JAKARTA, 21 Maret 2025 – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (Kode Saham Bloomberg: CSRA IJ) mengumumkan pencapaian kinerja tahunan yang luar biasa dengan mencatatkan penjualan tertinggi sepanjang sejarahnya pada tahun 2024. Pencapaian ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk terus tumbuh dan berinovasi dalam industri kelapa sawit yang semakin dinamis, sambil menjaga tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
CSRA terus meningkatkan kehadirannya secara nasional dengan memfokuskan pada produksi dan pengembangan fasilitas pabrik kelapa sawit baru, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi produk yang bernilai tambah. Tahun 2024 merupakan tahun penting untuk pelaksanaan tujuan strategis dan percepatan kemajuan di seluruh lini perusahaan.
Struktur modal CSRA yang baik dapat membantu menarik investor, mengurangi biaya pinjaman, dan meningkatkan reputasi perusahaan di market. CSRA terus memanfaatkan keunggulannya dalam pengembangan bisnis dengan mempertahankan pertumbuhan seimbang yang sejalan dengan standar keberlanjutan.

Memanfaatkan Peluang yang Ada Untuk Mendukung Pertumbuhan Jangka Panjang.
CSRA secara konsisten mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasionalnya, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga peningkatan kesejahteraan sosial dan lingkungan, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan serta memperkuat posisi perusahaan.
Pada tahun 2024, secara total luas lahan tertanam inti Perseroan mencapai 20.067,6 ha, yang mencerminkan adanya perluasan area lahan perkebunan yang ditanami dibandingkan tahun 2023 di mana area perkebunan ini yang ditanami mencapai 19.552,0 ha. Dari luas lahan perkebunan yang tertanam tersebut, seluas 18.133,8 ha ditanami tanaman yang menghasilkan (mature).
Secara umum, profil tanaman Perseroan masuk dalam kategori produktif, dikarenakan umur tanaman yang masih muda. Tanaman berusia 4-7 tahun menempati area seluas 2.408,3 ha, tanaman berusia 8-17 tahun menempati area seluas 11.437,5 ha dan sisa nya tanaman berusia diatas 18 tahun menempati area seluas 4.288,0 ha. Pada tahun 2024, produksi TBS inti Perseroan menurun menjadi 321.982 ton dari 337.367 ton di tahun 2023, namun tetap dapat menjaga tingkat pertumbuhan secara Compounded Annual Growth Rate (CAGR) sejak tahun 2018 sebesar 2,8%.

Selama tahun 2024 CSRA mengalami menurunan produktivitas TBS. Penurunan ini diantaranya diakibatkan oleh gangguan cuaca dan gangguan ganoderma, yang menyebabkan penurunan yield per hektar secara umum. Kedepan, strategi penetapan harga, optimalisasi produksi, dan efisiensi operasional terus diperhatikan untuk membantu mengurai dampak dari kendala yang diahapi Perseroan.
Pada FY24 laba kotor mencapai Rp483,86 miliar, menandai kenaikan sebesar 21,1% dibandingkan dengan FY23, dengan margin kotor sebesar 45,4% pada FY24 dibandingkan dengan 45,6% pada FY23. Laba operasional mencapai Rp263,62 miliar, mewakili penurunan yang cukup moderat dengan margin 18,8% dibandingkan dengan FY23, dengan margin sebesar 25,3%.
Kinerja laba operasional yang masih cukup baik ini, tercermin dalam meroketnya laba bersih pada FY24 sebesar Rp214,85 miliar, dengan margin bersih sebesar 20,1%. Manajemen terus mendorong peningkatkan efektivitas dan produktivitas organisasi yaitu dengan mengedepankan implementasi optimisasi biaya dan langkah-langkah pengendalian disiplin biaya sehingga kinerja laba operasional pada tahun 2025 menjadi lebih baik.


Pengelolaan Keuangan yang Disiplin dan Berbasis pada Prinsip Keberlanjutan
Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin, transparan, dan berbasis pada prinsip keberlanjutan, Perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mengurangi risiko finansial, serta memastikan bahwa setiap langkah ekspansi atau inovasi dapat dilakukan secara efisien. Pada 31 Desember 2024, total aset Perusahaan mencapai Rp2,25 triliun, meningkat sebesar 22,2% dari Rp1,84 triliun pada FY23.
Aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 17,7% menjadi Rp1,79 triliun dibandingkan dengan Rp1,52 triliun pada akhir 2023, dengan peningkatan terbesar terlihat pada aset tetap dan piutang plasma. Aset lancar pada FY24 juga naik sebesar 43,1% dibandingkan dengan FY23 menjadi sebesar Rp463,27 miliar. Naiknya aset lancar terutama disebabkan oleh naiknya kas dan setara kas sejalan dengan meningkatnya pendapatan Perusahaan.
Total kewajiban hingga 12M24 adalah Rp952,72 miliar, mencerminkan kenaikan sebesar 30,9% dibandingkan dengan akhir tahun 2023, sejalan dengan cairnya fasilitas utang bank. Posisi ekuitas berada pada Rp1,29 triliun per 31 Desember 2024, menunjukkan kenaikan sebesar 16,4% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2023, yang dapat dikaitkan dengan jumlah laba ditahan dari pendapatan tahun ini. Keuangan yang sehat memungkinkan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi baru, memperkuat kapabilitas operasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, sambil menjaga kelestarian lingkungan.


Rasio-Rasio Keuangan Utama
Posisi EBITDA di FY24 mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja operasional, meskipun ada perubahan dalam lingkungan eksternal seperti kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Margin kotor CSRA pada 12M24 adalah 45,4%, sedikit turun dibandingkan dengan 45,5% pada 12M23. Hal ini mengakibatkan penurunan margin operasional menjadi sebesar 24,7%, atau turun dibandingkan 25,3% pada 12M23.
Namun demikian dari sisi bottom-line Perusahaan berhasil meningkatkan margin bersihnya menjadi sebesar 20,1% pada 12M24 dibandingkan 16,7% tahun lalu. Perusahaan memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, sehingga terhindar dari kesulitan dalam pembayaran utang dan biaya operasional. Rasio lancar perusahaan berada pada 1,85x, lebih tinggi dari 1,73x yang tercatat pada akhir 2023 menunjukkan bahwa Perusahaan sangat likuid dan dapat dengan mudah melunasi kewajiban lancarnya menggunakan aset lancar.
Selain itu, rasio aset terhadap ekuitas perusahaan adalah 1,73x pada 12M24, naik dari 1,65x pada FY23, menunjukkan bahwa aset yang lebih produktif seperti halnya pembangunan PMKS ke 3 yang sedang berlangsung akan menghasilkan keuntungan yang terakumulasi dalam ekuitas.

Tinjauan Tahun 2025
Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan peluang yang mempengaruhi kinerjanya. Industri kelapa sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia, berkontribusi pada ketahanan pangan, energi, dan ekonomi. Transformasi teknologi dan inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit.
Secara keseluruhan, industri kelapa sawit Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan prospek yang cerah dengan peluang pertumbuhan yang signifikan. Namun, tantangan seperti kebijakan energi domestik, ketatnya persaingan global, dan kebutuhan akan inovasi teknologi harus dihadapi untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Diperkirakan bahwa sektor perkebunan sawit Indonesia akan mengalami pertumbuhan pesat pada tahun 2025, didorong oleh kenaikan harga CPO diatas 7,2% menjadi MYR 4.500 per ton dan terus tumbuh. Selain itu, produksi CPO diproyeksikan tumbuh sebesar 3,9%, terutama setelah berakhirnya fenomena El Nino pada Mei 2024 yang lalu. Peluang ini akan dimanfaatkan oleh CSRA untuk terus mempercepat ekspansi Perusahan, ekspansi anorganik, dan investasi strategis.
Seman Sendjaja, Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis menyampaikan, “Perusahaan telah mengalokasikan anggaran untuk belanja modal (Capex) sebesar Rp100 miliar, dimana 50% digunakan untuk menuntaskan pembangunan pabrik kelapa sawit ketiga di kabupaten Banyuasin yang di rencanakan mulai beroperasi pada bulan Juli 2025, dan 50% sisanya untuk pembayaran ganti rugi tanam tumbuh (GRTT) dan penanaman areal baru di wilayah operasional region Sumatera Selatan”. Beliau melanjutkan, “Perusahaan telah menerapkan strategi untuk meninjau peluang dalam mengakuisisi lahan baru, dengan prioritas dekat dengan area perkebunan Perseroan yang sudah ada agar mudah mengintegrasikan operasional CSRA”.
Perusahaan terus meningkatkan inisiatif Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan fokus pada insitatif Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, dan Kearifan Lokal (HEEL). Di antara inisiatif yang ada, Perusahaan sudah mendapatkan sertifikasi ISPO untuk kebun PT SSG dan PT ABI di region Sumatera Selatan pada tanggal 19 Maret 2025.
CSRA juga menerima pengakuan atas pencapaian Perusahaan dalam lingkungan, dengan memperoleh penghargaan untuk pencapaian CSRA dalam Transparansi Emisi dan Penurunan Emisi Korporasi 2024 dengan kategori Silver yang dianugerahkan pada tanggal 29 Mei 2024. “Saya melihat pertumbuhan Perusahaan yang kuat, dengan fokus pada memulihkan margin bruto Perusahaan.
Untuk mendukung pencapaian tujuan pendapatan jangka panjang, Perusahaan akan meningkatkan investasi di pabrik dan mekanisasi. Perusahaan juga memprioritaskan penciptaan arus kas yang kuat seiring dengan langkah-langkah pengembangan strategis yang sedang dijalankan oleh Perusahaan.
Pengembangan ini mencakup ekspansi operasional, peningkatan kapasitas produksi, serta adopsi teknologi baru yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing Perusahaan”, Seman menambahkan. “Dengan tata kelola yang tepat, saya yakin CSRA dapat memperkuat kinerjanya dan meraih pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan”, beliau menyimpulkan.