Cerita rights issue TOWR ini ibarat drama korporasi yang penuh lika-liku. Kalau ditarik mundur, semua bermula di tahun 2022 saat Grup Djarum lewat Dwimuria Investama Andalan yang notabene kantongnya dalam banget karena juga pemilik utama BBCA ngeluarin tender offer saham TOWR di harga Rp1.300 per lembar.
Waktu itu mereka nawar dengan harga tinggi karena punya tujuan jelas yaitu penguatan kendali. Strateginya berhasil, saham diserap, publik percaya. Tapi sekarang dua tahun kemudian pas TOWR mau rights issue lagi di harga Rp900 malah kejadiannya beda 180 derajat. Pasar cuek. Karena harga saham TOWR di pasar cuma Rp630 waktu itu. Siapa juga yang mau tebus saham baru Rp900 kalau bisa beli di pasar jauh lebih murah?
Akhirnya rights issue itu ditunda. Banyak yang bilang Djarum kapok nyangkut di harga atas. Tapi kelihatannya bukan soal kapok, lebih ke soal timing yang memang salah total. Sekarang TOWR balik lagi dengan skema baru yang katanya lebih realistis.
Harga rights issue diturunin ke Rp680 per saham. Volume saham yang diterbitkan 8,08 miliar lembar atau setara 13,91 persen dari total saham setelah aksi ini kelar. Tapi tetap saja harga pasarnya sekarang malah makin anjlok nyangkut di level Rp550. Kondisi ini bikin investor makin bingung. Worth it nggak sih tebus haknya atau mending beli di pasar?
Kondisi makin menarik waktu kita lihat sikap dua pemegang saham utama. PT Sapta Adhikara Investama atau SAI yang pegang 52,46 persen saham ogah ikut rights issue. Tapi Dwimuria yang cuma punya 8,33 persen justru bilang akan ambil semua haknya dan siap nyerap sisa saham yang nggak laku. Kalau semua skenario ini kejadian, Dwimuria bisa naik jadi pemegang saham di atas 20 persen. Diam-diam mereka lagi bangun kendali lewat jalur sunyi, nggak grasak-grusuk tapi akumulatif. Strateginya mirip pas mereka naikin porsi di BBCA secara bertahap dulu.
Duit Rp5,5 triliun dari rights issue ini rencananya bakal disalurkan ke anak usaha utama mereka yaitu Protelindo. Tujuannya buat nguatkan ekspansi menara dan fiber optik sekalian beresin konsolidasi setelah akuisisi PT Inti Bangun Sejahtera atau IBST, apalagi barusan mereka akuisisi lagi DATA . Jadi secara strategi bisnis arahnya jelas. Tapi tetap ini semua butuh waktu dan efeknya ke bottom line nggak bisa instan.
Sementara itu laporan keuangan TOWR kelihatan sehat tapi nggak spektakuler. Pendapatan naik 8,48 persen ke Rp12,73 triliun. Laba bersih naik tipis 1,85 persen ke Rp3,36 triliun. Tapi ROE turun dari 20 persen ke 17,56 persen. ROA turun dari 4,83 persen ke 4,32 persen. Artinya makin banyak modal yang dipakai buat ngejar pertumbuhan tapi laba yang dihasilkan nggak naik sebanding.
Rasio lancar memang naik dari 0,18 kali ke 0,25 kali. Lumayan tapi masih nunjukin tekanan likuiditas. Utang bank jangka panjang juga naik 39,58 persen. Belum lagi dividen interim cuma Rp6 per saham. Sementara banyak investor udah nyangkut dari harga Rp700 ke atas. Capital loss-nya lebih dari Rp100 dan dividen segitu jelas nggak sebanding.
Sekarang buat yang nyangkut di harga atas misalnya beli di Rp700 sampai Rp800 kondisi sekarang mungkin terasa kayak kejebak. Tapi panik nggak akan bantu. Yang paling masuk akal dilakukan sekarang adalah evaluasi ulang.
Tanya ke diri sendiri masih percaya nggak sama masa depan TOWR. Kalau iya dan percaya bahwa konsolidasi Protelindo, ekspansi fiber, dan skala ekonomi ke depan bakal beneran ngangkat revenue dan laba maka ikut rights issue bisa jadi cara buat averaging down. Tapi tetap harus hati-hati. Jangan sekadar ikut karena takut ketinggalan.
Berikut indikator dasarnya
1. Arus kas operasi cukup gede buat biayain capex?
2. Margin EBITDA masih solid di atas 75 persen?
3. Debt to EBITDA masih aman di bawah 3 kali?
4. Laba dan pendapatan per kuartal konsisten naik?
5. Investor institusi atau asing mulai net buy?
Kalau sebagian besar indikator itu positif ya boleh mulai cicil beli lagi. Tapi kalau nggak yakin ya nggak usah maksa. Hak bisa dibiarkan hangus dan itu bukan dosa. Lebih baik rugi kecil daripada makin dalam. Rights issue ini juga bukan satu-satunya kesempatan. Masih ada banyak waktu dan data buat evaluasi ulang.
Buat yang udah masuk di harga murah katakanlah beli di bawah Rp500 kamu sekarang duduk di posisi yang enak. Floating profit kamu masih gede. Kamu punya dua opsi. Ikut rights issue buat tambah porsi atau nunggu aja sambil mantau situasi.
Kalau ternyata sentimen mulai balik harga bisa naik dan kamu punya ruang buat ambil untung. Tapi kalau kondisi nggak membaik kamu masih bisa tahan dengan tenang. Intinya jangan buru-buru ambil keputusan. Paksakan hanya kalau datanya mendukung.
Harapannya sih dana hasil rights issue benar-benar dipakai buat ekspansi yang efektif. Integrasi IBST dan DATA berjalan mulus. Pendapatan naik signifikan dalam satu sampai dua tahun ke depan.
Idealnya dengan skala makin besar recurring income makin kuat dan saham bisa rebound ke atas Rp700 sampai Rp800. Tapi tentu ada risiko. Dana rights issue dipakai tapi nggak produktif. Beban utang naik tanpa peningkatan revenue yang sepadan. Atau pasar kehilangan kepercayaan karena rights issue dianggap cuma langkah tambal kas.
Drama rights issue TOWR ini bukan cuma soal harga Rp680 lawan harga pasar Rp550. Ini cerita soal bagaimana korporasi besar membaca pasar. Bagaimana pemegang saham besar seperti Djarum membangun posisi pelan-pelan.
Dan bagaimana investor ritel harus punya strategi realistis. Nggak perlu jadi paling cepat. Nggak perlu jadi paling agresif. Cukup jadi yang paling paham posisi sendiri dan tahu kapan harus gerak. Karena di pasar saham kadang yang menang bukan yang pertama tapi yang paling sabar dan paling rasional.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


