Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightTOBA: Pembasmi Sampah Indonesia 

TOBA: Pembasmi Sampah Indonesia 

Tadi saya baru baca press release TOBA di Q2 2025. Setelah baca press release itu, saya hanya bisa bilang ini TOBA benar-benar tampan bin pemberani bin nekad bin edan karena mereka sampai rela kurangi bisnis batubara demi shifting ke bisnis pengolahan sampah dan EBT. Banyak perusahaan coal dan fossil energy yang katanya pengen ESG dan pengen go green tapi ternyata ndak berani lepas lini coal dan lini fossil mereka.

Alias omon omon doang. Ini TOBA malah rela lepas bisnis fossil mereka meskipun itu harus mengurangi laba perusahaan dalam jangka pendek. Tapi meskipun laba jangka pendek terkena imbas, harga saham TOBA malah tetap terbang. Apakah market mengapresiasi perubahan lini bisnis TOBA yang kini fokus ke EBT? Did price action uptrends talks louder than fundamental theory? Apakah ekspektasi bisnis pengolahan sampah di Indonesia memang seksi?

Kalau bicara soal perusahaan yang benar-benar sedang putar haluan dari bisnis abu-abu ke hijau-hijauan, TOBA alias PT TBS Energi Utama Tbk bisa dibilang kandidat utama. Perusahaan ini dulunya dikenal sebagai pemain batu bara, tapi sekarang sedang nekat banting setir ke energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Ini bukan sekadar jargon ESG ala korporat, tapi sudah terlihat dari aksi nyatanya, mulai dari divestasi PLTU, investasi di PLTM dan PLTS, hingga motor listrik Electrum. Dan yang bikin langkah ini makin relevan, Indonesia sekarang sedang benar-benar darurat sampah.

Setiap hari, Indonesia menghasilkan sekitar 186.000 ton sampah, setara lebih dari 68 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 8 juta ton yang berhasil didaur ulang. Sisanya, 30 persen tidak tertangani sama sekali, dan mayoritas hanya ditumpuk di TPA yang sudah kelebihan kapasitas, dibakar sembarangan, atau hanyut ke sungai dan laut. Kita bukan cuma bicara limbah rumah tangga, tapi juga sampah plastik, limbah medis, limbah industri, dan bahkan limbah B3 yang beracun.

Di Jakarta, TPA Bantargebang nyaris kolaps. Di Bandung, TPA Sarimukti sempat terbakar dan bikin kota lumpuh. Di Bali, TPA Suwung mengeluarkan asap beracun yang mengganggu pariwisata. Bahkan destinasi sekelas Labuan Bajo dan Raja Ampat kini tercemar tumpukan plastik. Ini bukan lagi urusan estetika. Ini soal kesehatan publik, krisis lingkungan, dan reputasi bangsa.

LIPI bahkan mencatat lebih dari 100 spesies laut di Indonesia sudah terdampak mikroplastik, dari plankton sampai ikan yang akhirnya kita makan. Tapi di tengah kekacauan ini, hampir tak ada sektor swasta yang benar-benar turun tangan. Sampai TOBA datang dengan keputusan paling berani dalam sejarah industri energi Indonesia, secara sukarela melepaskan seluruh bisnis PLTU batubara mereka yang dulu menyumbang lebih dari USD 40 juta atau sekitar Rp640 Miliar per tahun demi fokus ke bisnis energi bersih dan pengelolaan limbah.

Dan di sinilah cerita TOBA makin masuk akal. Perusahaan ini memang tidak hanya menyampaikan niat baik, tapi menjalankan langkah konkret yang ekstrem dan strategis:

1. Arah Baru Bisnis 
TOBA secara resmi beralih dari batubara ke tiga pilar hijau, energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah. Target mereka adalah netral karbon 2030. Ini diwujudkan lewat divestasi PLTU, pengembangan PLTM Sumber Jaya 6 MW di Lampung, PLTS Terapung Tembesi 46 MWp di Batam, serta kolaborasi motor listrik bersama GoTo lewat anak usaha Electrum.

2. Akuisisi Strategis 
Pada Maret dan Mei 2025, TOBA mengakuisisi dua entitas Singapura, Sembcorp Environment dan Sembcorp Enviro Facility, senilai total SGD 414 juta atau sekitar USD 305 juta setara ±Rp4,88 Triliun. Akuisisi ini menjadikan TOBA pemain regional dalam sektor waste management dengan teknologi dan skala global.

3. Dampak ke Kinerja 
Transformasi ini langsung terlihat di laporan keuangan H1 2025. Segmen pengelolaan limbah menyumbang USD 59,6 juta atau Rp953,6 Miliar, atau 35 persen dari total pendapatan dan berkontribusi 65 persen terhadap laba kotor. Sustainable business secara keseluruhan sudah naik ke 36 persen pendapatan, padahal tahun-tahun sebelumnya kontribusinya di bawah 10 persen.

4. Pandangan Analis 
Beberapa analis menyebut bahwa model bisnis Sembcorp sangat mungkin diduplikasi di kota-kota besar Indonesia. Jika revisi Perpres limbah benar-benar mendorong swasta masuk ke pengelolaan sistemik, maka TOBA ada di posisi strategis sebagai first mover. Kerugian yang dicatat tahun ini juga dianggap sebagai bagian wajar dari fase transisi, bukan tanda pelemahan fundamental.

Data keuangan Semester I 2025 mendukung arah ini. Meski pendapatan konsolidasian turun dari USD 248,7 juta atau Rp3,98 Triliun ke USD 172,2 juta atau Rp2,75 Triliun akibat anjloknya volume dan harga batu bara, TOBA justru mempercepat diversifikasi. Kontribusi batu bara yang sebelumnya 82 persen kini hanya 53 persen. Sektor hijau mulai mengambil alih panggung utama.

Langkah divestasi PLTU juga berdampak langsung ke lingkungan dan kas. TOBA berhasil memangkas emisi tahunan sebesar 1,4 juta ton CO₂ setara 86 persen dari total emisi sebelumnya. Ini bukan klaim kosong, tapi berdasarkan perhitungan Greenhouse Gas Protocol yang diaudit oleh EY Indonesia. Tambahan kas masuk dari divestasi mencapai USD 123,6 juta atau sekitar Rp1,98 Triliun. Meski secara akuntansi mencatat rugi bersih USD 115,3 juta atau Rp1,84 Triliun, angka itu didominasi rugi non kas, bukan kerugian operasional.

Yang tak kalah penting, akuisisi Sembcorp memberi TOBA akses ke teknologi yang bisa mengelola lebih dari 15.000 ton limbah per tahun dari lebih dari 5.000 titik. Dan seandainya jika proyek ini bisa direplikasi di Indonesia lewat kolaborasi dengan Danantara, dampaknya bisa nasional. Simulasi SPLI atau Sentra Pengolahan Limbah Indonesia menunjukkan bahwa jika dibangun 38 unit, satu di tiap provinsi, dengan kapasitas 500 ton per hari, maka total bisa mengolah 6,9 juta ton per tahun.

Dengan konversi 500 kWh listrik per ton, maka listrik yang dihasilkan mencapai 3,45 miliar kWh per tahun, cukup menerangi 3 juta rumah tangga. Dan hanya dari tipping fee pemda Rp300.000 per ton, potensi pendapatan jasa pengolahan sudah Rp2,07 Triliun per tahun. Belum termasuk listrik, RDF, kompos, dan carbon credit.

Sementara itu, Electrum anak usaha kendaraan listrik TOBA juga mencetak pertumbuhan signifikan. Jumlah motor listrik operasional per Juli 2025 mencapai 5.406 unit, dengan 320 titik BSS atau Battery Swap Station dan 21.000 kali penukaran per hari. Selain mengurangi emisi lebih dari 20 ton CO₂ per hari, program ini juga menaikkan penghasilan harian mitra driver hingga 25 persen karena biaya operasional yang lebih efisien.

Bandingkan dengan mayoritas perusahaan energi Indonesia yang masih nyaman duduk di singgasana batu bara. TOBA rela kehilangan pendapatan jangka pendek dan merugi sekarang demi sesuatu yang lebih besar, menyelamatkan lingkungan, menciptakan ekonomi sirkular, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Ini bukan bisnis kaleng kaleng. Ini proyek transformasi nasional.

Kalau kamu cinta Indonesia, hutan, laut, udara bersih, wisata alam, dan masa depan anak cucu, investasi di TOBA bukan cuma soal cuan. Ini tentang kontribusi nyata. Dan kalau Danantara ikut masuk, ini bisa jadi babak baru sejarah, negara dan swasta bersatu membenahi sampah, dari gunung sampai lautan. TOBA sudah ambil risiko besar. Sekarang tinggal siapa yang mau nyumbang perubahan.

Jadi, kalau suatu hari kamu lihat laut makin bersih, kota makin sehat, dan TPA gak meledak lagi, mungkin itu bukan keajaiban. Mungkin itu kerja keras TOBA dan para mitranya yang diam diam ngolah limbah yang dulunya dipandang najis jadi energi dan kebangkitan nasional. Di tengah gunungan sampah, TOBA melihat masa depan. Dan mereka sudah mulai membangunnya.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.

PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here