Kalau kita lagi bahas IPO CDIA alias PT Chandra Daya Investasi Tbk, dan ngelirik potensi antusiasmenya yang luar biasa besar dari investor, satu hal yang wajib dipahami dari awal adalah soal mekanisme penjatahan saham.
Banyak orang cuma fokus ke harga dan prospek perusahaan dan sudah mengkhayal beli McLaren baru warna ijo, tapi lupa bahwa dapet saham di IPO itu ada seninya sendiri. Terutama kalau kamu niat masuk lewat jalur pooling allotment, di mana kamu harus siap-siap bersaing dengan ribuan, bahkan ratusan ribu investor lain, tergantung seberapa hype IPO tersebut. Di kasus CDIA, ini penting banget karena sistem penjatahan sahamnya menggabungkan dua skema yaitu:
- Fixed Allotment buat investor institusi
- Pooling Allotment buat publik umum, alias saya, kamu, mereka dan 399.999 – 1 juta orang investor lainnya yang mungkin pengen ikutan IPO CDIA.
Kita mulai dulu dari Fixed Allotment, yang sering dianggap sebagai jalur VIP. Ini adalah jatah yang dialokasikan khusus buat kalangan investor gede seperti dana pensiun, asuransi, reksa dana, korporasi, atau individu premium yang punya relasi dengan underwriter.
Tapi jangan salah, fixed allotment bukan berarti bebas sebebasnya. Ada batasan keras dari regulator. Siapa pun yang jadi komisaris, direktur, atau punya saham ≥20% di perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai penjamin emisi, dilarang keras dapat fixed allotment. Bahkan jatah pegawai emiten pun dibatasi maksimal 10% dari total saham IPO.
Penjatahan ini dikelola oleh manajer penjatahan, dalam hal ini PT Henan Putihrai Sekuritas. Mereka yang menentukan siapa aja yang layak dapat fixed, berapa jatahnya, dan yang lebih penting: fixed ini bisa kena potong kalau jalur pooling membeludak permintaannya. Jadi meskipun kamu investor gede dan punya jalur dalam, tetap bisa kena pangkas kalau ritel rame-rame nyerbu.
Masuk ke sistem yang lebih demokratis yaitu Pooling Allotment. Ini jalur yang paling banyak diikuti publik dan ritel. Di sinilah semua orang berbondong-bondong masuk lewat aplikasi online, dengan harapan bisa kebagian jatah meskipun kecil.
Berdasarkan SEOJK No. 15/2020, IPO CDIA yang mengumpulkan dana hingga Rp2,37 triliun masuk ke dalam kategori Golongan IV (IPO > Rp1T), yang artinya alokasi minimum untuk pooling adalah 2,5% dari total nilai IPO atau Rp75 miliar, tergantung mana yang lebih tinggi. Tapi, aturan ini bukan angka mati. Kalau terjadi oversubscribe, artinya permintaan melebihi kuota awal, maka jatah pooling otomatis ditingkatkan:
1. Kalau oversub 2,5–10x, kuota naik ke 5%
2. Kalau oversub 10–25x, naik lagi ke 7,5%
3. Kalau >25x, kuota bisa naik sampai 12,5%
Yang menarik, sumber tambahan kuota ini diambil dari fixed allotment. Jadi, fixed pun bisa dikorbankan demi memenuhi permintaan ritel. Ini bisa bikin drama kecil di belakang layar antara institusi dan ritel yang berebut jatah.
Di jalur pooling, penjatahan dilakukan dengan pendekatan yang cukup fair. Misalnya semua investor awalnya akan diberikan 10 lot pertama dulu (1.000 saham), lalu sisa kuota dibagi proporsional berdasarkan jumlah pemesanan. Tapi karena 1 lot = Rp19.000 (harga IPO Rp190/saham), pemesanan yang besar pun belum tentu untung secara proporsional kalau peminatnya gila-gilaan.
Yang lebih bikin seru, kalau masih ada sisa saham akibat pembulatan ke bawah, maka alokasi akan dibagikan berdasarkan kecepatan submit pesanan. Jadi kalau kamu pesan cepat, kamu punya sedikit edge dibanding yang telat submit.
Misalnya kamu ikut lewat pooling dengan tiga skenario dana:
– Rp10 juta (sekitar 526 lot),
– Rp100 juta (5.263 lot),
– Rp1 miliar (52.631 lot).
Kita asumsikan ada 400.000 orang yang ikut pesan IPO CDIA.
Kalau IPO ini oversubscribed 1x, artinya total permintaan 2x dari kuota pooling. Di skenario ini, kamu yang pesan Rp10 juta masih bisa dapat 400–500 lot.
Yang pesan Rp100 juta kemungkinan dapat 4.000–5.200 lot.
Dan pemesan Rp1 miliar dapat 26.000–30.000 lot. Artinya masih ada ruang nafas, jatah cukup besar, dan semua senang.
Tapi kalau masuk skenario oversubscribe 10x, mulai terasa sesak.
Total permintaan 10× kuota, alokasi per orang mulai dikompres.
Pemesan Rp10 juta bisa cuma dapat 50–80 lot,
Pesan Rp100 juta dapat 600–800 lot,
Pesan Rp1 miliar dapat 5.000–6.500 lot.
Lanjut lagi ke 100x oversub,
Kamu yang pesan Rp10 juta cuma bisa dapat 5–10 lot.
Pesan Rp100 juta jadi 50–100 lot.
Pesan Rp1 miliar jadi 500–1.000 lot.
Gila kan? Dan kalau sampai oversubscribed 1000x, ya siap-siap aja pesan Rp10 juta bisa cuma dapat 1–2 lot,
Pesan Rp100 juta cuma dapat 5–10 lot,
Pesan Rp1 miliar mungkin cuma 50–100 lot. Di titik ini, kamu udah lebih mirip fans yang dapet gelang masuk festival tapi nggak bisa liat panggung.
Sekarang kita bandingkan dengan jalur Fixed Allotment. Kalau kamu eligible dan masuk ke daftar investor yang mendapatkan fixed, maka selama permintaan nggak gila-gilaan, kamu bisa dapat hampir penuh. Rp10 juta bisa dapat 500–520 lot, Rp100 juta bisa dapat 5.200–5.250 lot, dan Rp1 miliar bisa dapat 50.000–52.000 lot.
Tapi kalau fixed allotment juga kebanjiran pemesan atau sebagian dialihkan ke pooling, jatah kamu juga bisa kena potong. Fixed bukan jaminan aman 100%, tapi peluangnya jauh lebih besar dibanding pooling di tengah hype IPO.
Jadi kalau kamu investor ritel, yang bisa kamu kontrol cuma satu yaitu kecepatan submit dan efisiensi dana. Jangan kejar jatah besar kalau oversub-nya bisa sampai ratusan kali. Di situasi seperti ini, strategi terbaik justru ikut maksimal di Rp10 juta–Rp99 juta buat tetap masuk kategori ritel, dan submit secepat mungkin. Karena sistem akan tetap kasih 10 lot pertama ke semua yang eligible, dan kamu bisa jadi pemenang dengan modal kecil tapi timing yang tepat.
Tapi kalau kamu punya akses ke fixed lewat institusi atau relasi sekuritas besar, ya manfaatkan itu. Karena di saat pooling makin padat kayak KRL Senin pagi, fixed bisa jadi jalur tol yang menyelamatkan kamu dari desakan orang-orang yang sama-sama ingin dapet jatah IPO CDIA.
Intinya, sistem penjatahan IPO CDIA ini memang rumit, tapi dirancang untuk adil. Buat yang punya uang besar dan akses institusi, fixed jadi jalan utama. Tapi buat ritel yang lincah, pooling tetap kasih peluang asalkan ngerti caranya. Di pasar yang makin kompetitif ini, strategi bukan cuma soal besar-kecilan dana tapi soal cerdas memanfaatkan sistem.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!