Kalau kita buka laporan keuangan BRI per April 2025, ada satu baris teknis tapi penting yang namanya panjang yakni Liabilities on securities sold under repurchase agreements, yang nilainya melonjak dari Rp 26,2 triliun di April 2024 menjadi Rp 40,85 triliun di April 2025. Artinya, naik Rp 14,6 triliun atau +56 % hanya dalam waktu setahun.
Ini bukan utang biasa, tapi utang dari transaksi repo alias jual sementara surat berharga dengan janji beli balik. Dalam bahasa yang lebih gampang, ini seperti BRI menggadaikan obligasi yang mereka pegang supaya bisa dapat uang tunai cepat, tapi tetap janji ditebus nanti. Mirip Pak Toto gadaikan rumah tetangganya demi dapat duit.
Kenapa liabilitas repo ini melonjak? Jawabannya ketemu kalau kita lihat tiga hal sekaligus yakni kredit yang disalurkan, dana pihak ketiga (DPK), dan kepemilikan surat berharga (securities). Pertama, kredit naik dari Rp 1.190 triliun jadi Rp 1.240 triliun, alias tumbuh Rp 49,8 triliun (naik 4,2 %).
Ini tanda bahwa BRI tetap ekspansi, tetap dorong penyaluran pinjaman. Tapi sumber dananya, yaitu DPK, hanya naik dari Rp 1.394 triliun ke Rp 1.401 triliun, atau cuma Rp 6,7 triliun (naik 0,5 %). Jadi, uang masuk dari masyarakat nyaris stagnan, padahal uang yang keluar dalam bentuk kredit naik signifikan.
Di saat bersamaan, kepemilikan BRI atas surat berharga justru turun dari Rp 374 triliun ke Rp 322 triliun, alias turun Rp 52 triliun (-13,9 %). Artinya, sebagian surat berharga itu bisa jadi memang benar-benar dijual, atau dijadikan jaminan repo untuk bayar dividen atau salurkan kredit atau operasional lainnya.
Jadi gambaran besarnya begini, BRI pengen tetap ekspansi kredit (naik Rp 49,8 T), tapi dananya dari nasabah nggak cukup (cuma nambah Rp 6,7 T), sementara aset-aset likuid (securities) dipakai buat repo (utang repo naik Rp 14,6 T). Sisanya? Bisa jadi dari likuiditas internal atau sumber jangka pendek lainnya.
Ini kayak warung Bakso Nyangkut milik Pak Toto. Dia pengen tambah cabang karena banyak pelanggan baru, tapi duit dari pelanggan lama nggak nambah-nambah. Akhirnya, dia jual beberapa tabungan emas atau motor atau digadaikan ke tetangga (repo) buat nutup kebutuhan ekspansi. Dia masih kelihatan sibuk, usahanya jalan, tapi mulai ketergantungan pada pinjaman cepat yang sifatnya sementara.
Apakah ini bahaya? Belum tentu, tapi harus waspada. Nilai repo Rp 40,85 triliun memang hanya sekitar 2,2 % dari total aset BRI Rp 1.861 triliun, jadi secara struktur masih kecil. Tapi pertumbuhannya 56 % jelas bukan hal sepele.
Ketika dana dari nasabah nggak ikut naik, dan surat berharga terus ditekan, lalu BRI makin sering repo, itu artinya likuiditas mulai dikompres, dan mereka sedang mengandalkan utang jangka pendek buat menopang bisnis pinjam-meminjam yang sifatnya jangka panjang.
Jadi, Liabilities on securities sold under repurchase agreements ini bukan sekadar utang teknis. Ia adalah indikator bahwa BRI mulai pakai mode darurat ringan buat cari dana tunai cepat karena pertumbuhan kredit yang tetap agresif, DPK yang stagnan, dan surat berharga yang mulai menyusut. S
elama dilakukan terukur dan pasar uang stabil, ini sah-sah saja. Tapi kalau kondisi makro mulai goyang atau suku bunga naik, ketergantungan ini bisa berubah jadi tekanan nyata. Bakso-nya Pak Toto masih laku, tapi kalau terus-terusan utang ke tetangga buat beli daging, ya lama-lama bisa repot juga. Untungnya suku bunga BI sudah turun dan Dollar mulai sedikit jinak.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!