IPO maraton Juli 2025 ini seperti pesta demokrasi bursa yang dikurasi langsung oleh sekumpulan underwriter, digoreng para bandar, dan disambut penuh semangat oleh investor retail lewat aplikasi Stockbit. Bukan cuma banyak jumlahnya, tapi jadwalnya juga mepet satu sama lain. Bisa dibilang ini momen langka karena dalam waktu kurang dari dua minggu, ada lebih dari 8 perusahaan nyoba peruntungan jadi emiten publik.
Dan yang bikin seru, semua ini bisa diakses retail secara gampang lewat Stockbit. Dari pesan, lihat status penjatahan, sampai siap jual pas listing, semua tinggal klik. Gampang. Tapi ya, kalau gampang itu jaminan cuan, dunia pasti damai. Sayangnya yang bikin deg-degan itu bukan prosesnya, tapi hasil akhirnya, dapat berapa lot dan bisa ARA berapa kali.
IPO COIN, PT Indokripto Koin Semesta Tbk, IPO yang katanya bakal main di bisnis kripto dan kustodian aset digital ini underwriter-nya Ciptadana Sekuritas dengan kode KI. Dana yang dikumpulkan sekitar 220,6 Miliar, masuk Golongan I karena di bawah 250 M.
Dari 10 lot yang dipesan, cuma dikasih 9 lot. Artinya penjatahannya sekitar 90 persen. Ini termasuk fair kalau dibandingkan dengan PSAT. Permintaan lumayan tinggi, tapi belum oversubscribe brutal. Indikasi bahwa investor retail masih cukup minat, tapi belum terlalu FOMO karena sektor kripto juga masih tanda tanya di Indonesia.
PSAT, PT Pancaran Samudera Transport Tbk. Ini yang paling epik, cuma dapat 1 lot dari 10 pesanan. Padahal dananya juga 200,1 Miliar, masih Golongan I. Underwriternya Trimegah Sekuritas dengan kode LG yang sebenarnya punya reputasi cukup kuat di pasar IPO retail. Tapi entah kenapa, IPO ini kayaknya diserbu habis-habisan.
Bisa jadi karena market melihat ada potensi gorengan, atau memang bandarnya narik duluan dari awal. Dapat cuma 10 persen ini udah kayak rebutan nasi kotak saat buka puasa bersama. Kalau nanti listing-nya langsung ARA dan sustain, dapat 1 lot pun udah bersyukur. Tapi kalau langsung didistribusi, ya 1 lot pun bisa nyangkut.
ASPR, PT Asia Pramulia Tbk. Underwriter-nya NH Korindo Sekuritas Indonesia dengan kode XA, dananya lebih kecil, sekitar 100,7 Miliar, tetap Golongan I. Tapi allotment-nya justru full 10 lot alias 100 persen. Ini bisa berarti dua hal. Pertama, permintaannya sepi.
Atau kedua, bandarnya memang pengen semua investor dapat barang biar nanti bisa didistribusi merata pas listing. Strategi ini sering dipakai di IPO kecil, kasih full allotment, bikin ARA satu kali, habis itu jual rame-rame. Jadi walau dapat banyak, bukan berarti aman cuan. Justru malah rawan jadi exit liquidity.
Lalu ada CDIA, yaitu PT Chandra Daya Investasi Tbk, anak baru dari keluarga besar Barito Group milik Prajogo Pangestu. Ini bukan IPO kaleng-kaleng. Dana yang dihimpun mencapai 2,37 Triliun, masuk Golongan IV karena di atas 1 Triliun. Underwriter-nya keroyokan, Henan Putihrai (HP), Trimegah (LG), BNI Sekuritas (NI), BCA Sekuritas (SQ), DBS Vickers (DP), dan OCBC Sekuritas (TP).
Geng papan atas semua. Dan hasilnya, dapat full 10 lot dari 10 pesanan alias 100 persen. Tapi berbeda dengan ASPR, allotment penuh CDIA lebih bisa diterima logikanya karena jumlah sahamnya jauh lebih banyak dan distribusinya bisa jadi sudah diatur biar semua orang kebagian. IPO ini seperti dikondisikan buat listing besar yang terlihat stabil. Tapi tetap saja, siapa yang megang kendali harga pasca listing nanti bakal menentukan arah, bisa jadi satu hari ARA atau dua hari ARA, bisa juga langsung sideways dan didistribusi pelan-pelan atau malah langsung ARB. Nobody knows.
Empat saham lainnya masih belum keluar hasil penjatahannya yaitu:
1.CHEK atau PT Diastika Biotekindo Tbk, dana 104,3 Miliar, Golongan I
2.MERI atau PT Merry Riana Edukasi Tbk, dana 30,1 Miliar, Golongan I
3.PMUI atau PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk, dana 208,8 Miliar, Golongan I
4.BLOG atau PT Trimitra Trans Persada Tbk, dana 140,8 Miliar, Golongan I
Semua ini masih IPO kecil. Biasanya kalau dilihat di atas kertas, rawan digoreng, tapi kadang malah sepi. Kalau nanti allotment-nya cuma dapat 1 sampai 3 lot, berarti demand retail masih tinggi banget. Tapi kalau full allotment, ya hati-hati, bisa jadi sinyal bahwa euforianya mulai jenuh atau calon nyangkut rame-rame.
Dan satu hal yang perlu dicatat juga, semua ini dilakukan lewat Stockbit. Jadi semua data allotment ini berasal dari satu jalur, yaitu Stockbit Sekuritas dengan kode XL yang jadi favorit investor retail. Kita nggak tahu pasti allotment di sekuritas lain, misalnya kalau apply dari BCA Sekuritas, Mandiri Sekuritas, atau langsung lewat underwriter utama.
Bisa jadi lebih banyak, bisa juga sama aja. Tapi yang pasti, karena semua orang apply dari tempat yang sama, persaingan di situ juga ketat. Makanya kadang yang dapat cuma 1 lot dari 10 bukan karena allotment-nya kecil, tapi karena terlalu banyak investor masuk lewat jalur yang sama.
Terakhir, cuan atau nggaknya bukan ditentukan dari dapat banyak atau sedikit, tapi dari seberapa banyak saham itu bisa ARA dan seberapa cepat bandarnya mulai distribusi. Kalau bandarnya sabar, bisa ARA dua sampai tiga hari. Tapi kalau dari hari pertama udah ada tanda-tanda jualan, ya siap-siap nyangkut massal.
Tugas kita sebagai investor retail bukan cuma milih saham IPO mana yang kelihatan menarik, tapi juga belajar dari pola. Tandai underwriter mana yang sering bawa IPO bodong. Kalau dalam waktu dekat dia udah tiga kali bawa emiten dan semua langsung nyungsep, udah pasti bukan hoki, itu sistematis. Blacklist aja dan cari yang punya rekam jejak IPO sehat. Nggak semua underwriter niat nyari investor happy.
Jadi walaupun sistem Stockbit bikin hidup lebih gampang buat ikut IPO, tetap aja kita harus melek situasi. Jangan asal tebus, apalagi cuma karena lihat teman dapat ARA lalu ikut-ikutan. Karena dalam IPO, bukan siapa cepat dia dapat, tapi siapa yang tahu kapan harus keluar. Dan kalau mau aman, jangan cuma lihat euforia, lihat juga siapa yang di belakang layar. Karena yang ngatur naik turun harga bukan kita, tapi mereka yang bawa barang dari awal.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!