Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightPerbandingan Saham ITMG dan AADI: Mana yang Lebih Murah Secara Valuasi?

Perbandingan Saham ITMG dan AADI: Mana yang Lebih Murah Secara Valuasi?

Investor di sektor batu bara kini tengah mencermati kinerja emiten besar melalui laporan keuangan terbaru. Berdasarkan data Kuartal III-2025, muncul pertanyaan menarik mengenai perbandingan saham ITMG dan AADI untuk menentukan mana yang menawarkan valuasi lebih menarik bagi pemodal. Meskipun keduanya bergerak di industri yang sama, terdapat perbedaan signifikan jika dilihat dari sisi kemampuan menghasilkan laba maupun nilai aset bersih perusahaan.

Hingga periode September 2025, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) menunjukkan performa yang kontras dalam metrik valuasi pasar. Perlu dicatat bahwa harga per lembar saham saja tidak bisa menjadi tolok ukur murah atau mahalnya sebuah perusahaan. Saat ini, AADI diperdagangkan di kisaran Rp7.575 per saham, sementara ITMG berada di level Rp22.300 per saham. Namun, untuk menentukan valuasi yang sesungguhnya, investor perlu membedah rasio Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Analisis Kinerja Keuangan Berdasarkan Rasio PER

Dalam melakukan perbandingan saham ITMG dan AADI dari sisi profitabilitas, rasio PER menjadi indikator utama. Rasio ini menunjukkan berapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap rupiah laba bersih yang dihasilkan perusahaan. Semakin kecil angka PER, maka harga saham tersebut dianggap semakin murah relatif terhadap labanya.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, AADI mencatatkan keunggulan dalam hal efisiensi harga terhadap laba. Dengan harga pasar sekitar Rp7.575, AADI diperdagangkan pada rasio PER sebesar 4,59 kali dari laba tahunannya. Angka ini menunjukkan bahwa valuasi AADI masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata industri sejenis.

Di sisi lain, ITMG yang memiliki harga pasar sekitar Rp22.300 diperdagangkan dengan rasio PER sebesar 8,82 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa secara nominal keuntungan bersih, investor membayar harga yang lebih tinggi untuk setiap unit laba ITMG dibandingkan saat membeli saham AADI. Dengan demikian, jika fokus utama investor adalah mencari perusahaan dengan harga beli rendah terhadap kemampuan menghasilkan laba, AADI menjadi pilihan yang lebih menonjol secara statistik pada kuartal ini.

Valuasi PBV: Melihat Perbandingan Saham ITMG dan AADI dari Sisi Aset

Berbeda dengan rasio laba, rasio Price to Book Value (PBV) melihat harga saham berdasarkan nilai modal atau kekayaan bersih perusahaan. Melalui metrik ini, perbandingan saham ITMG dan AADI memberikan gambaran yang berbalik. Investor dapat melihat apakah sebuah saham diperdagangkan di bawah atau di atas nilai aset aslinya.

ITMG tercatat sebagai pemenang dari sisi nilai aset. Saat ini, saham ITMG diperdagangkan dengan PBV di bawah satu, yakni sekitar 0,80 kali. Secara teoritis, ini berarti investor dapat membeli perusahaan di bawah nilai modal aslinya atau mendapatkan “diskon” dari nilai aset bersihnya. Sebagai gambaran, nilai buku (book value) ITMG per saham berada di kisaran Rp28.000-an, namun pasar saat ini menghargainya hanya di Rp22.300-an.

Sementara itu, AADI memiliki rasio PBV sebesar 1,02 kali. Angka ini menunjukkan bahwa harga pasar AADI saat ini sudah hampir setara atau sedikit di atas nilai aset bersih per sahamnya. Walaupun tidak bisa dikatakan mahal, posisi ini menunjukkan bahwa ITMG menawarkan nilai margin keamanan (margin of safety) yang lebih besar dari sisi kepemilikan aset fisik dibandingkan AADI.

Proyeksi Dividen dan Sentimen Pasar

Selain faktor valuasi murni, pelaku pasar juga kerap mempertimbangkan faktor historis dalam memilih antara kedua emiten ini. ITMG secara historis dikenal sebagai emiten yang sangat royal dalam membagikan dividen dengan rasio pembayaran (payout ratio) yang besar. Hal ini sering kali menjadi alasan kuat bagi investor untuk tetap memegang saham ITMG meskipun kinerja labanya mungkin mengalami fluktuasi atau penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai informasi tambahan, perhitungan valuasi ini menggunakan asumsi kurs sebesar Rp16.875 per dolar AS, mengingat sebagian besar laporan keuangan di sektor pertambangan menggunakan denominasi dolar.


Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan! https://bit.ly/pintarsahamid

Sinta Nastalia
Sinta Nastaliahttp://pintarsaham.id
Berfokus pada analisis perkembangan saham serta aksi korporasi emiten Indonesia berbasis data dan keterbukaan informasi resmi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here