Skydrugz Radar 12 September 2021: Reksadana Saham dan Campuran
Beberapa jam lalu, saya membuat tulisan tentang apa saja top holding fund manager dengan dana kelolaan terbesar di Indonesia. Setelah saya membuat tulisan tersebut ada beberapa pembaca Pintarsaham yang PM saya dan menanyakan reksadana saham apa saja yang layak untuk investasi saat ini. Kalau sendiri, untuk reksadana saham, preferensi saya hanyalah reksadana saham index. Satu-satunya reksadana saham yang saya miliki di portofolio adalah reksadana saham index BNI-AM IDX30 itupun porsinya kurang dari 10% portofolio. Saya menjadikan reksadana saham index sebagai benchmark untuk portofolio saham yang saya kelola sendiri. Untuk reksadana saham BNI-AM IDX30, saya melakukan pembelian sekali seminggu secara rutin. Beberapa waktu lalu saya melakukan eksperimen dengan melakukan pembelian reksadana index setiap hari dan ternyata hasilnya kurang maksimal jika dibandingkan dengan pembelian reksadana index seminggu sekali. Jadi sekarang reksadana index hanya saya beli seminggu sekali tidak peduli bursa lagi hijau atau merah. Lagian harga belinya hanya 10.000 rupiah/unit jadi anggap saja duit minum kopi atau snack dipakai buat beli reksadana.
Sebenarnya untuk memilih reksadana ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan seperti expense ratio, riwayat kinerja, drawdown, dana kelolaan, holding asset, bagaimana riwayat kinerja reksadana di masa lalu, dan yang paling utama adalah bagaimana GCG fund manager. Karena tentu kita ingin dana kita dikelola oleh fund manager yang jujur dan berintegritas sehingga dana kita bisa aman hingga pensiun dan kalau bisa diwariskan ke anak cucu. Reksadana sudah ada sejak dulu kala. Banyak yang bangkrut atau terlikuidasi. Namun ada juga beberapa reksadana yang panjang umur dan masih bertahan hingga sekarang.
Reksadana Tertua Di Dunia
Apakah mungkin reksadana diwariskan ke anak cucu? Jawabannya bisa banget dengan catatan fund manager tersebut bisa tetap survive hingga ratusan tahun kemudian. Apakah ada reksadana yang umur panjang di dunia ini? Banyak. Beberapa di antaranya bisa lihat di bawah ini:
| No | Nama | Tahun Pendirian |
| 1 | MFS Massachusetts Investors Fund (MITTX) | 1924 |
| 2 | Putnam Investors Fund (PINVX) | 1925 |
| 3 | Pioneer Fund (PIODX) | 1928 |
| 4 | Vanguard Wellington Fund (VWELX) | 1929 |
| 5 | CGM Mutual Fund (LOMMX) | 1929 |
| 6 | Fidelity Fund (FFIDX) | 1930 |
| 7 | Dodge & Cox Balance Fund (DODBX) | 1931 |
Reksadana-reksadana di atas berhasil melewati berbagai perang dan krisis, telah berganti banyak pengelola, dan mereka tetap eksis sampai sekarang, Mungkin saja orang yang beli reksadana Vanguard Wellington Fund di tahun 1930, sudah mewariskan reksadananya ke anak cucunya.
Untuk Indonesia, reksadana adalah barang baru. Yang pertama kali bikin reksadana adalah PT Danareksa yang menerbitkan Sertifikat Danareksa (Reksa Dana) di tahun 1978 sebagai wadah dalam mengumpulkan dana dari masyarakat umum dan mendorong perdagangan surat-surat berharga di pasar modal.

Saya tidak tahu bagaimana nasib reksadana pertama di Indonesia. Apakah masih lanjut atau tidak. Tapi memang reksadana di Indonesia baru booming dalam 10 tahun terakhir.
Top Holding Reksadana Saham dan Campuran Dengan Dana Kelolaan di Atas 1 Triliun Rupiah
Dari data yang saya kompilasi dari beberapa APERD, saya menemukan bahwa reksadana saham dengan aset kelolaan terbesar di hingga Agustus 2021 adalah Schroder Dana Prestasi Plus yang memiliki dana kelolaan 9 Triliun. Dalam kompilasi ini saya juga memasukkan reksadana campuran karena dalam portofolio reksadana campuran ada juga aset saham. Data top holding yang saya masukan berdasarkan data top holding Juli 2021.
Definisi reksadana besar yang saya gunakan adalah apabila reksadana tersebut memiliki dana kelolaan di atas 1 Triliun. Saya menganggap reksadana dengan dana kelolaan sebesar itu dapat menggerakkan market ketika melakukan pembelian maupun penjualan saham. Mereka adalah market mover.
Dari hasil penelusuran. saya menemukan ada 38 reksadana dengan dana kelolaan di atas 1 Triliun. Adapun rinciannya bisa dilihat sebagai berikut:
| No | Nama Reksadana | Jenis Reksadana | Dana Kelolaan (Rupiah) | Top Holding (Juli 2021) |
| 1 | SCHRODER DANA PRESTASI PLUS | Saham | 9.043.114.226.679,52 | ANTM, ASII, BBNI, BBCA, SIDO, MLBI, BMRI, MYOR, BBRI, TLKM |
| 2 | BATAVIA DANA SAHAM | Saham | 6.381.500.943.523,48 | ARTO, TBIG, EMTK, BBRI, BBNI, ANTM, BBCA, BMRI, ASII, TLKM |
| 3 | ASHMORE DANA EKUITAS NUSANTARA | Saham | 5.539.935.178.159,00 | ARTO, ADRO, MIKA, BBRI, EMTK, TLKM, BMRI, ASII, BBNI, BBCA |
| 4 | MANULIFE SAHAM ANDALAN | Saham | 5.038.247.449.999,00 | TLKM, MCAS, BBCA, MPPA, BMRI, MLPL, DMMX, ARTO, TBIG, MDKA |
| 5 | SCHRODER DANA PRESTASI | Saham | 4.493.956.832.550,08 | BUKA, BMRI, TLKM, MYOR, BBCA, BBRI, MAPI, CTRA, ASII, ANTM |
| 6 | MANDIRI SAHAM ATRAKTIF | Saham | 3.084.741.610.901,68 | No Data |
| 7 | ASHMORE DANA PROGRESIF NUSANTARA | Saham | 2.782.593.006.958,00 | SCMA, ANTM, ARTO, MIKA, MDKA, ADRO, BBRI, BBCA, TLKM, BMRI |
| 8 | MANULIFE DANA SAHAM UTAMA | Saham | 2.718.464.698.113,43 | No Data |
| 9 | REKSA DANA MANULIFE DANA SAHAM KELAS A | Saham | 2.699.828.972.055,64 | DMMX, ARTO, TLKM, BBNI, TOWR, MDKA, BBRI, BMRI, BBCA, ASII |
| 10 | ASHMORE SAHAM SEJAHTERA NUSANTARA | Saham | 2.390.509.176.381,00 | EMTK, ARTO, UNVR, TLKM, MDKA, BBRI, BMRI, BBCA, ASII, ADRO |
| 11 | PREMIER ETF IDX30 | Saham | 2.345.072.727.625,97 | UNTR, TOWR, MDKA, BMRI, CPIN, BBNI, ASII, TLKM, BBRI, BBCA |
| 12 | EASTSPRING INVESTMENTS VALUE DISCOVERY KELAS B | Saham | 2.299.994.034.284,26 | TLKM, BBRI, BMRI, BBCA, ASII |
| 13 | PREMIER ETF LQ-45 | Saham | 2.173.397.214.563,86 | TOWR, MDKA, BBRI, CPIN, BBNI, UNTR, BMRI, ASII, TLKM, BBCA |
| 14 | BATAVIA SAHAM CEMERLANG | Saham | 1.992.357.456.597,70 | No Data |
| 15 | SAM DANA CERDAS | Saham | 1.928.363.259.385,91 | EXCL, TLKM, MEDC, BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, ASII, ADRO |
| 16 | SCHRODER DANA CAMPURAN PROGRESIF | Campuran | 1.893.930.770.142,99 | FR0092, TLKM, BBRI, BMRI, FR0071, FR0070, FR0068, ASII, BBCA, FR0087 |
| 17 | BATAVIA SAHAM SEJAHTERA | Saham | 1.848.334.734.685,36 | No Data |
| 18 | SCHRODER 90 PLUS EQUITY FUND | Saham | 1.814.053.220.086,19 | BUKA, MDKA, INCO, BBCA, MLBI, BBRI, MYOR, BMRI, SIDO, TLKM |
| 19 | MANULIFE DANA SAHAM KELAS I1 | Saham | 1.718.613.222.518,74 | TBIG, INKP, MDKA, UNTR, BBNI, TLKM, BBRI, BMRI, BBCA, ASII |
| 20 | ||||
| 21 | TRIMEGAH SAHAM NUSANTARA | Saham | 1.697.860.108.192,02 | No Data |
| 22 | BNP PARIBAS PESONA | Saham | 1.527.490.536.090,94 | EXCL,ARTO, ERAA, CPIN, TOWR, ICBP, BBRI, TLKM, BMRI, BBCA |
| 23 | SCHRODER DANA ISTIMEWA | Saham | 1.521.775.785.149,00 | SIDO, BUKA, MIKA, TOWR, MYOR, CTRA, BBCA, MAPI, BBRI |
| 24 | SEQUIS EQUITY MAXIMA | Saham | 1.516.346.061.422,93 | INDF, ERAA, EMTK, ARTO, BBNI, BBCA, TLKM, ASII, BMRI, BBRI |
| 25 | SYAILENDRA DANA EKUITAS SEJAHTERA | Saham | 1.498.390.326.775,61 | No Data |
| 26 | DANAREKSA MAWAR EKUITAS PLUS | Saham | 1.481.870.508.262,54 | TOWR, MDKA, BBRI, BMRI, ASII, BBNI, AGRO, BBCA, ARTO, TLKM |
| 27 | HPAM SMART BETA EKUITAS | Saham | 1.428.868.189.937,35 | TPIA, MSIN, MPMX, SRTG, SSIA, BRPT, WSKT, BBRI, BELL, AKRA |
| 28 | SIMAS SAHAM UNGGULAN | Saham | 1.337.379.552.449,72 | BFIN, AMRT, LIFE, ARTO, FREN, BMRI, TLKM, ASSA, BBCA, BBRI |
| 29 | BNP PARIBAS EKUITAS | Saham | 1.282.889.394.486,67 | ARTO, MDKA, TOWR, CPIN, ASII, ICBP, TLKM, BBRI, BMRI, BBCA |
| 30 | BAHANA PRIMAVERA 99 KELAS S | Saham | 1.263.970.251.502,23 | SMGR, UNVR, BMRI, TLKM, BBRI, ICBP, INDF, UNTR, BBCA, ASII |
| 31 | BNI-AM DANA SAHAM INSPIRING EQUITY FUND | Saham | 1.248.807.114.247,27 | TOWR, SMGR, UNTR, BBNI, BMRI, BBRI, ASII, CPIN, BBCA, TLKM |
| 32 | BNP PARIBAS MAXI SAHAM | Saham | 1.205.559.616.371,94 | No Data |
| 33 | SCHRODER DANA PRESTASI PRIMA | Saham | 1.173.112.583.491,00 | UNTR, BUKA, MAPI, TLKM, BBRI, BMRI, BBCA, MYOR, ASII, ANTM |
| 34 | PANIN DANA MAKSIMA | Saham | 1.169.222.393.559,61 | BBNI, GGRM, CFIN, PANS, BMRI, BBRI, PNLF, DLTA, ADMF, PNBN |
| 35 | SYAILENDRA DANA INVESTASI DINAMIS | Campuran | 1.169.023.874.706,68 | No Data |
| 36 | CAPITAL EQUITY FUND | Saham | 1.130.023.477.807,14 | GGRM, BBTN, PGAS, BBNI, ASII |
| 37 | BAHANA STELLAR EQUITY FUND | Saham | 1.062.561.460.207,42 | No Data |
| 38 | BNP PARIBAS INFRASTRUKTUR PLUS | Saham | 1.009.709.436.783,34 | BRIS, TLKM, INCO, ARTO, INTP, BBNI, ASII, BMRI, BBRI, BBCA |
Dari 38 reksadana dengan dana kelolaan terbesar tersebut saya membuat list saham apa saja yang banyak masuk dalam portofolio mereka:

Dari data di atas kita bisa melihat bahwa ternyata BBRI adalah saham yang paling banyak masuk dalam top holding reksadana yang memiliki dana kelolaan di atas 1 Triliun. Dari 38 reksadana dengan AUM > 1 Triliun, 26 di antaranya punya saham BBRI atau sekitar 68% fund manager yang mengelola dana > 1 Triliun punya saham BBRI di portofolio mereka. Di posisi kedua ada BBCA dan BMRI yang dimiliki oleh 25 institusi. TLKM dimiliki oleh 24 institusi. Lalu di posisi selanjutnya ada ASII, BBNI, ARTO, dan MDKA yang menjadi top holding para big fund.
Ternyata para fund manager yang mengelola dana triliunan masih suka dengan old economy seperti BBRI BBCA BMRI TLKM ASII dan UNTR. Meskipun memang sekarang mulai banyak dari mereka yang shifting top holding mereka ke bank digital dan saham teknologi seperti TLKM, ARTO, EMTK, BUKA, MLPL, TOWR, dan TBIG.
