ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Radar 9 November 2021: Archegos

Saya selalu salut dengan kehebatan orang kaya dunia dalam mekanisme penghindaran pajak dan dalam cara membuat kepemilikan  di suatu saham tidak terdeteksi.

Elon Musk dan Jeff Bezos bisa tetap memiliki duit banyak meskipun mereka tidak menjual saham mereka di Tesla maupun Amazon. Ada teknik untuk melakukan ini.

Tapi yang menurut saya paling menarik adalah teknik agar bisa menggoreng saham agar tidak ketahuan. Teknik yang digunakan oleh Archegos.

Archegos adalah family office atau semacam hedge fund manager yang beberapa bulan lalu berhasil membuat beberapa bank prime broker rugi besar. Total lebih dari 20 milyar dollar aset Archegos lenyap dalam 2 hari saja. Dan bank prime broker yang terlibat di dalamnya antara lain Goldman Sach, Morgan Stanley, Nomura, Deutsche Bank, UBS dan Credit Suisse.

Bill Hwang yang sempat memiliki kekayaan 20 Milyar dollar nyaris saja menjadi orang terkaya di dunia kalau kejadian margin call Viacom tidak pernah terwujud.

Bill Hwang awalnya memiliki uang 200 juta dollar di 2013. Dan di 2020, uang 200 juta dollar tersebut berubah jadi 20 Milyar dollar. Bill Hwang butuh waktu 7 tahun untuk membuat assetnya menjadi ten bagger. Dan dalam 2 hari saja, duit 20 milyar tersebut langsung lenyap tak bersisa. Kehilangan duit super banyak yang tercepat dalam sejarah.

Duit yang hilang tersebut menyeret beberapa bank besar dunia dan mengakibatkan beberapa bos di bank – bank tersebut kena pecat.

Tidak banyak orang yang kenal Bill Hwang. Saya pun baru dengar namanya setelah skandal Archegos di blow up media. Bill Hwang memang sosok yang low profile. Dia hanya mengendarai mobil SUV Hyundai dan rajin ke ibadah di hari Minggu serta tinggal di perumahan pinggiran kota New Jersey.

Berhubung Bill Hwang adalah jemaat yang taat maka nampaknya dia bukanlah orang yang materialistis. Dia tidak suka berjudi di kasino dan senantiasa hidup sederhana. Tapi dia justru suka menggunakan margin yang sangat besar ketika melakukan trading. Benar – benar sebuah paradox.

Teknik investasi Bill Huang adalah concentrated bet. Dia memilih fokus pada beberapa saham saja dan terus – menerus meningkatkan posisi di saham tersebut dengan menggunakan margin. Begitu harga saham naik, dia semakin menambah posisi, lagi dan lagi dan lagi. Tapi duit yang dipakai untuk tambah posisi adalah duit margin. Teknik ini bisa membuat investor kaya raya dengan cepat. Makanya Bill Hwang bisa membuat duitnya berkembang dengan sangat cepat dari 200 juta menjadi 20 milyar dollar hanya dalam jangka waktu 7 tahun saja. Tapi itu juga bisa membuat miskin dalam sekejap juga begitu ada sesuatu yang salah. Dalam kasus Bill Hwang, something wrong nya itu adalah ketika Viacom tiba-tiba ingin melakukan right issue alias menerbitkan saham baru karena merasa saham mereka sudah naik tinggi dan mereka memang butuh modal untuk ekspansi. Viacom berpikir kalau naiknya saham mereka adalah karena minat market yang sangat besar terhadap perusahaan mereka sehingga mereka pikir kalau lakukan right issue, maka market akan menyerap semua saham tersebut. Hal yang tidak diketahui oleh manajemen Viacom adalah naiknya harga saham mereka, driver utamanya adalah Bill Hwang. Dengan menggunakan margin yang sangat banyak, Bill Hwang terus menambah posisi di Viacom tanpa ketahuan, sehingga harga saham naik tapi namanya tidak masuk dalam daftar kepemilikan >5%.

Keberhasilan Bill Hwang dalam menumbuhkan aset dengan cepat memang berada pada strategi yang focus bet. Sangat beda dengan teknik hedge fund manager pada umumnya yang melakukan diversifikasi aset.

Di masa lalu, Bill Hwang juga pernah mengalami masalah yang mirip ketika terjadi short squeeze Volkswagen di 2008. Dan di 2010 dia dituduh melakukan Insider Trading. Hingga terpaksa dia menutup hedge fund manager nya yang lama, Tiger Asia, dan mengembalikan semua dana nasabah. Karena goodwill nya ini, maka big bank masih percaya dengan Bill Hwang. Big Bank merasa kalau Bill Hwang adalah orang yang bisa menambah Revenue Perusahaan. Apalagi kalau Bill Hwang menggunakan banyak margin lagi. Makin banyak margin, makin cuan prime broker.

Setelah menutup Tiger Asia, Bill Hwang mendirikan Archegos. Tujuan utama dia mendirikan family office ini adalah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dan membahagiakan Tuhan. Investor yang benar-benar religius. Setelah didakwa bersalah dalam kasus Insider Trading, Bill Hwang menjadi semakin religius. Dia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Pada masa jayanya, Archegos banyak mensponsori acara keagamaan. Dia mendonasikan banyak uang atas nama Archegos, bukan atas namanya. Katanya dia melakukan itu agar Tuhan menyukainya.

Dengan tingkat keberagamaan yang sangat tinggi seperti itu, semua orang pasti berpikir kalau Bill Hwang akan menjadi investor yang melakukan pendekatan safe ketika berada di market. Tapi ternyata strateginya jauh dari kata aman.

Secara simpel, Archegos meminjam duit dari satu prime broker untuk beli saham yang dipercaya oleh Bill Hwang akan naik. Jadi awalnya adalah keyakinan. Saham yang dia beli Baidu, Shopify dan Viacom CBS serta beberapa saham lain yang kemungkinan akan naik bersama ketiga core stock tersebut. Total tidak sampai 10 saham. Lalu dia menghubungi beberapa prime broker big bank untuk kembali meminjam duit untuk beli saham. Dan nampaknya para big bank tersebut tidak tahu kalau Bill Hwang meminjam banyak duit dari mereka semua atau mungkin mereka tahu tapi mereka tidak peduli. Toh, prinsipnya mungkin Yang Penting Cuan.

Banyak yang tidak tahu kalau Bill Hwang memiliki banyak posisi di saham Baidu, Viacom Dan Shopify karena Bill Hwang menyembunyikan posisi lewat mekanisme Total Return Swaps.

Saya rasa banyak orang kaya dunia yang memanfaatkan strategi Total Return Swap untuk menyembunyikan posisi mereka di sebuah saham. Jika Bill Hwang saja bisa melakukannya, orang lain tentu juga bisa melakukannya.

Total Return Swap bukanlah hal yang ilegal. Tapi dianggap sebagai instrumen derivative yang beresiko tinggi. Jadi dengan Total Return Swaps, bank membuat kontrak yang bisa memudahkan investor untuk mengambil posisi yang sangat besar di sebuah saham tanpa harus menyetor banyak duit di depan. Jadi misalnya Bill Hwang mau beli saham INDF 10 juta lembar saham di harga 6300 rupiah, maka seharusnya Bill Hwang mengeluarkan duit 63 milyar rupiah. Tapi dengan Total Return Swaps, Bill Hwang tidak perlu mengeluarkan duit sebanyak itu. Bill Hwang cukup keluar duit 10-20% dari 63 milyar atau sekitar 6-10 milyar rupiah untuk bayar fee ke bank dan sebagai gantinya big bank yang ambil posisi dan beli 10 juta lembar saham INDF. Jadi Bill Hwang tidak tercatat memiliki saham INDF, sedangkan yang tercatat memiliki saham INDF adalah bank prime broker Bill Hwang. Ingat, ini hanya contoh karena Bill Hwang tidak beli saham INDF. Dengan hanya bayar fee ke prime brokers, Bill Hwang bisa ikut menikmati naik dan turunnya harga saham. Jika harga saham turun maka Archegos harus injeksi modal lagi ke prime broker. Namun jika saham naik, maka Archegos tinggal duduk santai saja ikutan cuan sebesar cuannya bank. Jadi meskipun hanya Setor dana 6 miliar rupiah, tapi kalau harga saham INDF yang dipegang bank naik 10% maka Archegos tetap dihitung cuan sebesar 60 milyar + 10%. Jadi modal Archegos 6 miliar, tapi bisa cuan 6 milyar juga padahal saham INDF hanya naik 10%. Itulah keajaiban Total Return Swap.

Dan yang paling penting adalah nama Archegos tidak bisa terdeteksi oleh SEC alias OJK nya Amerika Serikat. Karena secara legal, yang beli saham tersebut adalah prime broker. Mungkin karena itu juga sehingga Bill Hwang bisa meminjam duit dari banyak big bank pakai mekanisme Total Return Swap tanpa ketahuan. Semakin kaya seseorang, semakin low profile orang tersebut. Pada umumnya memang orang yang benar-benar kaya akan menyembunyikan jati dirinya.

Di Amerika Serikat ada aturan yang melarang pembelian aset dengan menggunakan duit margin >50% asset. Tapi aturan tersebut tidak berlaku pada hedge fund dan family office. Itu lah mengapa Archegos bisa pakai duit margin sebanyak – banyaknya tanpa ada yang bisa melarang.

Morgan Stanley, Goldman Sach, Deutsche Bank, Nomura, Credit Suisse, dan UBS sadar dengan resiko mereka meminjamkan duit ke Bill Hwang. Yang mereka tidak sadari adalah kalau ternyata Archegos tidak melakukan diversifikasi dan focus bet nya hanya pada beberapa saham saja. Jadi satu saham bisa memiliki lebih dari satu total return swaps. Margin over margin over margin. Sehingga bila satu saham saja yang anjlok, maka semua total return swap langsung kena margin call.

Dan itulah yang terjadi di Maret 2021, Viacom CBS mengumumkan akan right issue. Harga saham anjlok. Langsung terjadi margin call. Big bank meminta Bill Hwang menjual collateral nya atau melakukan injeksi lebih banyak modal. Untuk menghindari gagal bayar dan kehilangan seluruh modal. Dengan begitu meskipun rugi, setidaknya modal bisa selamat. Tapi sayangnya Bill Hwang menolak. Mungkin Bill Hwang percaya kalau saham Viacom atau Baidu akan rebound. Tapi ternyata saham anjlok terus.

Dan akhirnya bank mulai panik. Beberapa wakil big bank Goldman Sachs, Morgan Stanley, Nomura, dan Credit Suisse bikin pertemuan. Mereka diskusi mau ambil tindakan apa. Nomura dan Credit Suisse usul agar tindakan penyelamatan dilakukan pelan – pelan saja. Tapi bank lain tidak setuju. Dan akhirnya tidak terjadi kesepakatan dan Panic selling begin. Semua big bank berlomba menjual saham yang menjadi collateral Archegos. Ramai – ramai jualan block sale. Dan yang jadi pemenang dalam lomba Panic selling tersebut adalah Goldman Sach dan Morgan Stanley. Sedangkan yang paling rugi adalah Credit Suisse dan Nomura.

Credit Suisse rugi 3,4 milyar dollar dan 2 bos dipecat. Nomura rugi 2 milyar dollar.

Pelajaran

Kurangi margin berlebihan dan lakukan diversifikasi aset.

Skydrugz Bot Radar

Project Akumulasi November 2021:

Project November 2021

Saham PBV PER PLAN Harga
TOWR 5.79 18.11 Bid 1190, 1180, 1160, 1140 1195
KBLI 0,52 23,87 Bid 294, 290, 288 294
PTBA 1,47 4.80 Bid 2640, 2620, 2600 2680
MIKA 6,25 27,35 Bid 2240, 2220, 2200, 2190 2250

Guidelines untuk menggunakan Radar cek di sini

Jika ingin mendapatkan data analisis Laporan Keuangan Kuartalan bisa pesan di sini atau menghubungi Whatsapp Admin Pintarsaham.id +62 831-1918-1386

Untuk konsultasi perencanaan keuangan atau Financial Planning dari Certified Financial Planner Tim Pintarsaham.id bisa juga melakukan reservasi via Whatsapp +62 831-1918-1386

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini atau hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386 atau dengan Buka rekening saham di Sucor Sekuritas di sini dengan menggunakan referal TIRA2. Sedangkan jika ingin Trading Kripto bisa daftar di sini

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply