Jakarta, 23 April 2026 – PT TIMAH (Persero) Tbk (“Perseroan”; IDX: TINS) hari ini mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2025 yang telah diaudit.
Sepanjang tahun 2025, harga logam timah global tercatat naik dibandingkan tahun sebelumnya didukung oleh meningkatnya permintaan untuk semikonduktor, panel fotovoltaik dan teknologi transisi energi lainnya. Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) tahun 2025 sebesar USD 34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar USD 30.177,45 per ton.
Persediaan timah di gudang LME pada akhir Desember 2025 berada di posisi 5.420 ton, naik 14% dari awal tahun 2025 di posisi 4.760 ton.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, pada tahun 2025 produksi logam timah global diperkirakan sebesar 371.369 ton. Sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan sebesar 389.404 ton.
Kinerja Keuangan
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun meningkat 6,41% di tahun 2025 dari Rp10,86 triliun di tahun 2024 seiring dengan kenaikan harga jual rata-rata logam timah. Beban pokok pendapatan Perseroan naik 8,41% dari Rp8,11 triliun di tahun 2024 menjadi Rp8,79 triliun di tahun 2025. Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp1,91 triliun dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp2,76 triliun.
Pada akhir tahun 2025, nilai aset Perseroan naik 6,75% menjadi Rp13,64 triliun dari Rp12,78 triliun pada akhir tahun 2024, dikarenakan peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo di akhir tahun 2025. Sedangkan posisi liabilitas Perseroan sebesar Rp5,23 triliun, naik 0,80% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,19 triliun.
Posisi ekuitas di tahun 2025 sebesar Rp8,41 triliun mengalami kenaikan 10,83% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp7,59 triliun, seiring dengan dibukukannya laba di tahun 2025.
“Pada tahun 2025 Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,” ujar Restu Widiyantoro Direktur Utama PT TIMAH (Persero) Tbk.
Kinerja keuangan Perseroan menunjukkan hasil yang baik, terlihat dari beberapa rasio keuangan penting di antaranya Quick Ratio sebesar 60,6%, Current Ratio sebesar 242,8%, Debt to Asset Ratio sebesar 11,5%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 18,7%.
Sepanjang tahun 2025, Perseroan terus melakukan upaya efisiensi dan optimalisasi biaya diantaranya dalam bentuk penurunan fixed cost melalui pengeluaran investasi yang selektif ke investasi penunjang operasi untuk memitigasi kenaikan beban depresiasi dan menjaga stabilitas arus kas. Selain itu, Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas, sehingga dapat menekan beban bunga antara lain melalui pelaksanaan buyback atas MTN.
Kinerja Operasi
Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn pada tahun 2025, turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru. Seiring dengan menurunnya produksi bijih timah, produksi logam timah juga mengalami penurunan sebesar 6% menjadi 17.815 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18.915 metrik ton. Adapun penjualan logam timah turun 5% menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17.507 metrik ton. Harga jual rata-rata logam timah sebesar USD35.240 per metrik ton, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD31.181 per metrik ton.
Pada tahun 2025, Perseroan mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5% dan ekspor logam timah sebesar 95% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23%; Korea Selatan 21%; Jepang 17%; Belanda 7%; Italia 3%; dan China 3%. Kontribusi penjualan ekspor Perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.
Kondisi saat ini dan prospek ke depan
Sepanjang tahun 2025, Perseroan secara konsisten menjalankan berbagai upaya untuk memperkuat kinerja operasional dan produksi diantaranya pada penambangan darat, Perseroan melakukan peningkatan jumlah titik operasi tambang serta memperkuat kegiatan eksplorasi operasional melalui pelaksanaan bor pandu guna memastikan arah penggalian yang lebih presisi dan selaras dengan blok Rencana Kerja yang telah ditetapkan.
Pada penambangan laut, Perseroan melakukan optimalisasi kinerja operasional dengan Kapal Isap Produksi (KIP) serta peningkatan efektivitas proses pengolahan melalui fasilitas SHP KIP dan PIP. Selain itu, Perseroan juga mengoperasikan 1 (satu) unit kapal bor pandu di beberapa area produksi utama guna meningkatkan confidence level terhadap potensi sumber daya serta mendukung pengambilan keputusan operasional yang lebih akurat berbasis data.
Berdasarkan data Bloomberg (as of 12 Maret 2026), perkiraan harga timah pada tahun 2026 berkisar antara USD 33.500 per ton hingga USD 48.750 per ton. Aktivitas manufaktur elektronik, yang merupakan pendorong utama permintaan timah diperkirakan akan menguat pada tahun 2026. Di sisi fundamental, pengetatan pasar timah didorong oleh terbatasnya pasokan dari Indonesia, Myanmar, MSC dan DRC yang diperparah oleh regulasi, konflik dan pemeliharaan produksi.
Berdasarkan World Bank (released: 29 Oktober 2025) memperkirakan harga rata-rata logam timah pada tahun 2026 sebesar USD 34.000 per ton. Perkiraan harga logam di tahun 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya peningkatan penggunaan elektronik, semikonduktor, chips serta digitalisasi dan Artificial Intellegence.
Pada tahun 2026, Perseroan akan berfokus pada pemulihan kapasitas produksi secara agresif dan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi. Sebagai bagian dari Holding Pertambangan Indonesia, Perseroan memposisikan diri untuk memanfaatkan momentum harga timah global yang tinggi dan penertiban tambang ilegal di Indonesia yang cukup mempengaruhi aliran supply logam timah secara global. Adapun strategi utama Perseroan di tahun 2026 diantaranya meliputi akselerasi produksi dan optimalisasi cadangan, ekspansi hilirisasi dan diversifikasi produk, transformasi digital dan keberlanjutan (ESG), optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis, optimaliasi kinerja anak perusahaan, aset non operasi dan sinergi lainnya dalam mendukung keberlanjutan Perseroan.
Sekilas PT TIMAH (Persero) Tbk
PT TIMAH (Persero) Tbk adalah anak usaha dari holding pertambangan Indonesia MIND ID merupakan produsen timah terkemuka sekaligus eksportir timah terbesar di dunia dengan wilayah operasional pertambangan dan peleburan logam timah di provinsi Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Riau.
Menjadi Perseroan Terbatas sejak tahun 1976 dan melantai di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1995, PT TIMAH (Persero) Tbk menjalankan bisnis timah yang terintegrasi secara vertikal, mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, peleburan dan pemurnian logam timah hingga pemasaran yang melayani para pelanggan internasional maupun domestik. Produk logam timah dengan merek “Banka Tin”, “Kundur Tin”, dan “Mentok Tin” memiliki reputasi internasional dan telah terdaftar di London Metal Exchange (LME).
Saat ini PT TIMAH (Persero) Tbk yang merupakan anggota dari International Tin Association (ITA) memiliki 4 (empat) lini bisnis utama yakni pertambangan timah, hilirisasi timah (tin chemical dan tin solder), pertambangan non-timah (batubara dan nikel), serta bisnis berbasis kompetensi termasuk properti, galangan kapal, agro bisnis.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin


