PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dikenal publik lewat brand konsumen populernya, Rose Brand, yang lekat dengan produk minyak goreng dan gula. Kalau kita intip laporan keuangannya di semester I 2025 ini, Pendapatan TBLA naik 27%, dan laba bersihnya melesat 48% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini bukan disebabkan karena lonjakan konsumsi minyak atau gula, melainkan karena satu produknya yang belakangan mencuri panggung, yaitu biodiesel.

Kinerja luar biasa ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Q1. Volume penjualan minyak goreng turun 11% dari 66.428 ton ke 59.121 ton. PKO bahkan turun lebih dalam, 33% dari 10.000 ton menjadi 6.700 ton. Gula juga tidak luput dari tekanan, anjlok 43,9% dari 141.318 ton ke 79.291 ton. Di sisi lain, volume penjualan biodiesel justru naik lebih dari dua kali lipat, dari 82.705 ton menjadi 176.920 ton atau naik 113,9%.

Meskipun mayoritas produk mengalami penurunan volume, kenaikan harga jual menjaga sisi pendapatan. ASP minyak goreng naik 23,3% dari Rp14.256/kg menjadi Rp17.581/kg. PKO melonjak hampir dua kali lipat, dari Rp12.160/kg menjadi Rp24.009/kg. Gula juga naik 11,4% dari Rp14.145/kg menjadi Rp15.760/kg. Hanya saja untuk produk gulanya, kenaikan harga tidak bisa menahan penurunan nilai penjualan. Segmen gula ini, menyumbang Rp1,99 triliun di Q1 2024, tapi hanya Rp1,24 triliun di Q1 2025.

Lain cerita dengan biodiesel. Lonjakan volume penjualan ditambah kenaikan ASP sebesar 27% dari Rp11.356 menjadi Rp14.427 membuat pendapatan biodiesel meroket dari Rp939 miliar menjadi Rp2,55 triliun. Dengan kontribusi sebesar ini, wajar jika produk biodiesel disebut sebagai kuda hitam dalam laporan TBLA tahun ini.
Kinerja ini ditopang oleh ekspansi operasional TBLA. Pabrik biodiesel kedua milik TBLA yang berlokasi di Palembang mulai aktif sejak pertengahan 2024. Ini membuat kapasitas produksi biodiesel perusahaan naik signifikan menjadi 765.000 ton per tahun.

Di saat yang sama, TBLA juga berhasil mengamankan kontrak distribusi biodiesel sebesar 809.000 KL atau sekitar 686.000 ton untuk tahun 2025, naik drastis dibanding 321.000 ton di tahun sebelumnya. Kalau kita lihat pada Catatan Atas Laporan Keuangan TBLA, kenaikan kontrak ini datang dari PT Pertamina Patra Niaga.
Namun perlu diingat, kenaikan ASP yang menopang pendapatan tahun ini masih sangat dipengaruhi oleh harga CPO global. Dengan membaiknya pasokan sawit pasca-El Niño, tekanan pada harga bisa saja datang sewaktu-waktu. Biodiesel sebagai produk turunan CPO tentu tidak lepas dari risiko ini. Artinya, investor tetap harus berhati-hati jika berharap margin setinggi ini bisa dipertahankan jangka panjang.
Di sisi lain, meskipun kinerja biodiesel positif, tren pada produk gula perlu dicermati. Selama sembilan tahun terakhir, gula selalu menyumbang lebih dari 25% pendapatan TBLA, kecuali di tahun 2021. Tapi di 2025 ini, porsinya turun menjadi sekitar 22%. Jika tren ini berlanjut, struktur pendapatan TBLA akan makin bergeser, dan daya tahan dari segmen konsumen seperti gula perlu dievaluasi ulang.
TBLA sedang berada di titik transisi menarik. Dari yang awalnya dikenal sebagai produsen produk rumah tangga, kini mulai serius menjadi pemain energi terbarukan. Dengan kapasitas produksi yang sudah siap, kontrak biodiesel yang menggemuk, dan potensi tambahan permintaan dari mandatory B40, B50, dan seterusnya ke depan, jalan pertumbuhan baru terbuka lebar. Selama efisiensi bisa dijaga dan fluktuasi harga komoditas dikelola dengan hati-hati, TBLA menarik untuk kita Analisa lebih lanjut kedepannya.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi kontributor dan tidak mencerminkan pandangan resmi PintarSaham.id. Bukan merupakan rekomendasi investasi. Konten ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan laporan terbaru.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!