ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Radar 26/07/2021: Kakao

Tidak semua perusahaan teknologi tercipta setara. Ada beberapa perusahaan teknologi yang diciptakan untuk terus – menerus merugi. Lalu datang Kakao Bank.

Perusahaan bank digital ini berdiri di 2016. 

Di 2019, perusahaan ini sudah cetak laba.

Di 2020, perusahaan ini sudah punya simpanan dana pihak ketiga lebih dari 20 Triliun Won atau sekitar 250 Triliun rupiah. Dan total pinjaman yang disalurkan juga lebih dari 20 Triliun Won atau sekitar 250 Triliun rupiah.

Hanya dalam jangka waktu 4 tahun, Kakao Bank sudah memiliki skala bisnis yang setara dengan bank buku 4 di Indonesia.

Sebagai perbandingan bank buku 4 di Indonesia hanya ada BBRI BMRI BBCA BBNI BNGA BDMN PNBN dan soon BTPN NISP yang kemungkinan besar akan jadi bank buku 4 di tahun depan jika aturan modal inti belum berubah.

Dan dana pihak ketiga Kakao Bank yang sekitar 250 Triliun itu jauh lebih besar dari dana pihak ketiga bank berikut ini:

  • BNGA 200 Triliun,
  • NISP 155 T
  • PNBN 138 T
  • BDMN 119 T
  • BTPN 90 T

Total pinjaman yang disalurkan oleh Kakao Bank yang 250 Triliun itu juga lebih besar total pinjaman dari bank seperti:

  • BBTN 223 Triliun
  • BNGA 157 T
  • BTPN 130 T
  • PNBN 114 T
  • NISP 108 T
  • BDMN 101 T

Dengan total pengguna aktif bulanan Kakao Bank yang mencapai 13 juta orang, perusahaan ini adalah cash machine paling ideal.

Yang membuat Kakao Bank bisa cepat besar seperti itu adalah ekosistem Kakao. Di Korea Selatan, Kakao sudah mencetak laba sejak zaman dulu kala karena menjadi salah satu perusahaan pertama yang berhasil memanfaatkan revolusi mobile phone. Dengan laba 167 milyar Won atau di 2,1 Triliun rupiah di 2020, menurut saya wajar saja underwriter nya memasang valuasi IPO yang bombastis. Potensi Kakao Bank bisa semakin besar jika mereka berhasil melakukan ekspansi ke negara lain seperti Indonesia. Seperti Line Bank sekarang sudah ada di Indonesia. Bukan tidak mungkin Kakao Bank juga akan ada di Indonesia. Mereka bisa saja mengakuisisi bank kecil yang ada di Indonesia untuk semakin memperluas ekspansi.

GOTO atau Gojek Tokopedia yang sudah memiliki bank ARTO mungkin saja akan mengikuti jejak Kakao. Super App yang menggurita ke berbagai bidang. Dan segmen finansial bisa menjadi penolong GOTO dari death valley burning cash perang e-commerce. Perang e-commerce sangat berat karena ada Shopee yang punya unlimited cash dari Garena. SEA bisa terus – menerus bakar duit di Shopee dengan menggunakan duit dari segmen entertainment Garena yang sudah profitable.

BUKA yang nanti IPO belum punya segmen profitable seperti SEA dan Kakao. Dengan duit IPO 22 Triliun, BUKA bisa menggunakannya untuk akuisisi bank kecil lalu membuat segmen finansial. Lalu akuisisi perusahaan media entertainment yang sudah profitable. Ikuti pathway Kakao yang profitable dari segmen entertainment dan finansial.

BUKA bisa akuisisi bank BINA, lalu menjadikannya sebagai divisi finansial lalu akuisisi SCMA dan menjadikannya sebagai divisi entertainment. Kebetulan BINA adalah perusahaan milik Anthony Salim yang ada afiliasi dengan EMTK yang notabene adalah pemilik BUKA. Ekosistem merchant dan pelanggan Bukalapak dijadikan nasabah BINA seperti rencana GOTO di ARTO. Dan kebetulan SCMA, yang juga milik EMTK, punya banyak treasury stocks hasil buyback yang bisa dengan mudah dialihkan ke investor strategis. BUKA cukup beli saja 10% saham treasury SCMA, bisa dapat jaminan dividen rutin tiap tahun plus bisa bersama-sama mengembangkan aplikasi Vidio yang diintegrasikan di Bukalapak. Jadi daripada BUKA bakar lebih banyak duit di sektor e-commerce yang mustahil untuk dimenangkan, lebih baik melirik sektor lain yang sudah jelas bisa menghasilkan laba seperti sektor finansial dan entertainment. Tapi itu hanya impian saya kalau menjadi pengendali BUKA. Mungkin saja PSP BUKA sudah punya rencana lain yang lebih bombastis dari yang saya paparkan.

But anyway, meskipun sektor teknologi menarik, saya tetap cinta old economy. Karena menurut saya, semua duit yang dibakar di perusahaan startup dan teknologi sumbernya berasal dari kantong para Konglomerat old economy.

Skydrugz Bot Radar
  • Yang masuk radar Skydrugz makin sedikit. Tersisa 9 saham saja. Lebih tepatnya 8 saham saja. BMHS ini saham baru IPO. Oleh Radar salah dibaca sebagai markdown akibat data transaksi sahamnya belum sampai 9 bulan.
  • Menurut saya yang menarik adalah MEDC ISAT BRPT JRPT NISP DMAS dan HMSP.
  • MEDC akan melakukan aksi korporasi besar. Jika ingin right issue dan global bond laku, maka saham perusahaan ini harus diangkat oleh market maker. Dan itu harus dilakukan ketika harga oil masih di atas 50 dollar. Mumpung appetite investor masih tinggi.
  • ISAT lagi di markdown sambil menunggu pengumuman merger dengan Tri Hutchinson. Entah market maker sudah tahu kabar atau tidak tapi ciri – ciri markdown terlihat jelas. Tapi bisa saja itu adalah ciri – ciri distribusi. Memang agak sulit membedakan Markdown dan distribusi ketika saham sudah multibagger seperti ISAT. Kalau tidak ada aksi korporasi, saya mungkin langsung akan menganggap pola transaksi di ISAT sebagai distribusi. Lebih gampang menemukan pola markdown di saham yang lagi downtrend.
  • HMSP PBV 4 PER 12,7 murah.

Bagi yang tertarik untuk mendapatkan data analisa kuartalan emiten pilihan bisa pesan di sini.

Atau dengan memesan melalui Whatsapp Tim Pintarsaham di  +62831-1918-1386

Bagi yang ingin mencoba instrumen yang lebih beresiko tinggi kripto dengan resiko duit hilang 100% jika lagi kurang beruntung dan bisa cuan multibagger jika lagi beruntung bisa daftar di sini. 

Buat yang mau daftar di Pintarkripto, isi form di sini.

Buat yang mau punya akun trading kripto Binance atau Tokokripto daftar di sini.

Buat yang mau daftar akun trading dan investasi saham, bisa daftar di sini

Buat yang mau pesan ebook analisis Laporan Keuangan, bisa pesan di sini.

Bagi yang tertarik membuka rekening saham Sucor atau Mirae bisa menghubungi @skydrugz27 via Telegram

Artikel Skydrugz Yang Lainnya Tentang Kripto dan Investasi di Luar Negeri:

1. Cara Deposit di Binance. 

2. Cara Daftar di Akun Kripto Agar Bisa Beli Bitcoin dan Dogecoin

3. Cara trading di market luar negeri. Gunakan token Gotrade: 805963. Jika Ingin trading saham Luar Negeri di Aplikasi Gotrade 

4. Cara Beli Saham TSLA di Binance

5. Cara Mendapatkan Passive Income dari Binance: Menabung Kripto dapat Bunga Seperti Menabung di Bank

6. Teknik Trading di Binance

7. Menjaga Psikologi Agar Tetap Waras

8. Mengenai Pajak Dividen Saham Yang Dibeli di Luar Negeri

9. Tentang Pajak Dividen

10. Cara Cuan di Kripto tanpa Harus Trading

11. Cara Cuan Passive Income di Kripto dari Liquid Swap

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Jika ingin diskusi saham via Telegram bisa dengan menjadi Nasabah Sucor Referal TIRA2 dengan PM saya @skydrugz27 di Telegram.

Setelah mengisi form, bisa menghubungi @skydrugz27 via Telegram.

Untuk Insights Saham bisa ke sini.

Bagi yang mau buka akun Kripto bisa di Binance atau Tokokripto pakai link di sini.

Bagi yang mau join grup kripto bisa isi form PintarKripto.

Jika ingin pesan analisis Laporan Keuangan Kuartalan Komprehensif dari Pintarsaham.id bisa pesan di sini

Disclaimer :
  • Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.
  • I do not provide personal investment advice and I am not a qualified licensed investment advisor. I am an amateur investor.
  • All information found here, including any ideas, opinions, views, predictions, forecasts, commentaries, suggestions, or stock picks, expressed or implied herein, are for informational, entertainment or educational purposes only and should not be construed as personal investment advice. While the information provided is believed to be accurate, it may include errors or inaccuracies.
  • I will not and cannot be held liable for any actions you take as a result of anything you read here.
  • Conduct your own due diligence, or consult a licensed financial advisor or broker before making any and all investment decisions. Any investments, trades, speculations, or decisions made on the basis of any information found on this site, expressed or implied herein, are committed at your own risk, financial or otherwise.
  • No representations or warranties are made with respect to the accuracy or completeness of the content of this entire weblog, including any links to other sites. The links provided are maintained by their respective organizations and they are solely responsible for their content. All information presented here is provided ‘as is’, without warranty of any kind, expressed or implied.
  • From time to time I may include affiliate links and advertisements on my article that result in my receiving a payment should a visitor click on a link or sign up to a service, as per established Internet practice. Readers are entirely responsible for any actions they take as a result of reading or clicking on links on the site, and are urged to read the small print.

Leave a Reply