Karena kebetulan ada member Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 yang share berita tersebut jadi coba kita hitung potensi revenue dan laba BUKA pasca tutup marketplace. Untuk laba dan rugi investasi akibat BUKA Nyangkut di saham BBHI harga pucuk waktu RI, tidak masuk dalam hitungan.
Setelah memutuskan menutup layanan marketplace, Bukalapak akan menghadapi perubahan besar dalam laporan keuangannya. Dari pendapatan hingga beban operasional, dampaknya cukup signifikan. Saat ini, total pendapatan Bukalapak tercatat sebesar Rp3,40 triliun per 30 September 2024, dengan kontribusi dari marketplace mencapai Rp1,74 triliun atau 51% dari total pendapatan. Sementara itu, segmen produk digital, seperti pulsa dan token listrik, menyumbang Rp1,66 triliun atau 49%. Dengan penutupan marketplace, pendapatan Bukalapak diproyeksikan turun menjadi Rp1,66 triliun, hanya mengandalkan produk digital.
Di sisi beban, Bukalapak juga akan mengalami perubahan besar. Beban pokok pendapatan (COGS) saat ini mencapai Rp2,80 triliun, dengan Rp1,28 triliun di antaranya berasal dari aktivitas marketplace. Setelah marketplace dihentikan, COGS diperkirakan turun menjadi Rp1,52 triliun, karena hanya mencakup segmen produk digital. Artinya, beban langsung perusahaan akan berkurang sekitar 46%.
Tak hanya itu, beban operasional seperti penjualan dan pemasaran, serta umum dan administrasi (SGA), juga akan menurun. Saat ini, total beban operasional mencapai Rp1,64 triliun, terdiri dari Rp252,43 miliar untuk pemasaran dan Rp868,03 miliar untuk SGA. Penutupan marketplace akan memangkas beban pemasaran sekitar 50% atau Rp126,21 miliar, karena promosi terkait marketplace tidak lagi diperlukan. Sementara itu, SGA akan turun sekitar 25% atau Rp217 miliar, berkat pengurangan biaya gaji, hosting, dan infrastruktur terkait marketplace. Dengan demikian, total beban operasional baru diperkirakan sekitar Rp777,24 miliar.
Setelah semua perubahan ini, potensi laba atau rugi operasional Bukalapak dapat dihitung. Dengan pendapatan baru Rp1,66 triliun dan COGS sebesar Rp1,52 triliun, Bukalapak akan menghasilkan gross profit sebesar Rp140 miliar. Namun, setelah dikurangi beban operasional sebesar Rp777,24 miliar, perusahaan diproyeksikan masih mencatat rugi operasional sebesar Rp637,24 miliar. Meskipun angka ini lebih kecil dibandingkan kerugian sebelumnya, Bukalapak tetap perlu meningkatkan pendapatan dari produk digital atau menemukan sumber pendapatan baru untuk mencapai profitabilitas. Masih bakal rugi juga sih setelah tutup bisnis marketplace kalau revenue digital tidak naik.
Keputusan ini menunjukkan langkah besar Bukalapak dalam mengurangi beban yang berasal dari aktivitas marketplace, seperti logistik dan pengelolaan barang fisik. Namun, tantangannya kini adalah memastikan segmen digital mampu tumbuh lebih cepat untuk menggantikan pendapatan yang hilang. Transformasi ini jelas membawa risiko, tetapi juga membuka peluang baru untuk fokus pada bisnis yang lebih ringan dan mungkin lebih menguntungkan di masa depan.
Proyeksi
Pendapatan
Pendapatan Total (2024): Rp3,40 Triliun
Marketplace: Rp1,74 Triliun (51% dari total pendapatan)
Produk Digital (Online to Offline): Rp1,66 Triliun (49% dari total pendapatan)
Pendapatan Baru (Setelah Penutupan Marketplace): Rp1,66 Triliun (-51% dari total pendapatan)
Beban Pokok Pendapatan (COGS)
COGS Marketplace: Rp1,28 Triliun (46% dari total COGS)
COGS Produk Digital: Rp1,52 Triliun (54% dari total COGS)
COGS Baru (Setelah Penutupan Marketplace): Rp1,52 Triliun (-46%)
Beban Operasional
Total Beban Operasional Saat Ini: Rp1,64 Triliun
Beban Penjualan dan Pemasaran: Rp252,43 Miliar
Penurunan terkait marketplace: -Rp126,21 Miliar (-50%)
SGA (Beban Umum dan Administrasi): Rp868,03 Miliar
Penurunan terkait marketplace: -Rp217 Miliar (-25%)
Beban Operasional Baru: Rp777,24 Miliar (-53%)
Proyeksi Akhir
Proyeksi Laba/Rugi Operasional:
Pendapatan Baru: Rp1,66 Triliun
COGS Baru: Rp1,52 Triliun
Gross Profit: Rp140 Miliar
Beban Operasional Baru: Rp777,24 Miliar
Rugi Operasional: Rp637,24 Miliar
Penutupan marketplace akan mengurangi beban besar, terutama dari logistik dan pemasaran.
Pendapatan kini sepenuhnya bergantung pada produk digital (Rp1,66 Triliun).
Rugi operasional masih ada, tetapi berkurang dibandingkan sebelumnya.
Tantangan besarnya adalah meningkatkan pendapatan segmen digital untuk menutup kekurangan dari marketplace.
Ingin mendapatkan insight eksklusif lainnya dari PintarSaham? Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan investasi Anda! Klik link berikut ini untuk bergabung dan mulai perjalanan finansial Anda https://bit.ly/NewsLetterPintarSaham