Manulife menjadi kolektor saham teknologi seperti DMMX dan MCAS. Manulife Saham Andalan dan Manulife Dana Saham Kelas A memiliki DMMX sebagai top holding mereka.
Sedangkan Schroder menjadi kolektor saham teknologi seperti BUKA. Tercatat 4 reksadana Schroder dengan AUM lebih dari 1 Triliun memiliki BUKA di top holding mereka yakni Schroder Dana Prestasi, SCHRODER 90 PLUS EQUITY FUND, SCHRODER DANA ISTIMEWA dan SCHRODER DANA PRESTASI PRIMA.
Saham bank digital ARTO dikoleksi oleh 12 institusi mulai dari Batavia, Manulife, Ashmore, BNP Paribas, Sequis, Schroder, Danareksa hingga Sinarmas.
Tak Lagi Favorite
Yang menarik adalah tidak ada lagi saham HMSP di top holding para fund manager yang memiliki dana kelolaan di atas 1 Triliun. Padahal GGRM masih jadi top holding di 2 reksadana yakni Panin Dana Maksima dan Capital Equity Fund. Saham coal seperti PTBA dan ITMG juga tidak ada dalam top holding para big fund. Saham coal atau batubara yang masuk dalam top holding para big fund adalah ADRO dan UNTR (saya anggap saja UNTR sebagai saham coal karena mereka memiliki tambang coal meskipun bisnis utama mereka adalah alat berat). Saham ADRO dimiliki oleh 4 reksadana milik Ashmore dan SAM. Ashmore malah memiliki ADRO di 3 reksadana miliknya. Sedangkan UNTR dimiliki oleh 6 reksadana. Nampaknya big fund tidak ada lagi yang suka sama PTBA, ITMG dan HMSP. Nasib serupa juga dialami oleh BUMN Karya, saham seperti WIKA PTPP ADHI sulit ditemukan di top holding big fund. Begitu juga dengan saham oil dan gas seperti MEDC PGAS ELSA juga sudah jarang ditemukan di top holding para big fund. Hanya 1-2 reksadana saja yang memasukan MEDC dan WSKT dalam top holding mereka. Nasib serupa juga dialami oleh saham CPO seperti AALI dan LSIP. Tidak ada satupun reksadana big fund yang memasukan saham CPO dalam top holding mereka.
Dan ternyata masih ada juga reksadana yang menjadikan UNVR sebagai top holding mereka yakni Ashmore dan Bahana. INTP yang dulunya favorite para big fund juga kini sisa 1 reksadana saja yang koleksi sebagai top holding yakni BNP Paribas.KLBF ICBP dan INDF juga tak lagi menjadi favorite.
ANTM yang dulu hype kini tinggal 5 reksadana yang miliki sebagai top holding yakni Batavia, Schroder, Ashmore.
Trend Follower or Contrarian?
Kalau saya amati baik-baik nampaknya trend setter hype di IHSG adalah Schroder karena di top holding mereka rata-rata isinya adalah saham yang pernah ngetrend seperti BUKA dan ANTM. Sedangkan Manulife adalah trend setter teknologi di IHSG karena di top holding mereka isinya ada ARTO, MLPL, DMMX, MCAS, MPPA.
Apa yang hype di masa lalu seperti GGRM, HMSP, INKP, INDY, ITMG, PTBA, UNVR kini tak lagi hype karena fund manager memang sudah jarang yang koleksi mereka.
Jadi pilihannya sekarang adalah mau ikutan para big fund untuk koleksi saham mereka atau mau pilih jalan ninja sendiri. Caveat emptor.
Saya sendiri lebih suka memilih jalan contrarian. Saham yang belum ada atau jarang ada di portofolio big fund yang saya koleksi. Be a contrarian. Boom or bust.
Menurut saya apa yang belum atau jarang masuk ke dalam portofolio big fund saat ini seperti PTBA INDF ICBP ITMG KLBF ELSA PGAS nantinya akan masuk lagi ke portofolio mereka di masa depan jika laba mereka konsisten tumbuh. Just wait and see.
Jika ingin mendapatkan data analisis Laporan Keuangan Kuartalan bisa pesan di sini atau menghubungi Whatsapp Admin Pintarsaham.id +62 831-1918-1386
Jika ingin membuat rekening sekuritas bisa chat via whatsapp nomor 083119181386
Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id
Disclaimer :
Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.