ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Corner: GPRA, Asset Play?

Di postingan sebelumnya saya sudah membahas tentang BKSL. Pada postingan kali ini saya akan coba membahas mengenai saham yang menurut saya memiliki nature yang berbeda dengan BKSL, yakni GPRA. Kebetulan beberapa waktu lalu ada juga yang bertanya kepada saya mengenai saham ini.

GPRA

Inti pertanyaannya adalah apakah ada tanda bahaya di GPRA ini karena terjadi penurunan harga saham yang disertai dengan keputusan untuk tidak bagi dividen.

Nampaknya definisi tanda bahaya setiap investor di bursa berbeda – beda. Kalau saya sendiri tidak pernah menganggap penurunan harga saham sebagai tanda bahaya. Malah menurut saya penurunan harga saham adalah kesempatan untuk membeli saham lebih banyak lagi di harga yang lebih murah dengan catatan fundamental perusahaan tidak berubah.

Tanda bahaya di saham menurut saya antara lain utang perusahaan terus bertambah yang disertai arus kas perusahaan yang terus – menerus terbakar dan transaksi afiliasi perusahaan membengkak disertai piutang macet pihak berelasi yang menggunung. Jika menemukan kedua tanda di atas pada sebuah perusahaan maka itu artinya ada something wrong di Perusahaan tersebut. Saya biasanya langsung menghindar dari perusahaan yang memiliki kedua tanda di atas.

Sekarang mari kita lihat bagaimana ringkasan Asset GPRA.

Pertama apakah utang GPRA dari tahun ke tahun terus bertambah?

Setelah melihat riwayat utang berbunga GPRA dalam 5 tahun terakhir saya menemukan hal berikut:

  • 2015 346 M
  • 2016 320 M
  • 2017 276 M
  • 2018 282 M
  • 2019 341 M
  • 2020 324 M
  • H1 2021 317 M

Dari 2015-2018, GPRA berhasil melakukan deleverage. Namun di 2019, GPRA kembali menaikkan utang mereka.

Apakah kenaikan utang tersebut in line dengan kenaikan revenue? Coba kita cek revenue GPRA dari 2016-2020

  • 2016 429 M
  • 2017 366 M
  • 2018 435 M
  • 2019 397 M
  • 2020 323 M
  • H1 2021 152 M

Ternyata pertumbuhan utang GPRA tidak sejalan dengan pertumbuhan revenue-nya. Utang bertambah tapi revenue stagnan.

Lalu apakah revenue sejalan dengan piutang?

Kondisi piutang usaha dan piutang macet GPRA dari 2016-2020 adalah sebagai berikut:

  • 2016 piutang 201,1 M yang macet 19,4 M
  • 2017 piutang 184,2 M yang macet 19,2 M
  • 2018 piutang 188 M yang macet 21,8 M
  • 2019 piutang 239,4 M yang macet 21,8 M
  • 2020 piutang 37,5 M yang macet 19,9 M

Sebenarnya GPRA masih punya banyak piutang lain – lain, tapi saya skip saja. Kalau melihat struktur piutang usaha GPRA, nampaknya ada piutang masa lalu GPRA yang sampai saat ini sulit tertagih di kisaran 19 M. Namun bisa kita lihat di 2020, Revenue GPRA 323 M sedangkan piutang hanya 37 M.

Apakah semua revenue dan piutang tersebut bisa tertagih menjadi arus kas? Kita perlu cek CFO GPRA dari 2016-2020.

  • 2016 29 M
  • 2017 10 M
  • 2018 12 M
  • 2019 3 M
  • 2020 41 M
  • H1 2021 46 M

CFO GPRA

Ternyata CFO GPRA bisa dibilang lumayan oke dalam 5 tahun terakhir. Belum pernah bleeding. Bahkan CFO dalam 2 kuartal terakhir di 2021 ternyata rekor untuk perusahaan karena lebih tinggi dari CFO 2016-2020. Tapi CFO ini masih bisa berubah tergantung pada Q3 dan Q4 2021.

Kalau melihat struktur Asset GPRA, aset terbesarnya justru berada di akun persediaan yang mana ini berbeda dengan BKSL. Pada BKSL, asset terbesarnya justru adalah cadangan tanah. Bagaimana progress persediaan GPRA dari 2016-2020?

  • 2016 1,066 T, siap jual 437 M
  • 2017 998 M, siap jual 340 M
  • 2018 1,069 T, siap jual 378 M
  • 2019  1,2 T
  • 2020 1,3 T
  • H1 2021 1,3 T

Asset GPRA

Total kewajiban GPRA adalah 698 Milyar. Jika persediaan 1,2 Triliun berhasil terjual maka kas yang bisa didapatkan oleh GPRA lalu dikurangi semua kewajiban maka GPRA bisa mendapatkan kas sekitar 502 milyar + piutang yang bisa ditagih 30 Milyar maka aset bersih GPRA secara kasar sekitar 532 milyar. Di harga 61 rupiah, GPRA memiliki market capital 261 milyar. Maka dapat saya katakan kalau GPRA Undervalued. Dengan CFO H1 2021 46 milyar saya juga bisa bilang kalau GPRA undervalued karena market capital GPRA hanya 261 milyar.

Lalu apa kendala utama Gapura Prima?

  • Utang berbunga mereka lumayan besar. Dengan utang berbunga 251 milyar, dan CFO H1 2021 46 M maka butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk melunasi semua utang perusahaan, belum lagi kalau CFO tersebut harus terpangkas kalau perusahaan mengeluarkan capex
  • Cadangan tanah perusahaan sangat sedikit sehingga kalau perusahaan ingin melakukan ekspansi maka perusahaan harus melakukan akuisisi lahan baru. Dengan cadangan kas perusahaan yang tipis maka perusahaan harus mengambil utang baru jika ingin melakukan akuisisi. Atau minimal perusahaan harus menjual semua persediaan di atas harga perolehan agar bisa menghasilkan fresh cash.

Jadi menurut saya GPRA bisa menjadi Asset Play jika mereka bisa menjual semua persediaan mereka yang sangat besar. Semoga saja manajemen bisa menjual semua persediaan perusahaan di atas harga perolehan agar bisa memberikan keuntungan untuk pemegang saham.

Keputusan jual dan beli berada di tangan masing-masing investor.

Ikuti Give away Pintarsaham dengan follow Instagram: https://www.instagram.com/p/CTcGHFBhwWA/?utm_medium=copy_link

Ikuti Webinar Pintarsaham.id bersama DBS Digibank 10 September 2021 dengan mendaftar di sini. Free for all.

Jika ingin mendapatkan data analisis Laporan Keuangan Kuartalan bisa pesan di sini atau menghubungi Whatsapp Admin Pintarsaham.id +62 831-1918-1386

Jika ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini atau hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386 atau dengan Buka rekening saham di Sucor Sekuritas di sini dengan menggunakan referal TIRA2. Sedangkan jika ingin Trading Kripto bisa daftar di sini

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply