Skydrugz Corner: Beli Saham Berdasarkan Laporan Keuangan Part 2 GGRM Story
Apakah mungkin timing the market? Jawaban mayoritas investor senior, timing the market adalah mustahil.
Artikel ini adalah lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang beli saham berdasarkan rilisnya LK.
Pada postingan sebelumnya yang saya bahas adalah saham SMDR yang labanya memang naik terus di 2021. Sekarang saya coba backdated analysis saham yang labanya anjlok.
Asumsi dasarnya masih sama yakni:
1. Beli saham hanya yang sesuai dengan kriteria Benjamin Graham yakni PBV tidak lebih dari 1,5 dan PER tidak lebih dari 15, arus kas positif dan Utang berbunga kecil, dan ada riwayat bagi dividen.
2. Beli tambah hanya ketika di laporan keuangan periode berikutnya perusahaan mencetak pertumbuhan laba
3. Langsung jual ketika laba perusahaan anjlok begitu rilis LK
4. Jadi jual beli saham dilakukan berdasarkan laporan keuangan kuartal.
Berdasarkan 4 poin di atas saya mencoba melakukan analisis backdated saham untuk melihat:
1. Harga saham ketika LK rilis
2. PER dan PBV perusahaan ketika awal beli dan tiap kuartal rilis LK
3. Pertumbuhan laba perusahaan tiap kuartal.
Sumber data saya adalah:
1. Data Keystat dan chart Ipot dan SB
2. Data dan tanggal rilis LK di situs IDX.
Untuk permulaan, saya coba backdating dulu SMDR.
GGRM
Skenario Beli
Entry LK Q1 2020
- Anggap kita punya duit 100 juta
- Kita baru beli GGRM di LK Q1 2020 karena beranggapan GGRM masih akan tumbuh setelah still grow di 2019 dan 2018. Harapan kita, di 2020 GGRM akan terus mencetak pertumbuhan laba.
-
GGRM (Milyar) 2022 Growth 2021 Growth 2020 Growth 2019 Q1 1077 -38.35% 1747 -28.61% 2447 3.91% 2355 Q2 -121 -121.45% 564 -58.95% 1374 -28.66% 1926 Q3 -100.00% 1824 -0.11% 1826 -38.35% 2962 Q4 -100.00% 1471 -26.49% 2001 -44.98% 3637 Total 5606 -26.70% 7648 -29.71% 10880
-
- LK Q1 2020 baru rilis tanggal 29 April 2020
-

- Kita baru beli GGRM 1 hari setelah rilis LK di 30 April 2020 di harga 45.300

-
- Di 30 April 2020 harga 45.300 apakah GGRM memenuhi kriteria Graham?
- Di 30 April 2020 tersebut EPS GGRM adalah 1287 rupiah. Disetahunkan jadi 5148 rupiah EPS. Jika beli di harga 45.300 rupiah maka PER = 45.300/5088= 8,79
- Book value per share 27.741 rupiah maka PBV di harga 45.300 rupiah adalah 45.300/27.741 = 1,63. Secara valuasi Benjamin Graham sudah tidak terpenuhi di PBV. Namun di PER masih terpenuhi. PBV x PER = 1,63 X 8,79 = 14,3. Masih di bawah 22,5. Jadi bisa diberikan toleransi.

- Lalu apakah GGRM punya riwayat bagi dividen?
- Kalau lihat data Stockbit, GGRM konsisten bagi dividend di masa lalu

- Karena asumsi kita baru beli saham di 30 April 2020 jadi kita hanya lihat dividen sebelum 30 April 2020 yakni 2019, 2018, 2017 GGRM konsisten bagi dividen. Jadi kriteria dividen terpenuhi
- Sekarang cek cashflow Q1 2020
- Di Q1 2020 ternyata GGRM mencetak CFO yang sangat tebal. Jadi kriteria cashflow juga terpenuhi
- Sekarang cek utang berbunga saja
- Utang berbunga hanya sekitar 4,9 Triliun
- Sedangkan cadangan kas perusahaan adalah 3,8 Triliun. Itu artinya DER utang berbunga sudah pasti < 1 karena ekuitas perusahaan adalah 53 Triliun.
- Anggap entry pertama masuk 25 juta di harga 45.300. Demikian kita dapat 5 lot GGRM
- Kita menunggu LK Q2 2020 baru entry yang kedua
LK Q2 2021
- LK Q2 2020 rilis tanggal 29 Juli 2020. Jeda waktu antara rilis LK Q1 dan Q2 2020 adalah 3 bulan.
- Jika mau beli GGRM di 29 Juli 2020 yaitu harga 49.975 tapi apakah kita harus beli? Kita cek pertumbuhan labanya.

- Laba YTD Q2 2020 GGRM anjlok 10%
- Tapi laba Q2 2020 lebih rendah dari Q1 2020. Anjlok 28%
- Laba Q2 2020 juga lebih rendah dari laba Q1 2020
-
GGRM (Milyar) 2022 Growth 2021 Growth 2020 Growth 2019 Q1 1077 -38.35% 1747 -28.61% 2447 3.91% 2355 Q2 -121 -121.45% 564 -58.95% 1374 -28.66% 1926 Q3 -100.00% 1824 -0.11% 1826 -38.35% 2962 Q4 -100.00% 1471 -26.49% 2001 -44.98% 3637 Total 5606 -26.70% 7648 -29.71% 10880 - Kalau mau pakai teori William O’Neil ini menunjukkan deselerasi laba
- Bila ada deselerasi laba begini, kita bisa memutuskan exit sambil menunggu ada pertumbuhan laba baru entry lagi.
- GGRM di Q2 2020 sudah menunjukkan 3 trend penurunan laba. Kalau pada case SMDR, kita bisa memberikan toleransi karena hanya 1 variabel pertumbuhan saja yang anjlok. Sedangkan 2 variabel lain masih intak. Jadi kita memutuskan untuk exit dari GGRM.
- Kalau exit di harga 49.975 maka itu artinya kita cuan 10%. Atau uang kita nambah jadi 27,5 juta atau cuan 2,5 juta.
- Jadi kita tidak memutuskan lagi masuk di GGRM karena labanya anjlok.
- Sampai di sini ada 2 pilihan yakni keep hold atau langsung exit saja.
- Kalau mau keep hold, jangan tambah posisi lagi. Biarkan saja 25 juta pertama yang nyangkut. Tambah posisi hanya jika ada pertumbuhan laba. Tanpa ada pertumbuhan laba maka berat untuk apresiasi
- Kalau ambil opsi exit cuan atau loss, langsung exit saja. Move on cari saham lain yang labanya tumbuh, undervalued, Utang mini dan arus kas lancar.
LK Q3 2020
- LK Q3 2020 rilis 28 Oktober 2021. Jeda 3 bulan dari LK Q2 2020.
- Harga saham 1 November 2020 adalah 40.525
- Laba Q1 + Q2 + Q3 2020 < Q1 + Q2 + Q3 2019
- Q3 2020 < Q2 2020
- Q3 2020 < Q3 2020
- Secara pertumbuhan laba ini gagal memenuhi syarat William O’Neil
- Arus kas positif
- DER utang berbunga < 1
- Tidak tambah posisi karena laba masih anjlok.
LK Q4 2021
- LK Q4 2020 rilis 31 Maret 2021. Jeda 4 bulan dari LK Q3 2020.
- Harga 31 Maret 2020 36.175. Tapi apakah kita harus beli?
- EPS Q4 2020 = 3975 rupiah.
- PER = 36.175/3975 = 9,1
- PBV =36.175/30.415 = 1,189
- PER x PBV = 10,82
- Secara PBV dan PER masih undervalued
- Laba Q1 + Q2 + Q3 + Q4 2020 < Q1 + Q2 + Q3 + Q4 2019 bad
- Q4 2020 > Q3 2020 good
- Q4 2020 < Q4 2019 bad
- Secara pertumbuhan 2 dari 3 variabel bad. Artinya tidak memenuhi syarat.
- Arus kas secara keseluruhan positif tapi Q4 only minus.
- DER utang berbunga < 1
- Tidak tambah posisi dan tidak masuk lagi karena laba anjlok.
- Duit 100 juta hanya 25 juta yang masuk. Secara teori harusnya begitu rilis LK Q2 2020 harusnya sudah exit karena ada tanda deselerasi laba.
- Saham bisa di keep hold selama thesis awal masih valid yakni:
- laba naik minimum 2 variabel dari 3 variabel pertumbuhan.
- Fundamental Arus Kas dan Utang tidak banyak berubah
- Valuasi masih murah
- Jika langsung exit di LK Q2 2020 begitu ada tanda-tanda perburukan laba, harusnya masih bisa cuan 10%.
- Kalau keep hold tanpa tambah posisi maka sudah porto sudah minus 52% atau duit 25 juta awal menjadi sisa 12 juta.
- Berbeda dengan case SMDR di mana laba naik terus . Pada case GGRM laba anjlok terus.
- Nampaknya strategi entri hanya ketika LK rilis dan laba naik merupakan strategi yang cukup menarik. Karena less transactions. Dan exit ketika laba menunjukkan deselerasi adalah keputusan yang bisa mengurangi loss.
- Pelajaran pentingnya adalah jangan tambah posisi kalau laba perusahaan masih anjlok. Pada case GGRM belum ada tanda-tanda perbaikan laba. Ini saya belajar in hard ways. Tersadarkan karena bukunya William O’Neil
- Tapi saya masih kekurangan bukti dan ada potensi hindsight bias. Saya perlu melakukan riset lagi pada saham lain.
I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing.
Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386
Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link ini
Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id
Disclaimer :
Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

