Pada 24 Juni 2024, WIFI dan PT Arsari Sentra Data (ASD), perusahaan milik Hashim, meneken MoU awal untuk kerja sama pengembangan layanan internet murah. Saat itu belum ada uang masuk, belum ada saham berpindah tangan.
Tapi publik mulai sadar bahwa Hashim mulai melirik sektor digital, dan gak tanggung-tanggung, langsung nyemplung ke jaringan fiber optik rumah alias FTTH. Waktu MoU awal diteken, harga saham WIFI masih berkeliaran di kisaran Rp165–Rp180. Bisa dibilang, saat itu sahamnya lagi tidur siang.
Lompat ke 24 Agustus 2024, MoU kedua diteken. Kali ini bukan basa-basi. Hashim, lewat ASD, masuk lebih dalam ke anak usaha WIFI yang bergerak di infrastruktur FTTH yaitu Jaringan Infra Andalan.
Proyeknya ambisius, targetnya nyambungin 25 juta rumah tangga dengan fiber optik di Pulau Jawa. Dan ini gak cuma janji-janji brosur. WIFI bahkan gandeng Nokia Indonesia buat teknologi jaringannya.
Pada saat itu, divisi ini sudah nyumbang 41% dari total EBIT perusahaan, dengan margin kotor 65% dan pendapatan semester I 2024 naik 171% YoY jadi Rp116,1 miliar. Perusahaan optimis bisa cetak pendapatan Rp600–650 miliar sepanjang 2024. Harga saham WIFI pun mulai bergerak naik, di kisaran Rp200–Rp220 pas MoU diteken.
Titik balik seriusnya datang pada 23 Desember 2024. ASD resmi masuk ke tubuh WIFI lewat akuisisi 45% saham PT Investasi Sukses Bersama (ISB), yang punya saham di WIFI. Nilai transaksinya Rp9,3 miliar, dengan harga per saham ISB di Rp1.530 untuk sekitar 6,08 juta lembar. Lewat skema ini, Hashim menguasai 22,55% saham WIFI secara tidak langsung. Transaksi ini dilaporkan ke Bursa pada 10 Januari 2025.
Masuk tahun 2025, manuver makin agresif. April 2025, WIFI ngumumin kabar besar yaitu Nippon Telegraph & Telephone East Corp (NTT East) dari Jepang resmi masuk sebagai investor baru di anak usaha baru WIFI bernama PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). NTT East ambil 49% saham IJE lewat private placement dengan dana Rp4 triliun.
Nggak lama kemudian, WIFI juga ngumumin rights issue Rp5,58 triliun yang bakal dieksekusi Juni 2025. Jadi, total dana yang akan digelontorkan untuk pengembangan jaringan FTTH bisa tembus Rp9,8 triliun. Duit segunung buat pasang kabel internet ke rumah-rumah.
Jadi kalau dirangkai dari awal, Hashim mulai dari MoU ringan di Juni 2024, masuk MoU serius Agustus, resmi pegang saham Desember, dan langsung dorong proyek masif bareng investor Jepang tahun 2025.
Dalam waktu kurang dari setahun, dia ubah posisi dari pengamat luar jadi pemain dalam yang pegang kendali strategis dan akses kapital besar. Ini bukan lagi cerita “ikut-ikutan tren digital”, tapi narasi serius tentang membangun infrastruktur internet nasional dengan modal dalam dan mitra global.
Pertanyaannya sekarang tinggal satu, jika duit udah siap, partner udah masuk, proyek jalan, apakah ini bakal sukses bawa internet murah ke 25 juta rumah? Atau malah jadi proyek ambisius yang nasibnya kayak jaringan Wi-Fi publik, sinyalnya ada, tapi nggak bisa connect? Waktu yang akan buktiin, tapi Hashim udah pasang kaki cukup dalam buat gak bisa setengah-setengah lagi.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!