Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenSQMI Perusahaan Emas Struggling, Bertahan Karena Utang dari Pihak Berelasi

SQMI Perusahaan Emas Struggling, Bertahan Karena Utang dari Pihak Berelasi

Pada tahun 2023, PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) menghadapi tantangan besar dalam operasionalnya, terutama karena cuaca ekstrem akibat El Niño yang menyebabkan kekurangan air untuk tambang. Selain itu, kelangkaan sianida, bahan utama dalam proses penambangan emas, menghambat produksi. Akibatnya, perusahaan hanya mampu melakukan uji coba produksi tanpa mencapai skala komersial.

Masuk tahun 2024, kondisi mulai membaik. Pada Agustus 2024, SQMI berhasil memproduksi 2.562 gram emas Dore, menandakan peningkatan signifikan. Pasokan sianida kembali normal, dan perusahaan menargetkan kapasitas produksi 300 ton per hari pada September 2024. Hal ini merupakan pemulihan dari hambatan produksi tahun sebelumnya. Namun, laporan keuangan Q2 2024 menunjukkan bahwa meskipun produksi meningkat, pendapatan masih terbatas, hanya mencapai Rp136 juta.

Pendapatan tersebut masih jauh dari target untuk skala komersial, dengan beban pokok penjualan sebesar Rp132 juta, yang hampir setara dengan pendapatan. Hal ini menyebabkan margin keuntungan yang sangat tipis, menunjukkan bahwa SQMI belum mencapai profitabilitas. Beban operasional yang tinggi juga menjadi masalah, dengan Rp8,79 miliar untuk beban operasi lapangan dan Rp10,08 miliar untuk beban administrasi.

SQMI mencatat kerugian bersih sebesar Rp28,14 miliar pada Q2 2024, meningkat dari kerugian Rp8,11 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam produksi, beban operasional yang besar tetap menjadi penghambat utama. Peningkatan kapasitas produksi belum cukup untuk menutupi kerugian ini.

Likuiditas perusahaan sedikit membaik dengan posisi kas Rp2,65 miliar pada akhir Juni 2024, meningkat dari Rp2,61 miliar pada akhir 2023. Namun, peningkatan ini masih tidak sebanding dengan total liabilitas jangka pendek sebesar Rp421,5 miliar. Dengan utang yang besar, terutama utang kepada pihak berelasi sebesar Rp270,69 miliar, perusahaan masih sangat bergantung pada pembiayaan eksternal.  Pihak berelasi yang memberikan utang antara lain Wilton Resources Holdings Pte. Ltd. sebesar Rp148,40 miliar dan Wilton Resources Corporation Ltd. sebesar Rp122,29 miliar, yang menyediakan pinjaman tanpa bunga.

Kerugian per saham meningkat menjadi Rp1,78 pada Q2 2024 dari Rp0,51 pada Q2 2023, menandakan dampak kerugian terhadap pemegang saham semakin besar. Jika kondisi ini berlanjut, sulit bagi perusahaan untuk menarik investor baru, yang dapat memperburuk situasi pendanaan.

Namun, SQMI menunjukkan komitmen pada investasi infrastruktur dengan biaya akumulasi sebesar Rp226,5 miliar untuk fasilitas produksi. Ini adalah investasi besar yang diharapkan meningkatkan kapasitas produksi ke depan, meskipun saat ini belum menghasilkan dampak yang signifikan terhadap pendapatan.

Peningkatan produksi emas pada tahun 2024 menunjukkan arah positif, namun efisiensi operasional masih menjadi tantangan utama. Perusahaan perlu fokus pada pengurangan biaya dan peningkatan pendapatan agar dapat mencapai titik impas dan profitabilitas.

Keseimbangan antara operasional yang lebih efisien dan mitigasi risiko eksternal, seperti ketergantungan pasokan bahan baku dan cuaca ekstrem, sangat penting bagi keberlanjutan jangka panjang SQMI.  Meskipun ada beberapa perbaikan, tantangan finansial seperti beban utang dan kerugian bersih perlu diatasi segera.

SQMI berada dalam fase transisi. Produksi meningkat, namun beban operasional dan ketergantungan pada pembiayaan masih membatasi potensi pertumbuhan. Tantangan tersebut harus dihadapi untuk mencapai stabilitas operasional dan profitabilitas jangka panjang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here