SCMA mencatat lonjakan laba bersih +211,3% YoY, dari Rp 156 Miliar ke Rp 485,08 Miliar. Sekilas terlihat fantastis, tapi ternyata ada yang janggal. Pendapatan memang naik +8,37%, tapi biaya naik lebih cepat, menyebabkan Gross Profit Margin (GPM) turun -3,14%. Yang lebih mengkhawatirkan, cash flow operasional (CFO) justru turun -29,63%, menunjukkan bisnis inti tidak menghasilkan arus kas yang sehat.
Kenaikan laba lebih banyak berasal dari keuntungan investasi dan turunnya beban keuangan, bukan dari pertumbuhan bisnis utama. SCMA juga menarik investasi aset keuangan Rp 1,79 Triliun, yang meningkatkan kas sementara, tapi bukan dari operasional. Free Cash Flow (FCF) turun -28,1%, menandakan perusahaan menghabiskan lebih banyak kas dibanding tahun sebelumnya. Secara valuasi, SCMA masih mahal dengan PER 30,2x dan PBV 1,96x, yang berarti investor membayar harga premium untuk pertumbuhan yang belum tentu berkelanjutan.
SCMA masih untung, tapi jika tidak bisa meningkatkan CFO dan mengurangi ketergantungan pada investasi keuangan, profitabilitas jangka panjang bisa terancam. Dengan bisnis digital yang tumbuh tapi belum cukup kuat menggantikan TV, SCMA perlu strategi jelas agar pertumbuhan ini tidak sekadar ilusi akuntansi.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships