Skydrugz Corner: Net Profit Margin Perusahaan Batubara
Di postingan sebelumnya saya sudah bahas mengenai
1. Perbandingan Laba Bersih Emiten Saham Coal
https://cutt.ly/c7hWZVD
2. Perbandingan Revenue Saham Batubara
https://cutt.ly/f7hWKwD
3. Cara melihat cadangan kas saham batubara
https://cutt.ly/w7hWM85
4. Perbandingan Cadangan Kas Saham Batubara yang ada di bursa
https://cutt.ly/T7hW2JT
5. Rekomendasi Buku Untuk Investor Pemula
6. Analisis laporan keuangan $INDY
https://cutt.ly/f4ZKZsE
Pada postingan kali ini saya akan memaparkan mengenai Net Profit Margin saham batubara.
Net profit margin (NPM) atau margin laba bersih adalah rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba bersih yang didapat, setelah dikurangi pajak terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan.
Rumus sederhana NPM = (laba bersih / revenue) x 100%
Makin besar NPM makin bagus. Tapi yang harus kita waspadai adalah apabila NPM lebih besar dari OPM (Operating Profit Margin). Jika NPM lebih besar dari OPM, itu artinya perusahaan mendapatkan laba bukan dari core business tapi dari laba lain-lain.
Rumus OPM = (Laba operasional / Revenue) x 100%
Laba lain-lain itu bisa berasal dari penjualan aset, pengampunan utang, hingga restitusi pajak. Intinya adalah mayoritas laba lain-lain sulit berulang di masa depan.
NPM Emiten Coal
$BYAN 46.31%
TEBE 41.63%
MBAP 39.91%
ADMR 36.58%
SMMT 34.53%
HRUM 33.36%
MCOL 33.09%
$ITMG 33.00%
$ADRO 30.77%
$PTBA 29.47%
BUMI 28.70%
BSSR 23.31%
GEMS 23.30%
BIPI 21.82%
IATA 20.28%
KKGI 15.17%
INDY 10.44%
DSSA 9.99%
MYOH 9.94%
TOBA 9.09%
ARII 9.08%
PTRO 8.59%
SGER 5.09%
DOID 1.84%
DWGL 0.12%
https://bit.ly/3LsxlQJ
Dari data di atas kita bisa lihat bahwa BYAN adalah emiten Coal dengan efisiensi paling tinggi karena NPM BYAN mencapai 46%. Itu artinya tiap 100 rupiah penjualan batubara, BYAN bisa dapat laba bersih 46 rupiah.
Dari data ini juga kita bisa lihat bahwa mayoritas emiten Batubara dengan NPM > 15% memiliki valuasi PBV di atas 1. Ini mengindikasikan bahwa market memberikan apresiasi valuasi yang lebih premium untuk emiten dengan batubara yang NPM nya lebih dari 15%.
Emiten dengan NPM kurang dari 15% rata-rata memiliki valuasi PBV di bawah 1. Hanya MYOH SGER dan DWGL yang NPM < 15% dan PBV > 1.
Kita bisa lihat INDY, DSSA, PTRO, DOID, ARII memiliki kesamaan yakni PBV < 1 dan NPM < 15%.
NPM Lebih Besar dari OPM
Kita bisa lihat pada gambar di atas BUMI dan SMMT memiliki NPM lebih besar dari OPM. Itu menandakan kalau laba lain-lain di BUMI dan SMMT jauh lebih besar dari laba operasional perusahaan.
Tentang INDY
Khusus untuk INDY, ada potensi NPM membaik di masa depan dengan menghilangnya beban amortisasi di 31 Maret 2023. Itu artinya di Q2 2023 harusnya beban amortisasi sebesar 136 juta dollar atau sekitar 2 Triliun tidak akan muncul lagi, yang nantinya akan meningkatkan NPM INDY.
https://cutt.ly/f4ZKZsE
Dan akan lebih baik lagi jika INDY mulai melakukan Buyback Obligasi mereka agar beban keuangan perusahaan bisa ditekan. Tiap tahun INDY bayar beban bunga mencapai 103 juta dollar atau sekitar 1,5 Triliun rupiah.
Jika diakumulasi, beban amortisasi dan beban keuangan INDY mencapai 3,5 Triliun. Apabila dua beban ini hilang maka tidak menutup kemungkinan laba INDY bisa sebesar laba ITMG dan PTBA yang utangnya sangat mini.
Secara revenue, INDY memiliki revenue lebih besar dari PTBA dan ITMG. Tapi laba PTBA dan ITMG jauh lebih besar dari laba INDY karena PTBA dan ITMG tidak memiliki beban amortisasi dan beban keuangan sebesar yang dimiliki INDY.
Di 2022, INDY menghasilkan laba bersih 510 juta tapi arus kas operasional INDY mencapai 926 juta dollar. CFO > Laba bersih mengindikasikan bahwa 100% laba INDY adalah laba yang menghasilkan kas.
Yang harus kita waspadai adalah perusahaan yang mengaku menghasilkan laba 100 miliar tapi pas cek kas operasional malah minus. Waspada dengan perusahaan yang CFO < Laba. Itu artinya laba yang dihasilkan perusahaan banyak yang non cash earning alias mengaku laba tapi tidak ada real cash yang masuk. Bisa lihat case SRIL dan PBRX, selama bertahun-tahun mereka mengaku laba padahal itu laba yang berasal dari apresiasi piutang dan persediaan. Begitu akun piutang dan persediaan bermasalah di write off maka SRIL langsung rugi gede dan laba PBRX langsung anjlok. Jadi perhatikan baik-baik earning quality perusahaan.
Disclaimer:
https://cutt.ly/p8bNpqb
I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing.
Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386
Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link ini
Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id
Disclaimer :
Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.



