Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightSDRA Kuartal I 2025: Laba Bertumbuh, Risiko Kredit Membayangi

SDRA Kuartal I 2025: Laba Bertumbuh, Risiko Kredit Membayangi

Kalau kita bedah laporan keuangan SDRA (Bank Woori Saudara) dari akhir 2024 sampai kuartal I 2025, situasinya terlihat seperti rumah yang di luar tampak bersih dan rapi, tapi di dalam banyak lantai yang mulai keropos.

Kasus dugaan fraud Rp1,28 triliun ini seperti rayap yang sudah menggerogoti struktur tapi belum semua penghuni rumah sadar. Dan ironisnya, justru pihak internal bank tampaknya sudah mencium bau busuk itu lebih dulu, meskipun belum sepenuhnya dibuka ke publik.

Mari kita tarik benang merahnya satu per satu. Pertama, dari sisi eksposur pembiayaan, SDRA memiliki posisi yang janggal. Per Desember 2024, masih ada tagihan kontinjensi dari LC (Letter of Credit) dan bank garansi yang nilainya Rp1,56T, padahal transaksi trade finance di laporan laba rugi nyaris nihil.

Bahkan di Q1 2025, penghasilan dari trade finance tinggal Rp104 juta, drop dari Rp8 miliar di Q1 2024. Ini menciptakan mismatch yang mencolok: klaim kontinjensi masih tinggi, tapi aktivitas dasarnya sudah mati. Kalau benar ada fraud di sini, besar kemungkinan pencatatan LC sebelumnya fiktif atau rekayasa, dan manajemen sedang mencoba mematikan kran pelan-pelan.

Lalu kita lihat bagian CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai). Kalau benar nilai fraud sebesar Rp1,28T, kita harusnya melihat lonjakan drastis CKPN di akhir 2024 atau minimal Q1 2025. Tapi anehnya, CKPN justru turun dari Rp652M (Des 2023) menjadi Rp600M (Des 2024). Padahal kredit macet yang terjadi (NPL gross) justru naik dari 1,12% jadi 1,71%.

Ini bukan hanya anomali, tapi seperti sinyal alarm yang dimatikan manual. Apalagi pendapatan bunga SDRA masih stabil tinggi, seolah portofolio pinjamannya masih sehat. Jelas ada ketidaksinkronan antara kondisi riil kualitas aset dan pengakuan kerugian. Ini pola klasik delay recognition of losses.

Bagaimana dengan pendapatan dan beban bunga? Perusahaan masih mencatat pendapatan bunga bersih Rp456M di Q1 2025, naik dari Rp431M tahun sebelumnya. Tapi beban bunga juga ikut naik, bahkan bunga dari pinjaman yang diterima melonjak 107% yoy, dari Rp17M ke Rp35M.

Artinya, ada tekanan likuiditas yang makin besar, meski dari luar masih tampil baik. Ini bisa jadi indikasi bahwa bank harus nutup lubang lewat funding mahal untuk menambal dampak dari kredit bermasalah.

Lalu kita masuk ke transaksi dengan pihak berelasi. SDRA punya simpanan dari pihak berelasi sebesar Rp17,8 miliar di Q1 2025. Jumlah ini kecil, tapi yang bikin menarik adalah pos pinjaman pihak berelasi dan pendapatan bunga antar entitas yang relatif konstan. Tidak terlihat lonjakan maupun perubahan pola.

Ini memberi kesan bahwa fraud yang terjadi bukan dari skema relasi internal, tapi lebih mengarah ke nasabah lokal, kemungkinan dari koperasi, multifinance, atau importir domestik yang dimanjakan lewat skema LC palsu atau over-invoicing. Dari sini kita bisa duga aktor utama masalahnya kemungkinan ada di nasabah domestik yang disayang berlebihan, bukan dari sesama entitas grup Woori.

Cuma masalahnya adalah apakah perusahaan sadar lebih dulu ada masalah? Jawabannya, maybe yes, maybe no, tapi belum transparan. Pertama, trade finance distop mendadak sejak akhir 2023. Kedua, saldo LC tidak bertambah lagi.

Ketiga, tagihan asuransi dicatat sebagai aset lain-lain sebesar Rp13,4M, kemungkinan berasal dari debitur meninggal atau mangkir. Keempat, bank mencatat pendapatan provisi jauh lebih rendah dari biasanya. Semua ini adalah tanda bahwa manajemen sedang “sterilisasi” sumber fraud.

Tapi justru yang mencurigakan adalah sikap terlalu tenang. Tidak ada restatement. Tidak ada revisi cadangan kerugian besar. Tidak ada penurunan drastis laba. Ini membuat laporan Q1 2025 tampak normal, padahal badai sedang mendekat.

Bandingkan dengan kasus BBKP yang langsung restate, turunkan laba, koreksi CAR, dan buka komunikasi dengan investor. SDRA seakan memilih strategi tunda pengakuan sampai puncaknya terpaksa dibuka (kemungkinan di semester dua 2025).

Jika di semester dua nanti mereka harus akui kerugian Rp1,28T, maka CKPN bisa melonjak drastis dan laba amblas. Dengan demikian, CAR berpotensi turun, dan bila di bawah threshold, bisa memicu rights issue atau setoran modal mendadak dari PSP. Bila seandainya pasar tahu Q1 dan FY2024 ternyata misleading, kepercayaan investor akan runtuh dan valuasi saham bisa jeblok.

Idealnya, manajemen segera revaluasi eksposur LC dan trade finance yang tersisa. Lalu naikkan CKPN sesuai risiko aktual. Kemudian tunda pembagian dividen dan prioritaskan penguatan modal. Kemudian manajemen perlu berkomunikasi terbuka dengan OJK, auditor, dan pasar modal.

Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here