Selama 7 tahun terakhir, pergerakan investor asing di pasar modal Indonesia, khususnya IHSG, menunjukkan dinamika yang penuh liku, dipengaruhi oleh tekanan global, krisis, kebangkitan sektor tertentu, euforia sesaat, dan aksi akrobatik para bandar. Dari 2018 sampai Juli 2025, total dana asing yang keluar masuk sudah mencapai angka ribuan triliun, tapi pola yang muncul menunjukkan 1 hal jelas, investor asing bukan cuma ikut arus, tapi juga tahu kapan harus minggat dan kapan harus borong.
Kita mulai dari 2018, ketika investor asing mencatat Net Sell Rp50,7T. Tahun itu penuh tekanan karena The Fed agresif menaikkan suku bunga, rupiah anjlok sampai tembus Rp15.200/USD, dan kekhawatiran perang dagang AS–Tiongkok mulai menggila. Pasar emerging market babak belur, dan Indonesia tak kebal. IHSG turun hampir 3%, dan investor asing memilih hengkang. Tahun ini juga ditandai oleh ketidakpastian politik menjelang Pilpres 2019.
Tahun 2019, Net Sell asing hanya -Rp2,7T, terkecil dalam 8 tahun, karena pasar mulai stabil dan ekspektasi pemulihan muncul. Tapi belum sempat napas panjang, 2020 dihantam pandemi COVID-19. Investor asing langsung kabur lagi dengan Net Sell Rp47,8T. IHSG jeblok ke 3.900 dan semua sektor dihajar. Tapi dari titik terendah ini pula mulai muncul masa transisi yang membawa kita ke fase berikutnya.
Tahun 2021 dan 2022 adalah masa bulan madu asing dengan Indonesia. Pada 2021, investor asing mencatat Net Buy Rp39,7T dan dilanjutkan 2022 dengan rekor Net Buy Rp60,5T. Saat dunia mulai buka kembali, harga komoditas melonjak (terutama batubara, nikel, dan CPO), dan saham-saham seperti BYAN, ADMR, PTBA, MDKA, dan ANTM jadi primadona. Asing memborong karena kombinasi valuasi murah, fundamental membaik, dan sentimen positif dari naiknya harga komoditas. IHSG pun mencetak rekor all time high di 7.300-an.
Namun sejak 2023, arah mulai berubah. Meskipun masih Net Buy Rp10,2T di 2023 dan Rp16,53T di 2024, nilai akumulasinya mulai menyusut. Asing mulai selektif, tak lagi borong semua sektor. Sektor-sektor komoditas yang sempat digemari mulai ditinggal perlahan. Fokus mulai bergeser ke sektor infrastruktur, energi terbarukan, dan emiten yang menjanjikan profitabilitas tinggi tapi tetap likuid.
Masuk ke 2025, ini tahun yang mengejutkan. Sampai 18 Juli 2025, investor asing sudah mencatat Net Sell Rp59,6T, hampir menyamai angka 2018 dan 2020. Bahkan kalau tren ini lanjut, 2025 bisa jadi rekor tahun keluar terbesar sepanjang sejarah IHSG. Data dari Stockbit menunjukkan nilai transaksi asing sebagai berikut:
📌 Foreign Buy = Rp602T
📌 Foreign Sell = Rp661T
📌 Net Sell = -Rp59,6T (terdiri dari -Rp44,5T di pasar reguler dan -Rp15,1T di pasar tunai/nego)
Dan bukan cuma jualan, tapi jualannya di harga bawah. Banyak saham big cap justru turun selama 1 tahun terakhir dan asing memilih keluar:
📌 BBRI -21%, Net Sell -Rp25,7T
📌 BBCA -16%, Net Sell -Rp17,6T
📌 BMRI -27%, Net Sell -Rp13,2T
📌 ADRO -39%, Net Sell -Rp3,7T
📌 BBNI -18%, Net Sell -Rp2,9T
Yang menarik, asing justru belanja saham-saham yang sedang sideways atau malah sepi euforia seperti:
📌 ANTM +116%, Net Buy +Rp5,2T
📌 INDF +35%, Net Buy +Rp3,3T
📌 ASII +4,6%, Net Buy +Rp2,6T
📌 TLKM -13,7%, Net Buy +Rp1,7T
📌 BRIS +12%, Net Buy +Rp1,7T
📌 EXCL +17%, Net Buy +Rp1,6T
Artinya, asing mulai shifting ke saham defensif, mature, yang punya cashflow solid dan bukan saham gorengan.
Sebaliknya, saham-saham dengan return paling ekstrem justru tidak dibeli asing:
📌 PACK +13.348%, Net Sell -Rp14,27M
📌 UDNG +2.018%, Net Buy +Rp2,9M
📌 PGJO +905%, Net Buy +Rp2Jt
📌 PIPA +914%, Net Sell -Rp5,16M
Ini indikasi bahwa lonjakan harga bukan karena institusi masuk, tapi murni gorengan ritel dan bandar. Jadi jangan heran kalau harga naik 10× tapi asing justru cabut. Di sisi lain, saham-saham berkinerja -70% sampai -90% seperti MTFN, ISEA, ZBRA, SAPX juga cenderung dihindari asing.
Tahun 2025 adalah momen distribusi besar-besaran oleh investor asing. Setelah akumulasi sejak 2021, mereka sekarang pintar nyangkut ke investor lokal. Saham-saham bluechip mulai dilepas, gorengan justru jadi tontonan ritel, dan saham yang punya arus kas bagus jadi incaran sunyi. Buat investor lokal, ini saatnya nggak ikut arus. Jangan FOMO saham yang naik ribuan persen tapi asingnya sepi. Lebih baik perhatikan saham yang diborong asing diam-diam. Kadang yang sepi justru yang siap meledak, bukan yang udah meledak.
Pertanyaan apakah sebuah saham perlu investor aseng untuk bisa meroket ratusan hingga ribuan persen sebenarnya sudah terjawab oleh data pasar dalam beberapa tahun terakhir. Jawabannya, tidak perlu. Bahkan dalam banyak kasus, justru saham yang terbang ke langit mulai dari 500% hingga lebih dari 13.000% adalah saham-saham yang tidak disentuh oleh asing, atau malah dibuang oleh mereka. Artinya, kenaikan luar biasa pada saham-saham tertentu lebih banyak digerakkan oleh investor lokal, terutama ritel, serta aksi para bandar, bukan institusi asing.
Berikut ini daftar saham yang meroket ekstrem tapi tanpa dukungan investor asing
📌 PACK
Return 1 Tahun +13.348%
Net Foreign Flow -14,27 M
Asing kabur, tapi harga terbang ribuan persen
📌 UDNG
Return 1 Tahun +2.018%
Net Foreign Flow +2,9 M
Jumlah masuk asing sangat kecil, tidak signifikan
📌 PGJO
Return YTD +905%
Net Foreign Flow +2 M
Nyaris tak ada minat asing
📌 PIPA
Return YTD +914%
Net Foreign Flow -5,16 M
Asing malah buang, ritel yang gila-gilaan masuk
📌 POLU
Return 1 Tahun +1.952%
Net Foreign Flow -84,72 M
Asing jualan banyak, tapi harganya terus melesat
📌 MGLV
Return YTD +579%
Net Foreign Flow -24,67 M
Lagi-lagi asing justru keluar
Banyak saham tersebut yang lonjakan harganya bukan karena uang asing, melainkan karena kombinasi psikologi ritel, narasi bombastis di komunitas saham, rumor IPO anak usaha, atau sekadar sentimen spekulatif tanpa fundamental.
Bandingkan dengan saham-saham yang justru diborong asing besar-besaran
📌 ANTM
Return 1 Tahun +116%
Net Buy Asing +5,2 T
📌 INDF
Return 1 Tahun +35%
Net Buy Asing +3,3 T
📌 ASII
Return 1 Tahun +4,6%
Net Buy Asing +2,6 T
Ini menunjukkan bahwa investor asing cenderung masuk ke saham dengan return wajar dan fundamental kuat, bukan saham gorengan yang terbang ribuan persen. Aseng cenderung menghindari euforia karena mereka bermain untuk jangka panjang, bukan profit kilat.
Jadi saham bisa meledak seperti roket tanpa aseng. Bahkan dalam banyak kasus, kehadiran asing justru minim atau negatif saat saham sedang terbang. Kenaikan ekstrem itu bukan karena smart money masuk, tapi karena crowd retail mendadak FOMO. Tapi ingat, setelah naik ribuan persen tanpa fundamental dan tanpa dukungan institusi, saham-saham ini juga bisa jatuh bebas tanpa peringatan. Aseng mungkin tidak ikut naik, tapi mereka juga tidak akan ikut nyangkut.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!