Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightPublic Expose TOWR Tentang Starlink

Public Expose TOWR Tentang Starlink

Kalau melihat perjalanan Starlink di Indonesia, banyak orang langsung mengira ia akan jadi ancaman besar yang bisa mengguncang bisnis perusahaan menara seperti TOWR, penyedia fiber optic seperti WIFI, maupun telco raksasa TLKM. Namun kalau lihat data, kenyataannya tidak seseram itu. Starlink lebih tepat disebut sebagai pemain tambahan yang melengkapi, bukan lawan yang bisa menggeser. Ada tiga hal utama yang menguatkan kesimpulan ini yaitu harga, penetrasi global, dan karakter teknologi, ditambah lagi faktor regulasi di Indonesia yang membuat ruang geraknya semakin terbatas.

Pertama, soal harga. Paket Starlink di Indonesia dipatok sekitar US$40 sampai US$50 per bulan atau setara Rp600 ribu sampai Rp750 ribu. Sementara operator lokal seperti TLKM dan pemain fiber optic lain menawarkan layanan hanya US$2,5 sampai US$3 per bulan atau Rp40 ribu sampai Rp50 ribu. Selisihnya lebih dari 10 kali lipat. Untuk masyarakat yang sudah terbiasa dengan tarif internet murah, jelas Starlink tidak akan masuk sebagai pilihan massal.

Bahkan seandainya harga Starlink diturunkan ke US$10 per bulan, tetap saja masih 3 sampai 4 kali lipat lebih mahal dari paket lokal, dan jangan lupa ada biaya perangkat kit yang nilainya jutaan rupiah. Dari segi ekonomi ini sudah menunjukkan bahwa layanan satelit hanya cocok untuk ceruk pasar yang memang tidak ada alternatif jaringan lain.

Sekarang lihat bagaimana Starlink perform di dunia. Di Amerika Serikat, jumlah pelanggan Starlink hanya sekitar 1,4 juta pada 2024 dari total 114,7 juta pelanggan fixed broadband. Pangsa pasarnya cuma 1,2%. Di Inggris pelanggan Starlink hanya 70 ribu sampai 87 ribu dari total 29,2 juta fixed broadband atau setara 0,2% sampai 0,3%. Di seluruh Eropa, pelanggan Starlink pada pertengahan 2025 hanya sekitar 0,63 juta sampai 0,64 juta, tidak sampai 1% dari total sambungan internet tetap.

Di Tiongkok pangsa pasarnya 0% karena tidak diizinkan beroperasi. Di India baru dapat lisensi pada 2025 sehingga basis pengguna masih nol. Data ini konsisten menunjukkan Starlink belum jadi pemain besar, bahkan di negara dengan daya beli tinggi. Jadi mustahil rasanya Starlink bisa mendadak mengambil pangsa signifikan di Indonesia yang harga internetnya jauh lebih murah.

Dari sisi teknologi, Starlink memang menawarkan satelit LEO yang punya latensi rendah dan bandwidth lebih stabil dibanding satelit GEO. Itu membuatnya cocok untuk daerah terpencil atau kepulauan. Tapi tetap ada batasan. Kapasitas satelit terbatas, biaya per gigabyte tinggi, dan sinyalnya rentan cuaca. Maka Starlink lebih cocok dipakai di lokasi blank spot ketimbang wilayah urban.

Begitu permintaan data tumbuh, operator menara seperti TOWR akan pasang site baru untuk memperluas jangkauan, lalu pemain fiber optic seperti WIFI dan TLKM bisa menarik kabel. Artinya Starlink hanya jadi pembuka jalan, sementara pemain terestrial tetap yang memetik pertumbuhan jangka panjang karena lebih murah, scalable, dan bisa melayani jutaan pelanggan secara masif.

Tambahan penting datang dari sisi regulasi. Starlink resmi mendapat izin di Indonesia pada Mei 2024 setelah lulus Uji Laik Operasi dari Kominfo. Perizinannya mencakup dua klasifikasi sekaligus yaitu izin jaringan tetap tertutup berbasis satelit atau VSAT dan izin penyelenggara jasa internet ISP. Sebelum izin keluar, pemerintah mewajibkan syarat teknis yang cukup ketat, mulai dari mendirikan NOC di Indonesia, menyiapkan server, hub, sistem pemantauan jaringan, alokasi IP, sampai kerja sama dengan Network Access Provider.

Starlink sudah memenuhi syarat itu dengan membuka NOC di Cibitung dan Karawang serta membuka kantor perwakilan di Indonesia. Layanan komersial diluncurkan pada 19 Mei 2024 dengan fokus awal untuk fasilitas kesehatan di daerah terpencil, bahkan diresmikan langsung oleh Elon Musk bersama pejabat Indonesia. Kominfo menegaskan Starlink tetap tunduk pada kewajiban yang sama dengan operator lokal termasuk kontribusi layanan universal. Artinya ruang gerak Starlink dipagari ketat agar tidak mengganggu ekosistem yang sudah ada.

Harga Starlink terlalu mahal dibanding tarif internet lokal, pangsa pasarnya di negara maju hanya 0,2% sampai 1,2%, teknologinya lebih cocok untuk daerah rural daripada urban, dan regulasi di Indonesia sengaja diarahkan supaya Starlink hanya mengisi celah di wilayah blank spot. Dengan kondisi ini, perusahaan menara seperti TOWR justru diuntungkan karena semakin banyak daerah terkoneksi berarti semakin banyak menara baru yang dibutuhkan.

WIFI dan TLKM pun mendapat peluang lebih luas untuk ekspansi fiber begitu ada permintaan baru. Jadi, Starlink belum jadi ancaman nyata bagi TOWR, WIFI, maupun TLKM. Sebaliknya, kehadirannya justru bisa jadi katalis yang membuka pintu akses internet di wilayah terpencil yang pada akhirnya memperbesar pasar untuk pemain lokal.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments