Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightSOLA LK Q2 2025: Laba Terbang?

SOLA LK Q2 2025: Laba Terbang?

PT Xolare RCR Energy Tbk atau SOLA di semester pertama 2025 benar-benar tampil seperti pemain baru yang tidak hanya ikut bertanding tapi langsung mencuri perhatian. Pendapatan yang setahun lalu di Juni 2024 hanya Rp33,09 miliar kini melonjak menjadi Rp100,02 miliar. Artinya, hanya dalam enam bulan, perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 202,2% yang jarang sekali terlihat pada emiten sekelasnya.

Sumber ledakan ini datang dari segmen konstruksi yang melonjak dari Rp12,11 miliar menjadi Rp81,99 miliar atau tumbuh 577% sehingga menjadi mesin utama pertumbuhan. Segmen aspal justru sedikit turun dari Rp20,97 miliar menjadi Rp18,02 miliar atau minus 14,1% yang kemungkinan besar karena manajemen lebih fokus menggarap proyek konstruksi bernilai besar dan berjangka panjang.

Seiring naiknya pendapatan, beban pokok penjualan (COGS) juga ikut terdongkrak dari Rp24,12 miliar ke Rp75,21 miliar. Walau begitu, laba kotor masih berhasil membengkak dari Rp8,96 miliar menjadi Rp24,81 miliar. Margin laba kotor sedikit terkoreksi dari 27% menjadi 24,8% yang wajar mengingat proyek konstruksi umumnya menawarkan margin lebih tipis dibanding penjualan aspal.

Namun yang menarik, beban usaha justru menurun dari Rp12,67 miliar menjadi Rp11,83 miliar sehingga perusahaan berbalik dari rugi operasi Rp3,7 miliar menjadi laba operasi Rp12,97 miliar. Kondisi ini jarang terjadi karena biasanya pertumbuhan pendapatan setinggi ini akan diiringi kenaikan beban usaha, tapi SOLA justru mampu menekan biaya operasional dan memanfaatkan skala ekonomi.

Pos pendapatan dan beban lain-lain pada 2025 berubah menjadi beban Rp2,87 miliar dari yang sebelumnya pendapatan Rp68,5 juta di 2024. Lonjakan ini utamanya karena kenaikan beban administrasi bank dan beban lain-lain, namun tidak sampai merusak tren besar kinerja. Laba sebelum pajak ikut berbalik positif dari minus Rp4,19 miliar menjadi positif Rp10,09 miliar dan laba bersih juga berada di angka yang sama, menandai keberhasilan turnaround yang signifikan hanya dalam setahun.

Dari sisi neraca, total aset meningkat dari Rp184,5 miliar di akhir 2024 menjadi Rp212,8 miliar pada Juni 2025. Aset lancar justru turun dari Rp121,6 miliar menjadi Rp98,6 miliar, terutama karena kas dan bank yang menyusut dari Rp25,2 miliar menjadi Rp5,8 miliar dan piutang usaha yang menurun tajam dari Rp52,9 miliar menjadi Rp12,2 miliar.

Penurunan piutang usaha ini bisa menjadi sinyal bahwa penagihan kas berjalan efektif atau proyek yang berjalan memiliki pola pembayaran di muka. Sementara itu, aset tidak lancar melonjak dari Rp62,8 miliar menjadi Rp114,1 miliar dengan lonjakan terbesar pada aset tetap yang naik hampir dua kali lipat dari Rp49,7 miliar menjadi Rp103,3 miliar, jelas menunjukkan investasi besar-besaran (CAPEX) pada fasilitas dan peralatan.

Liabilitas naik dari Rp34,7 miliar menjadi Rp54,7 miliar. Liabilitas jangka pendek mendominasi kenaikan ini, dari Rp29,8 miliar menjadi Rp44,1 miliar, terutama karena liabilitas kontrak yang melesat dari Rp1 miliar menjadi Rp17,5 miliar. Ini adalah kabar baik karena liabilitas kontrak berarti pelanggan sudah membayar di muka sebelum pekerjaan selesai, yang otomatis memperkuat likuiditas perusahaan tanpa perlu menambah utang bank. Utang bank jangka pendek justru turun dari Rp21,9 miliar menjadi Rp11,4 miliar, artinya ada pembayaran utang di tengah ekspansi. Ekuitas juga naik dari Rp149,7 miliar menjadi Rp158,1 miliar, didorong oleh laba ditahan yang bertambah seiring kinerja positif.

Arus kas dari aktivitas operasi (CFO) menjadi bintang utama karena berhasil berbalik dari negatif Rp46,8 miliar di Juni 2024 menjadi positif Rp39,3 miliar di Juni 2025. Artinya operasional inti kini menghasilkan kas nyata yang besar. Namun, arus kas investasi (CFI) tertekan negatif Rp57,7 miliar, jauh lebih besar dibanding negatif Rp16,6 miliar tahun lalu, sejalan dengan pembelian aset tetap yang melonjak di neraca.

Arus kas pendanaan (CFF) juga berubah dari positif Rp79,5 miliar di 2024, yang waktu itu didorong dana IPO, menjadi negatif Rp1,0 miliar di 2025 karena pembayaran utang bank dan pembagian dividen. Hasil akhirnya, saldo kas berkurang Rp19,4 miliar menjadi Rp5,8 miliar di akhir Juni 2025.Kalau dibawa ke ranah valuasi, dengan harga saham Rp170 dan ekuitas Rp158,1 miliar, nilai buku per saham (BVPS) berada di Rp48,14 yang menghasilkan PBV 3,53x.

Laba per saham untuk enam bulan sebesar Rp3,08 kalau disetahunkan menjadi Rp6,16, sehingga PER berada di 27,6x. Angka ini memang terlihat premium, tapi dengan pertumbuhan pendapatan 202% dan laba bersih yang berbalik 341% dalam enam bulan, pasar memberi harga tinggi dengan ekspektasi pertumbuhan berlanjut.SOLA adalah contoh klasik perusahaan pasca-IPO yang langsung agresif mengeksekusi ekspansi. Mereka tidak hanya berhasil membalikkan rugi menjadi laba, tetapi juga mampu menghasilkan kas operasi besar sambil menekan beban usaha di tengah lonjakan pendapatan.

Risiko yang perlu diawasi ada pada tingginya CAPEX yang membuat free cash flow negatif, penurunan kas yang cukup signifikan, margin laba kotor yang sedikit tertekan, dan piutang pihak berelasi yang relatif besar. Namun dengan tingkat utang rendah, liabilitas kontrak yang tinggi, dan dukungan induk perusahaan, SOLA punya bantalan yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan. Jika eksekusi proyek tetap disiplin dan aset baru dimanfaatkan optimal, valuasi premium ini bisa terbayar dengan hasil nyata di laba masa depan. Sebaliknya, jika proyek melambat atau margin terus tergerus, pasar bisa cepat mengoreksi ekspektasi yang sudah terlanjur tinggi.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here