Sejarah PT Prima Multi Usaha Indonesia (PMUI) dimulai dari tahun 1998 ketika seorang pengusaha bernama Rudy Susanto Wijaya Kaswan mendirikan sebuah toko kecil bernama CV Prima Handphone di kota Cirebon, Jawa Barat. Toko ini awalnya hanya menjual ponsel bekas, kartu SIM, voucher isi ulang, dan aksesori sederhana seperti charger dan casing.
Tidak ada latar belakang konglomerasi, tidak ada backing venture capital, dan tidak ada gelar tinggi yang menyertai pendiriannya. Hanya semangat grassroots dan insting dagang lokal. Inilah cikal bakal dari entitas yang kelak berubah menjadi PMUI dan melantai di bursa saham.
Pada tahun-tahun awal, bisnis berkembang karena kemampuan membaca tren. Ketika penetrasi ponsel GSM meledak di akhir 90-an dan awal 2000-an, permintaan akan pulsa dan kartu perdana ikut meroket. CV Prima Handphone tidak hanya ikut-ikutan, tapi berhasil membangun relasi dengan operator besar, khususnya XL Axiata EXCL, dan menjadi salah satu distributor utama mereka di Jawa Barat. Dari sinilah perusahaan mulai membangun jaringan distribusi subdealer dan retail kecil.
Transformasi menjadi perusahaan terbatas (PT) dan perluasan area distribusi ke luar Cirebon dimulai seiring dengan munculnya kebutuhan untuk memperluas jaringan logistik. Pada 2007, Rudy mendirikan PT Graha Prima Mentari (GRPM) untuk menjangkau distribusi consumer goods dan membuka peluang sinergi logistik antara distribusi pulsa dan barang fisik. GRPM inilah yang kelak menjadi anak usaha penting PMUI pasca konsolidasi.
Selama lebih dari 20 tahun, Rudy menjabat sebagai Direktur Utama. Pada 2019, ia naik posisi menjadi Komisaris Utama dan menyerahkan jabatan eksekutif kepada adiknya, Agus Susanto.
Agus sendiri punya latar belakang akuntansi dari Universitas Tarumanagara dan pengalaman awal sebagai associate di PricewaterhouseCoopers Jakarta. Ia ikut mendirikan CV Prima Handphone sejak awal dan secara bertahap menjabat sebagai Komisaris, kemudian Direktur, dan kini menjadi Direktur Utama sejak Maret 2025.
Sosok penting lain adalah Ari Purwandini, direktur operasional yang memulai kariernya dari bawah sebagai staf keuangan pada 2004. Kariernya naik secara organik hingga akhirnya ditunjuk sebagai Direktur dan Corporate Secretary pada 2025. Ini adalah contoh jenjang karier yang bertahap dan organik serta memperkuat citra perusahaan sebagai bisnis keluarga dengan loyalitas dan kesinambungan SDM yang kuat.
Di sisi Komisaris Independen, PMUI menunjuk Theo Lekatompessy, seorang profesional senior dengan pengalaman lintas sektor di konglomerasi seperti Bakrie, Humpuss, Gajah Tunggal, dan Hong Leong, serta pendidikan tinggi dari MIT dan Erasmus. Penunjukannya memberikan bobot kredibilitas governance yang cukup, setidaknya dari sisi pengalaman korporasi dan jaringannya yang luas di kancah internasional.
Namun perlu dicatat bahwa struktur pengendalian PMUI sangat terpusat pada keluarga. Rudy dan Agus adalah kakak beradik. Tidak ada investor institusional atau pihak luar yang dominan. Seluruh kontrol ada pada lingkaran dalam. Ini bisa menjadi kelebihan karena visi terjaga, tetapi juga kelemahan karena potensi konflik kepentingan dan rendahnya independensi dalam pengambilan keputusan strategis. Terlebih, transaksi afiliasi sebelum IPO seperti pelepasan dan pembelian ulang entitas anak memperkuat narasi bahwa governance masih bersifat tertutup meskipun sudah go public.
Kini, PMUI mengklaim sebagai mitra distribusi resmi terbesar XL Axiata dengan cakupan area di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Kantor pusatnya tetap di kota asal, Jl. Tuparev No. 87A, Cirebon yang mengukuhkan identitas lokalnya. Meski dari luar tampak sederhana, perusahaan ini berhasil membangun jaringan distribusi nasional dan bertahan lebih dari dua dekade dengan manajemen internal dan struktur keuangan konservatif.
Dari toko kecil menjadi penyebar pulsa terbesar XL dan akhirnya go public. Itulah perjalanan PMUI. Tapi perjalanan ke depan tidak akan semudah sejarah ke belakang. Karena kini mereka bukan hanya berurusan dengan kios dan subdealer, tapi juga dengan investor publik yang menuntut transparansi, pertumbuhan nyata, dan tata kelola kelas dunia.
Sejarah mereka adalah tentang membangun dari nol. Tantangan mereka kini adalah apakah kisah toko ponsel jadi emiten ini akan berakhir sebagai cerita sukses jangka panjang atau hanya euforia sesaat di papan bursa.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


