdings Ltd. Fka. Acme Vision International Ltd (BVI). Jika ditelusuri, Auric Capital Holding dikendalikan secara tidak langsung oleh Stephen Riady dan Andy Adhiwana.

Jadi sebenarnya ini mirip dengan aksi pindah dari kantong kiri ke kantong kanan.

Aksi yang dilakukan oleh Lippo ini mirip dengan kejadian di masa lalu.

Kisah Masa Lalu LPPF

Di masa lalu Matahari menjadi bagian dari MPPA. Lalu akibat banyak utang dan susah bayar utang, MPPA akhirnya menjual LPPF ke CVC. Ini terjadi di 2010.

Para pemegang obligasi dan sukuk PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) merestui  penjualan 90,76% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) kepada CVC senilai Rp 7,164 triliun.

Saat itu, MPPA memiliki 3 buah surat utang, terdiri dari Obligasi MPPA II Tahun 2009 dengan jatuh tempo 2012/2014 senilai Rp 302 miliar, Sukuk Ijarah MPPA II Tahun 2009 dengan jatuh tempo 2012/2014 senilai Rp 226 miliar dan Obligasi Senior berdenominasi dolar AS senilai US$ 200 juta yang jatuh tempo pada 2012.

MPPA melakukan pelunasan seketika atas 3 obligasi tersebut sebagai bagian dari rencana penggunaan dana hasil penjualan 90,76% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) senilai Rp 7,2 triliun. Dana tunai yang diterima MPPA sebesar Rp 5,3 triliun, sisanya dalam bentuk piutang Rp 1 triliun dan 20% saham dalam Meadows Asia Capital.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya di PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) kepada Meadows Asia Company (MAC) senilai Rp 7,164 triliun.

Sebelum transaksi ini, MPPA merupakan pemilik 2.648.220.000 saham (90,76%) LPPF. MPPA memang sedang melakukan restrukturisasi portofolio anak usahanya.

MPPA kemudian menggandeng CVC Capital Partners, private equity asing guna menggarap usaha departemen store perseroan. MPPA dengan CVC membentuk anak usaha baru bernama MAC.

MPPA menguasai 20% saham MAC, sedangkan CVC memiliki 80% saham di MAC. Perusahaan patungan ini secara khusus mengelola lini bisnis departemen store MPPA.

MAC mengambil alih 90,76% saham LPPF dari MPPA seharga Rp 2.705,33 per saham.

Sounds familiar dengan kondisi sekarang Ketika Auric Digital masuk lagi?

Di 2010 kepemilikan CVC dan Lippo di LPPF tembus 80%.

Dan kemudian harga saham LPPF meroket dari 2000 ke 15.000 lalu CVC serta Lippo exit pelan – pelan. Sampai puncak di 2017-2018 saham publik di LPPF menjadi 80% sedangkan sisanya adalah milik MLPL. CVC bagger di LPPF. Dan kemudian LPPF anjlok dari 15k ke 1000 di 2020.

Sekadar mengingatkan, CVC membeli saham LPPF dari MPPA dan Pacific Asia Holdings Ltd. MPPA menjual 90,76% saham, sedangkan Pacific Asia melego sekitar 7,24% saham LPPF. Alhasil, CVC menguasai sekitar 98,15% saham LPPF.Harga pembelian saat itu tercatat sebesar Rp 2.705,33 per saham, atau 100% lebih tinggi dari harga saham LPPF sehari sebelum transaksi itu diteken pada Januari 2010. CVC lantas menawarkan tender offer di harga Rp 2.706 per saham.

CVC Capital Partners lalu menjual 12% saham LPPF dalam dua kali transaksi di 2015.

Dalam transaksi pertama, CVC langsung melepas 8% saham LPPF di harga rerata Rp 15.400 per saham. CVC lalu menjual 4% saham lagi secara langsung ke satu investor.

Itulah mengapa CVC doyan jadi partner Lippo karena mereka selalu bagger. Sekarang mereka akan bagger di LINK dan mungkin nanti akan bagger juga di SILO. Karena CVC punya saham di LINK dan SILO.

Jika history repeat itself, Lippo lewat Auric Digital akan kembali menjadi pemilik saham terbesar di LPPF lalu the rest is history.

Pelajaran yang bisa diambil adalah jadi lah seperti CVC dan Lippo, serok di bawah lalu jual di pucuk.

Skydrugz Bot Radar
  • Ada 30 saham yang masuk radar. Salah satunya LPPF dan MPPA. What a coincidence. LK Q2 2021 RALS MAPI MAPA sudah rilis dan hasilnya bagus. Bisa jadi LK Q2 2021 LPPF juga bakalan bagus. Zaman Covid-19 orang masih banyak yang belanja di mall.
  • Grup MNC lagi kena markdown berjamaah. KPIG MNCN BMTR IPTV semuanya kena markdown. Tapi saya prefer MNCN saja. Real cashflow grup MNC adalah MNCN.
  • Emiten farmasi TSPC dan KLBF juga terkena markdown padahal laba mereka masih tumbuh. Market agak gila.
  • Tak kusangka UNVR sudah 4200an. Tapi sayangnya PER belum 20. Contoh HMSP dong, PER sudah 15  Ayo semangat ke PER 10.
  • ASII sudah 4720
  • Keluarga WIKA di markdown bareng semen INTP SMGR dan property SMRA CTRA
  • Bulan Agustus kali ini saya memutuskan mengakumulasi saja yang sama dengan bulan kemarin WIKA ELSA PGAS. Berhubung PTBA sudah naik di atas 2100 maka PTBA saya stop akumulasi dan sebagai gantinya saya akumulasi saja JRPT MNCN MAPI HMSP.
  • Sebenarnya kepengen akumulasi lagi PWON tapi saya diversifikasi saja ke emiten property lain yakni JRPT. PWON dan JRPT sama-sama memiliki Balance sheet yang sangat sehat.
  • Terlalu banyak pilihan. Terlalu banyak saham diskon. Big money semuanya lari ke saham teknologi. Saham yang mencetak laba gede kini krik krik krik. But that’s okay. Dalam jangka panjang, yang survive adalah yang mencetak laba. Time will tell.

Radar Agustus 2021

  • Fokus akumulasi sampai duit habis.
  • JRPT target anjlok <300
  • ELSA target anjlok <100
  • WIKA target anjlok <500
  • HMSP target anjlok <500
  • MNCN target anjlok <500
  • MAPI target anjlok <300
  • PGAS target anjlok <500

Jika ingin mendapatkan data analisis kuartalan bisa pesan di sini dan jika ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini

Disclaimer:
  • Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply