Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightSaham Properti Apakah Harus Revaluasi Aset Agar Laba Kinclong?

Saham Properti Apakah Harus Revaluasi Aset Agar Laba Kinclong?

Kalau sektor properti Indonesia bisa dibikin jadi telenovela, maka tiga karakter utamanya adalah PWON si sultan tua yang tajir beneran, PANI si anak muda ambisius tapi cashflow-nya megap-megap, dan BSBK si pendatang baru yang tampak kaya di laporan tapi dompetnya tipis. Ketiganya sama-sama jualan properti. Tapi soal cara bikin laba dan jaga neraca? Langit dan bumi.

Mari mulai dari si paling mapan: PWON. Pendapatan Rp6,67 triliun, laba bersih Rp2,42 triliun, dan arus kas operasional (CFO) positif Rp3,35 triliun. Bahkan free cash flow (FCF) pun masih tebal di Rp1,95 triliun. Artinya, mereka bukan cuma untung di laporan—duitnya masuk beneran. Kas mereka Rp9,1 triliun, sementara utang berbunga cuma Rp6,9 triliun. Jadi kalau mereka mau, utang bisa lunas dan masih ada sisa buat beli mal baru. Dan yang lebih penting, semua itu dihasilkan dari operasional properti sungguhan—bukan dari sulap revaluasi atau appraisal properti kosong.

Lanjut ke PANI, anak muda baru di bursa yang bawa nama besar PIK 2. Pendapatan Rp2,83 triliun, laba bersih Rp1,27 triliun. Kedengarannya solid. Tapi waktu dicek lebih dalam, arus kas operasional mereka minus Rp4,45 triliun, dan FCF juga jeblok di minus Rp5,91 triliun. Kas memang gede: Rp4,26 triliun. Tapi itu bukan hasil dari bisnis jalan, melainkan hasil suntikan dana lewat aktivitas pendanaan sebesar Rp6,19 triliun. Untungnya, utang berbunga mereka kecil banget, cuma Rp768 miliar.

Jadi meski napas pendek karena arus kas bocor, dompetnya tebal. Lagi-lagi, gak ada revaluasi aset di laporan mereka. Laba yang dicatat benar-benar dari penjualan properti, yang diakui saat pengendalian properti berpindah ke pembeli. Konservatif, patuh PSAK, dan gak neko-neko. Cuma ya, duitnya masih nempel di tanah dan piutang, belum cair ke rekening.

Nah, sekarang kita masuk ke panggung BSBK. Pendapatan Rp361 miliar, laba bersih Rp349 miliar. Kelihatan luar biasa, sampai kita tahu bahwa Rp270 miliar dari laba itu datang dari revaluasi properti investasi. Artinya? Laba asli dari operasional cuma Rp79 miliar.

Ini bukan laba dari jualan, tapi dari “nilai properti kami naik lho, tolong catat sebagai untung ya.” Sementara kas di tangan? Cuma Rp18,7 miliar. Utang berbunga? Rp372 miliar. Kas cuma cukup buat bayar 5% dari utang. Mereka sih punya CFO Rp105 miliar, tapi tetap aja itu kayak orang punya gaji tapi saldo rekening kosong. Dan jelas, tanpa revaluasi, mereka gak akan bisa pamer laba setinggi itu.


Jadi kenapa PWON dan PANI gak revaluasi aset? Karena mereka gak butuh make-up buat kelihatan glowing. Aset dicatat berdasarkan harga beli atau bangun, bukan berdasarkan “feeling hari ini tanahnya naik berapa”. Revaluasi sah menurut PSAK, tapi tetap aja cuma angka kertas. Sementara BSBK justru butuh laporan kelihatan cakep, biar ekuitas naik, rasio utang kelihatan aman, dan kreditur tenang. Bisa dibilang: PWON dan PANI jualan properti, BSBK jualan valuasi.

Secara likuiditas juga kontras. PWON, dengan kas Rp9,1 triliun dan utang berbunga Rp6,9 triliun, bisa lunas utang hari ini juga kalau mau. PANI juga aman: kas Rp4,26 triliun cukup buat lunasin utang berbunga Rp768 miliar dengan enteng. Tapi BSBK? Kas Rp18,7 miliar untuk utang Rp372 miliar? Mohon maaf, itu mah baru cukup buat bayar bunga doang.

Ketiga emiten ini sama-sama di sektor properti, tapi strategi dan isi kantongnya beda jauh. PWON tajir dan beroperasi sehat, PANI punya potensi besar tapi masih boros arus kas, dan BSBK tampil cantik karena cermin revaluasi. Kalau investor cuma lihat laba tanpa baca catatannya, ya bisa-bisa tertipu wajah glowing yang ternyata hasil editan.

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here