ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Bagaimana Cara Memilih Metode Valuasi Saham Terbaik?

Saat memutuskan metode valuasi mana yang akan digunakan untuk menilai saham, kita akan kewalahan dengan banyaknya cara valuasi saham yang ada.

Ada metode valuasi yang cukup mudah dan ada juga metode yang rumit. Baca juga artikel Model Keseimbangan 

Tidak ada satu metode yang paling cocok untuk setiap situasi. Setiap saham berbeda, dan setiap industri atau sektor memiliki karakteristik unik yang mungkin memerlukan beberapa jenis metode valuasi.

Dua Kategori Model Valuasi

Metode valuasi saham biasanya terbagi dalam dua kategori utama, yaitu; absolute valuation dan relative valuation.

  • Absolute Valuation

Model valuasi absolut mencoba menemukan nilai intrinsik atau “sebenarnya” dari sebuah investasi hanya berdasarkan pada fundamental.

Melihat fundamental artinya Anda hanya fokus pada hal-hal seperti dividen, arus kas, dan tingkat pertumbuhan untuk satu perusahaan dan tidak mengkhawatirkan perusahaan lain.

Model penilaian yang termasuk dalam kategori ini antara lain model dividend discount model, discounted cash flow model, residual income model, dan asset based model.

  • Relative Valuation

Model valuasi relatif dapat diaplikasikan dengan membandingkan perusahaan yang bersangkutan dengan perusahaan serupa atau di industri yang sama. Metode ini melibatkan penghitungan kelipatan dan rasio, seperti rasio harga terhadap laba per saham (P/E), dan membandingkannya dengan perusahaan serupa di industri yang sama.

Misalnya, jika P/E perusahaan A lebih rendah dari P/E perusahaan B, maka perusahaan A dianggap undervalued atau lebih murah

Biasanya, model valuasi relatif jauh lebih mudah dan lebih cepat untuk dihitung daripada model valuasi absolute, itulah sebabnya banyak investor dan analis memulai analisis mereka dengan model ini.

Memilih metode valuasi
Memilih metode valuasi

Dividend Discount Model (DDM)

Dividend Discount Model (DDM) adalah salah satu model valuasi absolut yang paling dasar.

Model valuasi ini menghitung nilai “sebenarnya” dari suatu perusahaan berdasarkan dividen yang dibayarkan perusahaan kepada pemegang sahamnya.

Dividen mewakili arus kas sebenarnya yang masuk ke pemegang saham, jadi menilai nilai sekarang dari arus kas ini akan memberi Anda berapa harga saham yang seharusnya.

  1. Langkah pertama adalah menentukan apakah perusahaan membayar dividen.
  2. Langkah kedua adalah menentukan apakah dividen stabil dan dapat diprediksi karena tidak cukup bagi perusahaan untuk hanya membagikan dividen.

Perusahaan yang membayar dividen yang stabil dan dapat diprediksi biasanya adalah perusahaan blue chip yang matang di industri yang berkembang dengan baik. Jenis perusahaan ini seringkali paling cocok untuk model penilaian DDM.

Misalnya, data dividen dan EPS perusahaan ABC di bawah ini dan tentukan apakah model DDM akan sesuai untuk perusahaan:

2015 2016 2017 2018 2019 2020
Dividen Per Saham (DPS) 50 53 55 58 61 64
Laba Per Saham (EPS) 400 420 441 463 486 511

Pada contoh di atas, laba per saham (EPS) secara konsisten tumbuh pada tingkat rata-rata 5%, dan dividen juga tumbuh pada tingkat yang sama. Dividen perusahaan konsisten dengan tren pendapatannya, yang memudahkan prediksi dividen untuk periode mendatang.

Selain itu, Anda harus memeriksa rasio pembayaran untuk memastikan rasio tersebut konsisten. Dalam hal ini, rasio Dividen Pay Out Rationya adalah 12,5% untuk semua enam tahun, yang menjadikan perusahaan ini kandidat yang ideal untuk DDM.

Gordon Growth Model (GGM) banyak digunakan untuk menentukan nilai intrinsik saham berdasarkan rangkaian dividen masa depan yang tumbuh pada tingkat yang konstan. Ini adalah varian populer dan langsung dari Dividend Discount Model (DDM).

Discounted Cash Flow Model (DCF)

Bagaimana jika perusahaan tidak membagikan dividen atau pembayaran dividennya tidak konsisten?

Model DCF ini menggunakan arus kas masa depan yang didiskontokan perusahaan untuk menilai bisnisnya.

Keuntungan besar dari pendekatan ini adalah dapat digunakan dengan berbagai macam perusahaan yang tidak membayar dividen, dan bahkan untuk perusahaan yang membayar dividen, seperti perusahaan ABC pada contoh sebelumnya.

Model DCF memiliki beberapa variasi, tetapi bentuk yang paling umum digunakan adalah model Two-Stage DCF.

Dalam variasi ini, arus kas bebas biasanya diperkirakan selama 5 hingga 10 tahun, dan kemudian terminal value dihitung untuk memperhitungkan semua arus kas di luar periode yang diperkirakan.

Syarat pertama untuk menggunakan model ini adalah perusahaan memiliki arus kas bebas yang positif dan dapat diprediksi. Berdasarkan persyaratan ini saja, Anda akan menemukan bahwa banyak perusahaan kecil dengan pertumbuhan tinggi dan perusahaan startup akan dikecualikan karena pengeluaran modal besar yang biasanya dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ini.

Sebagai contoh, mari kita lihat arus kas dari perusahaan berikut:

2015 2016 2017 2018 2019 2020
Operating Cash Flow/Arus Kas Operasi 438 789 1462 890 2565 510
Capital Expenditure/Belanja Modal 785 995 1132 1256 2235 1546
Free Cash Flow/Arus Kas Bebas -347 -206 330 -366 330 -1036

Dalam kasus ini, perusahaan telah menghasilkan arus kas operasi positif yang meningkat, dan itu sangat baik.

Namun, Anda dapat melihat dari besarnya belanja modal menunjukkan bahwa perusahaan masih menginvestasikan sebagian besar uangnya kembali ke dalam bisnis untuk tumbuh.

Akibatnya, perusahaan memiliki arus kas bebas negatif selama empat dari enam tahun, yang membuat perusahaan sangat sulit atau hampir tidak mungkin untuk memprediksi arus kas untuk 5 hingga 10 tahun ke depan.

Untuk menggunakan model DCF yang paling efektif, perusahaan umumnya harus memiliki arus kas bebas yang stabil, positif, dan dapat diprediksi. Perusahaan yang memiliki arus kas ideal yang sesuai untuk model DCF biasanya adalah perusahaan mature yang telah melewati tahap pertumbuhan.

Valuasi Saham
Valuasi Saham

Model Yang Dapat Dibandingkan

Model valuasi ini tidak berusaha menemukan nilai intrinsik untuk saham seperti dua model penilaian sebelumnya.

Sebaliknya, model ini membandingkan kelipatan harga saham dengan patokan tertentu untuk menentukan apakah saham tersebut relatif undervalue (murah) atau overvalue (mahal)

Dasar pemikirannya adalah “Law of One Price”, yang menyatakan bahwa dua aset serupa harus dijual dengan harga yang sama.

Alasan mengapa model pembanding dapat digunakan hampir di semua keadaan adalah karena banyaknya kelipatan yang dapat digunakan, seperti price to earnings (P/E), price to book (P/B), price to sales (P/S), price to cash flow (P/CF), dan banyak lagi lainnya.

Dari rasio-rasio tersebut, rasio P/E adalah yang paling umum digunakan karena berfokus pada laba perusahaan, yang merupakan salah satu pendorong utama nilai investasi.

Kapan P/E dapat digunakan untuk perbandingan?

  • Pertama, P/E dapat menggunakannya jika saham perusahaan tersebut diperdagangkan secara publik, karena Anda akan membutuhkan harga saham dan pendapatan perusahaan.
  • Kedua, perusahaan harus menghasilkan laba positif karena perbandingan menggunakan kelipatan P/E negatif tidak ada artinya.
  • Terakhir, kualitas laba harus kuat. Artinya, laba tidak boleh terlalu fluktuatif, dan praktik akuntansi yang digunakan oleh manajemen tidak boleh mendistorsi laba yang dilaporkan secara drastis.

Ini hanyalah beberapa kriteria utama yang harus dilihat investor ketika memilih rasio yang akan digunakan. Jika rasio P/E tidak dapat digunakan, pilih rasio yang berbeda, seperti; price to sales atau price to cash flow.

Kesimpulan

  • Ada beberapa metode untuk menilai perusahaan atau sahamnya, masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya sendiri.
  • Beberapa model mencoba menjabarkan nilai intrinsik perusahaan berdasarkan laporan keuangan dan proyeksinya sendiri, sementara yang lain melihat perbandingan terhadap perusahaan-perusahaan pada industri yang sejenis.
  • Untuk perusahaan yang membayar dividen, discount model seperti Gordon Growth Model sangat sederhana dan cukup dapat diandalkan, tetapi banyak perusahaan yang tidak membayar dividen.
  • Seringkali, pendekatan multiples valuation dapat digunakan untuk membuat evaluasi perbandingan dari nilai perusahaan di pasar terhadap pesaingnya atau pasar yang lebih luas.
  • Saat memilih metode penilaian, pastikan metode tersebut sesuai untuk perusahaan yang Anda analisis, dan jika lebih dari satu metode valuasi yang sesuai, gunakan keduanya untuk menghasilkan estimasi yang lebih baik.

Tidak ada metode yang cocok untuk setiap situasi, tetapi dengan mengetahui karakteristik perusahaan, Anda dapat memilih metode valuasi saham yang paling sesuai dengan situasi tersebut. Selain itu, investor tidak dibatasi hanya menggunakan satu model atau metode saja.

Jika anda menyukai artikel Metode Valuasi Saham Terbaik Bagi Investor ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi

Leave a Reply