Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightProyek $ADHI yang Macet di LK Q3 2025: Apakah Bisa Bangkit dan Meroket Lagi...

Proyek $ADHI yang Macet di LK Q3 2025: Apakah Bisa Bangkit dan Meroket Lagi Seperti di Zaman SBY?

Kalau saat ini investor $DADA sedang harap-harap cemas menunggu influencer memanggil Vanguard, Mitsubishi, hingga MotoGP datang untuk masuk dan memegang DADA untuk jadi pengendalinya, maka investor ADHI sedang menatap proyek-proyek macet yang tak kunjung cair. Harus diakui, pada zaman dulu kala ADHI adalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia, sejajar dengan WIKA dan WSKT.

Mereka bertiga dijuluki trio macan BUMN Karya yang dulu mengguncang dunia infrastruktur. Sayangnya, badai korupsi dan proyek mangkrak mengubah mereka jadi trio ulat pucuk, lambat dan haus likuiditas. Pertanyaannya, apakah ADHI masih bisa bangkit dari reruntuhan proyeknya sendiri? 

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2025, kondisi ADHI bisa dibilang kritis tapi belum koma. Dari sisi piutang, perusahaan mencatat penurunan piutang usaha bersih sebesar 3,85% menjadi Rp 2,35 triliun dari sebelumnya Rp 2,44 triliun, sedangkan piutang retensi turun 3,76% ke Rp 1,18 triliun. 

Artinya, beberapa proyek yang sudah selesai belum dibayar pemberi kerja, alias banyak pekerjaan yang sudah dikerjakan tapi belum menghasilkan uang tunai. Yang paling mencolok, tagihan bruto ke pemberi kerja atau pekerjaan yang sudah selesai tapi belum ditagih turun 17,68% menjadi Rp 6,48 triliun. 

Di sisi lain, klaim atas pekerjaan naik 13,92% ke Rp 1,47 triliun, menunjukkan bahwa banyak proyek masih dalam tahap sengketa, addendum, atau mediasi. Jadi bukan uang yang masuk, malah daftar klaim yang makin panjang.

Masalah makin terasa ketika melihat piutang super tua yang sudah lewat tiga tahun. Nilainya melonjak 60% menjadi Rp 1,73 triliun dari Rp 1,08 triliun di akhir 2024. 

Ini pertanda banyak tagihan yang sebetulnya sudah tidak layak harap. Bahkan anak usahanya, PT Adhi Commuter Properti (ADCP), sedang menjalani restrukturisasi lewat PKPU karena sejumlah proyek apartemen mangkrak.

Misalnya proyek Dhika Universe Yogyakarta baru direncanakan lanjut tahun 2025, Conexio dan Padmayana di 2026, Mardhika Park Tambun Mahoni di 2028, dan GDCL Arlington baru 2029. Dalam bahasa pasar, uangnya belum tahu kapan balik.

Secara keseluruhan, total aset ADHI turun 4,04% menjadi Rp 33,63 triliun dari Rp 35,04 triliun di akhir 2024. Ekuitas cuma naik tipis 0,27% ke Rp 9,70 triliun. Pendapatan anjlok tajam 38,30% jadi Rp 5,65 triliun dari Rp 9,16 triliun. 

 Laba bersih anjlok parah 93,63% dari Rp 69,32 miliar jadi hanya Rp 4,42 miliar, nyaris lenyap. Arus kas operasi pun jatuh 43,33% ke Rp 8,41 triliun, sejalan dengan turunnya penerimaan dari pelanggan.

Segmen teknik dan konstruksi masih jadi tulang punggung dengan kontribusi 81,9% terhadap pendapatan atau sekitar Rp 4,63 triliun, tapi pendapatannya susut dari Rp 7,21 triliun tahun lalu. Aset segmen ini mencapai Rp 17,48 triliun, sedikit di atas segmen properti dan pelayanan yang punya Rp 11,97 triliun. Segmen investasi dan konsesi menyumbang Rp 1,81 triliun aset, termasuk proyek DTP, JAA, dan AJR senilai total Rp 1,65 triliun yang diharapkan bisa memberi pendapatan jasa di masa depan. Tapi itu baru harapan.

Dari sisi hukum, ADHI juga tidak tenang. Masih ada sengketa dengan PT Aalborg Industri Indonesia soal proyek pembangkit listrik senilai Rp 21,72 miliar yang sebenarnya sudah dimenangkan lewat arbitrase BANI tapi belum dieksekusi karena pihak lawan banding. 

Ada juga sisa pembayaran proyek Ratu Prabu 2 sebesar Rp 999 juta yang belum diselesaikan oleh PT Lekom Maras. Di sisi lain, ada kasus tanah 1.100 meter persegi di Sawangan Depok yang masih kasasi di Mahkamah Agung dan lahan 20 hektar milik anak usaha PT APP yang kalah di pengadilan.

Kalau putusan tetap tak berpihak, aset tanah besar itu bisa hilang dari neraca. Jadi, bukan cuma uang yang belum masuk, tapi aset pun terancam lenyap.

Bagi kreditur, situasi ini juga bikin gelisah. ADCP tengah menjalani restrukturisasi utang lewat PKPU dengan tenor baru 10 sampai 15 tahun. 

adi pembayaran ke bank maupun vendor kontraktor ditunda panjang, dan nilai uang mereka terus tergerus oleh waktu. Selain itu, ADHI gagal memenuhi beberapa kovenan pinjaman bank dan harus minta pengecualian ke Mandiri, $BBNI, dan CIMB Niaga. 

Liabilitas jangka pendek per September 2025 mencapai Rp 16,01 triliun, sedangkan pinjaman berbunga mengambang sebesar Rp 5,03 triliun membuat risiko suku bunga jadi sensitif. Setiap kenaikan bunga 1% bisa memangkas laba hingga Rp 216,5 miliar. Ini seperti jalan di tepi jurang: salah langkah sedikit, langsung terperosok.

Dengan harga saham Rp 278, valuasi ADHI makin tertekan. Laba per saham anjlok dari Rp 8,25 menjadi Rp 0,53.

Aset juga diragukan kualitasnya karena piutang tua membengkak dan klaim belum disetujui. Cadangan kerugian kredit ekspektasian mencapai Rp 689,5 miliar untuk piutang usaha, Rp 127,4 miliar untuk retensi, dan Rp 577,6 miliar untuk tagihan bruto.

Kalau semua dikonversi, nilainya hampir Rp 1,4 triliun aset yang bisa saja tidak pernah jadi uang tunai. Total utang Rp 23,93 triliun jauh lebih besar daripada ekuitas Rp 9,70 triliun, yang berarti rasio utangnya tinggi. Padahal target manajemen adalah menjaga rasio utang neto terhadap modal di kisaran 4 sampai 6 kali, tapi sekarang sudah di ambang batas berbahaya.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan ADHI? Pertama, percepat penagihan piutang tua Rp 1,73 triliun dan selesaikan klaim Rp 1,47 triliun lewat addendum atau mediasi agar bisa segera masuk kas. Kedua, perbaiki kepatuhan terhadap kovenan kredit bank dengan menjaga rasio lancar minimal 100% dan DER di bawah 300%. Kalau tidak, bunga makin naik dan laba makin tipis. Ketiga, tuntaskan semua sengketa hukum, terutama kasus tanah, agar aset bisa dikapitalisasi kembali. Terakhir, lanjutkan proyek properti hasil PKPU sesuai jadwal antara 2025 sampai 2029 supaya arus kas baru bisa mulai masuk.

Pada akhirnya, ADHI sedang berada di persimpangan. Kalau terus dibiarkan, piutang macet dan proyek tertunda akan menyeretnya ke lubang likuiditas yang lebih dalam.

Tapi kalau manajemen bisa cepat bergerak, menagih, memperkuat struktur keuangan, dan menghidupkan kembali proyek properti, bukan mustahil ADHI bisa berubah lagi jadi macan. Mungkin bukan trio macan yang buas seperti dulu, tapi setidaknya macan yang bisa kembali berlari di rimba konstruksi nasional.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments