ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Laporan Keuangan SWF Indonesia Investment Authority Q2 2021

Laporan Keuangan SWF Indonesia Investment Authority (INA) Q2 2021

Akhirnya Laporan Keuangan SWF Indonesia Kuartal II 2021 (LK Q2 2021) berhasil dirilis. Di artikel sebelumnya saya sudah pernah membahas mengenai LK Q1 2021 SWF Indonesia. Pada artikel kali ini saya akan membahas secara singkat mengenai apa saja yang sudah dilakukan oleh SWF dalam setengah tahun ini.

Mengapa LK SWF sangat penting untuk dibahas? Well, itu karena saya punya saham BUMN Konstruksi. Dan menurut saya kelangsungan hidup BUMN Konstruksi saat ini sangat ditentukan oleh keberlangsungan SWF Indonesia. Kondisi keuangan mayoritas BUMN Konstruksi saat ini benar-benar amburadul. Mengapa amburadul? Karena utang BUMN Konstruksi berada pada level yang mengkhawatirkan plus arus kas perusahaan BUMN saat ini sangat menyedihkan.

Saham Cadangan Kas Utang Berbunga

Yang Jatuh Tempo

Dalam Setahun

WSKT 806.51 Milyar 31,5 Triliun
WIKA 6,3 Triliun 14,8 Triliun
PTPP 5,1 Triliun 6,6 Triliun
ADHI 670 Milyar 5,2 Triliun

Berdasarkan Laporan Keuangan Q1 2021 BUMN Karya, kondisi neraca BUMN Karya dalam kondisi yang benar-benar parah. Hanya PTPP yang sedikit terlihat baik karena cadangan kas PTPP mencapai 5,1 Triliun sedangkan utang berbunga yang jatuh tempo dalam setahun hanya 6,6 Triliun. Di posisi kedua ada WIKA dengan utang jatuh tempo 14,8 Triliun namun cadangan kas hanya 6,3 Triliun. Manajemen WIKA harus cepat menagih piutang agar bisa membayar utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Yang kondisinya menyedihkan adalah ADHI. Dengan utang jatuh tempo 5,2 Triliun, ADHI hanya punya cadangan kas 670 milyar. Dan yang berada di hierarki paling bawah adalah WSKT. Cadangan kas Waskita hanya 806 Milyar sedangkan utang jatuh tempo dalam setahun adalah 31,5 Triliun.

Melihat neraca BUMN Karya maka hanya satu kesimpulan yang bisa ditarik yakni kesulitan likuiditas. Dan salah satu cara untuk membantu likuiditas BUMN Karya adalah SWF. Diharapkan nanti SWF akan membeli semua aset mati milik BUMN Karya sehingga dengan hasil pembelian tersebut BUMN Karya bisa melakukan deleverage alias mengurangi utang dan move on membuat proyek baru. Selama ini banyak duit BUMN Karya yang mati di proyek jalan tol dan proyek-proyek lain yang BEP nya butuh puluhan tahun.

Sebagai contoh Waskita punya aset tidak lancar yang mencapai 73 Triliun dan itu semua harus segera dijual agar bisa digunakan untuk membayar utang mereka yang sangat banyak. Saking banyaknya utang Waskita, baru-baru ini mereka melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Nah sekarang yang menjadi masalah utama SWF adalah beritanya saja yang bombastis tapi ternyata belum gerakan yang berarti terlihat di laporan keuangan mereka. Di LK Q1 2021 mereka, belum ada investasi penting yang mereka lakukan. Hanya deposito duit di Bank Mandiri, habis cerita.

Lalu bagaimana dengan Q2 2021?

Let’s take a look.

Cadangan Kas

Jika di Q1 2021 cadangan kas SWF Indonesia adalah 5 Triliun dan 10 Triliun sisanya masuk deposito, maka di Q2 2021 cadangan kas SWF sisa 90 Milyar dan 15 Triliun masuk deposito semua.

10 Triliun masuk deposito bank BRI. 5 Triliun masuk deposito Bank mandiri.

Cadangan Kas SWF INA

Mengapa SWF simpan deposito di bank BRI lebih banyak dari deposito di Bank Mandiri? Itu karena bunga deposito di bank BRI adalah 4%. Sedangkan deposito Bank Mandiri hanya 3,25%.

Dengan liabilitas yang mencapai 78 milyar maka setidaknya itu cukup dicover oleh bunga deposito.

Belum ada investasi ke aset BUMN Karya dan belum ada injeksi dana baru dari Arab ataupun negara lainnya.

SWF hanya bombastis di berita tapi di realisasi kinerja keuangan masih nihil. Di berita Bisnis Indonesia disebutkan bahwa Uni Emirat Arab Akan Investasi Rp144 Triliun di SWF Indonesia. Ini berita Maret 2021 di Q1. Tapi bisa kita lihat di LK SWF Q2 2021 yang berakhir Juni 2021, ternyata dana itu belum ada.

Di berita juga disebutkan kalau Amerika Serikat mau simpan dana 2 milyar di SWF. Luhut sudah saksikan tanda tangan nya di November 2020 tapi ternyata sampai sekarang masih nihil juga.

Di laporan keuangan SWF Q2 2021 terlihat jelas kalau kas dan deposito SWF hanya 15 Triliun. Semua janji negara maju belum ada yang masuk SWF hingga Q2 2021.

Laba Q2 2021

 

Laba INA SWF Q2 2021

Di Q2 2021 sumber pendapatan SWF hanyalah pendapatan bunga dari deposito yang mencapai 142,9 milyar. Dengan beban operasional dan Investasi yang mencapai 105 milyar serta bebas pajak maka laba bersih SWF di kuartal 2 2021 mencapai 37,2 milyar.

Dengan begitu ROE SWF di Q2 2021 adalah 0,24%. Benar – benar sangat tipis.

Beban Operasional

Beban Operasional SWF

Sumber beban terbesar SWF Indonesia adalah beban operasional yang terdiri atas gaji karyawan yang mencapai 54,5 milyar dan biaya pengawasan 29,9 miliar serta gaji tenaga ahli yang mencapai 10 milyar. Dengan gaji sebesar itu dalam 6 bulan, SWF hanya investasi di deposito. Saya juga rasanya ingin melamar bekerja di SWF Indonesia. Cukup kelola dana dengan simpan dana di deposito. Atau jadi pengawasan di SWF. Digaji 29 milyar selama 6 bulan untuk mengawasi SWF yang simpan dana di deposito. Not bad. That’s my dream job.

Gaji direktur dan komisaris INA SWF Indonesia

Bila ada lowongan kerja sebagai pengawas SWF buka, saya siap melamar.

Implikasi Pada BUMN Karya

Melihat LK Q2 2021 SWF Indonesia maka menurut saya wajar saja kalau BUMN Karya masih melempem. Investasi asing belum ada. BUMN Karya masih terkatung-katung dan terhimpit banyak utang. Banyak utang yang akan jatuh tempo tahun ini sedangkan BUMN Karya kesulitan likuiditas.

Saya menanti Laporan Keuangan Q3 2021 SWF Indonesia, semoga saja ada perbaikan di periode ini.

Sementara menunggu dana asing yang katanya akan masuk SWF Indonesia meskipun belum jelas kapan itu akan terjadi maka ada baiknya saham BUMN Karya diskon saja dulu. Biar saya bisa lebih puas beli selot selot di harga diskon.

Saya tetap percaya prospek BUMN Karya akan cerah kedepannya. Kita hanya perlu sabar. Dan mari sama-sama berharap agar janji negara maju yang katanya mau investasi di SWF bukanlah PHP belaka.

Bila ingin cek Laporan Keuangan INA SWF maka bisa cek di sini. 

Jika ingin mendapatkan data analisis kuartalan bisa pesan di sini dan jika ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini atau dengan Buka rekening saham di Sucor Sekuritas di sini dengan menggunakan referal TIRA2.

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply