PWON, si juragan mal dan properti ini, ternyata diam-diam bikin laporan keuangan 2024 yang bikin ngelus dada sekaligus angkat topi. Total asetnya nambah dari Rp 32,71 triliun ke Rp 35,37 triliun, naik 8,1%. Yang paling menyumbang? Ya apalagi kalau bukan saldo kas dan persediaan.
Saldo kasnya ngebul, dari Rp 7,6 triliun ke Rp 9,15 triliun. Luar biasa, duit nganggur makin banyak, padahal emiten lain ngos-ngosan bayar utang. Sementara itu, persediaan alias stok rumah dan apartemen naik 14%, dari Rp 3,9 triliun ke Rp 4,45 triliun. Kayaknya mereka lagi rajin banget bangun properti, meski nggak dijamin juga bakal cepat laku.
Liabilitasnya ikut-ikutan naik 7,2%, jadi Rp 10,63 triliun. Yang bikin bengkak? Uang muka pelanggan dan pendapatan diterima di muka. Artinya, orang-orang udah bayar duluan tapi barangnya belum diserahin. Jualan janji dulu, barangnya belakangan. Dapat cashflow duluan. Nanti kalau unit diserahkan baru diakui sebagai revenue.
Tapi utang berbunga juga ikut naik dari Rp 6,13 triliun ke Rp 6,44 triliun, ya maklum, kayaknya belum bisa lepas dari utang obligasi global. Utang obligasi dalam dollar sebenarnya tetap tidak berubah tapi dalam pencatatan akuntansi jadi naik karena konversi dollar ke rupiah ketika rupiah melemah. Tapi minimal, porsi kas jauh lebih gede dari utang berbunga, jadi net cash Rp 2,7 triliun. Ini sih bukan sekadar sehat, tapi bugar luar dalam.
Ekuitas induk naik dari Rp 19,1 triliun ke Rp 20,7 triliun, didorong oleh laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 2,07 triliun. Tapi, jangan senang dulu, karena ini malah turun tipis 1,4% dari tahun lalu. Laba total memang naik tipis 1,7% jadi Rp 2,42 triliun, tapi sebagian besar masuk ke kantong non-pengendali.
Jadi, meski secara total masih untung, tapi buat pemegang saham utama, cuannya agak nyusut. Lebih lucu lagi, rugi selisih kurs nyangkut Rp 201 miliar, kebalikan dari tahun lalu yang malah untung kurs Rp 87 miliar. Ternyata, main valas nggak semanis diiklanin broker.
Pendapatan tahun 2024 tembus Rp 6,67 triliun, naik 7,6% dari tahun lalu. Lumayan lah, apalagi beban pokoknya cuma naik 3,6%, bikin margin kotor membaik ke 56,5%. Tapi euforia berhenti di situ, karena beban penjualan malah naik 36,6%, kayaknya tim marketing lagi boros pasang iklan di mana-mana. Sementara itu, beban bunga naik tipis jadi Rp 376 miliar, dan pajak final tembus Rp 401 miliar.
Akhirnya, EPS-nya malah turun jadi Rp 43,08 dari sebelumnya Rp 43,71. Buat investor yang ngarep cuan per lembar saham, ini sih kayak beli bakso tapi dagingnya makin sedikit.
Sekarang kita intip arus kasnya. PWON cetak arus kas operasi Rp 3,35 triliun, naik dari Rp 2,73 triliun tahun lalu. Ini luar biasa, apalagi belanja modalnya malah turun, jadi arus kas investasi cuma minus Rp 1,41 triliun.
Jadinya? Free Cash Flow (FCF) tembus Rp 1,95 triliun, naik lebih dari 300%! Ini yang disebut jagoan sejati: bisa dapet duit banyak sambil irit investasi. Bandingin sama tahun lalu yang FCF-nya cuma Rp 438 miliar, kayak anak kos yang tiba-tiba menang undian.
Kinerja piutangnya juga aman, meski naik jadi Rp 140 miliar, DSO-nya masih 7,7 hari. Ini lebih cepat dari nyicil iPhone. Tapi Days Inventory (DI) udah tembus 559 hari, alias hampir dua tahun, artinya stok rumahnya ngendon lama. Yah, semoga aja bukan karena nggak laku. Utang usaha naik juga jadi Rp 270 miliar, bikin payable period naik jadi 34 hari. CCC (Cash Conversion Cycle) jadi makin panjang, 533 hari. Dalam bahasa santai: dari duit keluar ke duit balik, butuh satu setengah tahun lebih. Lumayan, kayak tanam cabe tapi baru panen tahun depan.
Valuasi di harga Rp 340 per saham? Murah sih. PBV 0,79x, PER 7,9x, dan P/FCF 8,4x. Udah punya net cash, FCF besar, dan valuasi diskon, ini sih kombinasi yang jarang. Bahkan EV/EBIT cuma 4,7x. Tapi, tentu pasar belum sadar (atau pura-pura nggak lihat). ROE-nya 10,4%, ROA 7,1%, ROIC 11,2%. Estimasi WACC sekitar 11–12%. Jadi ROIC-nya nyaris seimbang sama WACC. Bisa jadi ini momen meditasi: cuan ada, tapi tidak melebihi biaya modal secara signifikan.
PWON itu kayak anak pintar yang nilai matematikanya stabil, uang sakunya banyak, tapi belum dilirik kampus top karena mukanya biasa aja. Keuangan sehat, arus kas bagus, valuasi murah, tapi laba stagnan dan kurs malah jadi sandungan. Buat yang sabar, ini mungkin harta karun. Tapi buat yang pengen lihat lonjakan instan, ya siap-siap dikecewakan.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


