Analisis transaksi pihak berelasi penting karena hubungan ini berpotensi memengaruhi keputusan keuangan dan operasional perusahaan, terutama jika transaksi tersebut melibatkan nilai yang besar. Transaksi pihak berelasi bisa membuka celah untuk praktik manipulasi harga atau markup yang tidak wajar, yang dapat merugikan perusahaan dan pemegang saham minoritas. Selain itu, ketergantungan yang tinggi pada pihak berelasi dapat menciptakan risiko likuiditas, terutama jika terjadi keterlambatan pembayaran piutang atau perubahan dalam hubungan bisnis. Dengan melakukan analisis yang cermat, perusahaan dapat memastikan bahwa transaksi ini dilakukan secara wajar dan tidak merugikan kesehatan keuangan mereka.
PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) mencatatkan beberapa transaksi dengan pihak berelasi yang melibatkan penjualan, piutang, dan utang. Salah satu pihak berelasi utama adalah Mulia Inc., Amerika Serikat, yang memiliki piutang usaha sebesar Rp2,92 miliar pada 30 Juni 2024, meningkat dari Rp1,98 miliar pada akhir 2023. Pertumbuhan sebesar 47,5% ini menunjukkan adanya peningkatan transaksi dengan entitas ini. Piutang usaha dari pihak berelasi ini menyumbang 0,54% dari total piutang usaha perusahaan, yang relatif kecil terhadap total piutang.
Selain Mulia Inc., Concord Building Materials Pte. Limited, Singapura mengalami penurunan piutang dari Rp772 juta menjadi Rp481 juta, mencatatkan penurunan sebesar 37,7%. Penurunan ini menunjukkan adanya pengurangan transaksi atau penagihan yang lebih cepat. Secara keseluruhan, piutang dari pihak berelasi menyumbang 0,05% dari total aset perusahaan, yang berarti pengaruhnya terhadap aset perusahaan relatif kecil.
Dari sisi penjualan, penjualan kepada Mulia Inc., Amerika Serikat mencapai Rp5,24 miliar pada 2024, meningkat dari Rp3,51 miliar pada 2023, dengan pertumbuhan sebesar 49,3%. Meskipun ini merupakan peningkatan yang besar, transaksi dengan pihak berelasi yang berlebihan bisa menimbulkan risiko potensi markup yang tinggi. Penjualan kepada Concord Building Materials Pte. Limited menurun drastis dari Rp6,51 miliar pada 2023 menjadi Rp3,26 miliar pada 2024, turun hampir 50%. Total penjualan kepada pihak berelasi menyumbang 0,41% dari total revenue, yang artinya kontribusi dari penjualan pihak berelasi terhadap pendapatan perusahaan relatif kecil dan terkendali.
Utang pihak berelasi juga relatif kecil, dengan utang lain-lain kepada pihak berelasi tercatat hanya sebesar Rp10 juta pada 2024. Jumlah ini sangat tidak signifikan jika dibandingkan dengan total utang pihak ketiga perusahaan sebesar Rp40,5 miliar, menyumbang hanya 0,025% dari total utang perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak bergantung pada utang dari pihak berelasi untuk operasionalnya.
Dari sisi piutang lain-lain, PT Muliakeramik Indahraya mencatatkan peningkatan piutang lain-lain dari Rp2,69 miliar pada 2023 menjadi Rp3,91 miliar pada 2024, mencatatkan pertumbuhan sebesar 45%. Peningkatan ini harus diwaspadai karena transaksi pihak berelasi yang besar dapat memicu risiko manipulasi harga atau markup. Piutang dari PT Eka Gunatama Mandiri menurun drastis dari Rp765 juta menjadi Rp105 juta, turun sebesar 86,3%. Piutang lain-lain dari pihak berelasi ini menyumbang sekitar 0,06% dari total aset perusahaan, yang masih sangat kecil dan tidak berdampak besar pada total posisi keuangan perusahaan.
Meskipun ada beberapa peningkatan pada piutang usaha dan penjualan kepada Mulia Inc., transaksi pihak berelasi yang berlebihan dapat menimbulkan potensi markup yang merugikan. Penurunan transaksi dengan Concord Building Materials dan PT Eka Gunatama Mandiri mengurangi risiko tersebut, yang baik bagi kesehatan keuangan perusahaan. Meski demikian, penting untuk terus memantau pembayaran piutang dari pihak berelasi guna menghindari masalah likuiditas di masa depan.
Dalam hal arus kas, karena kontribusi transaksi pihak berelasi terhadap total revenue dan piutang kecil, risiko terhadap likuiditas dari pihak berelasi cukup terbatas. Namun, transaksi pihak berelasi yang terlalu besar tetap harus dipantau untuk menghindari potensi manipulasi harga dan risiko keuangan yang tidak perlu.