PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) berencana meminta persetujuan pemegang saham untuk penambahan kegiatan usaha berbasis Transportation Management System atau TMS pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 17 Juni 2026. Rencana ini membutuhkan biaya investasi awal sebesar Rp5,12 miliar, menggunakan dana internal, dan dinilai layak oleh penilai independen dengan net present value positif sebesar Rp12,62 miliar.
Rincian Penambahan Usaha ASSA 2026
ASSA berencana menambah kegiatan usaha yang akan dijalankan langsung oleh Perseroan. Penambahan ini terkait pengembangan dan komersialisasi solusi TMS untuk mendukung digitalisasi operasional transportasi dan logistik.
Rencana kegiatan usaha baru ASSA mencakup empat klasifikasi usaha. Kegiatan tersebut terdiri dari KBLI 62190 tentang Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya YTDL, KBLI 58290 tentang Penerbitan Perangkat Lunak (Software) Lainnya, KBLI 62204 tentang Aktivitas Konsultasi dan Perancangan Internet of Things atau IoT, serta KBLI 61105 tentang Aktivitas Jasa Sistem Komunikasi Data.
TMS ASSA dirancang untuk membantu proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu. Sistem ini mencakup modul Master Data Management, Order Management, Shipment Management, Monitoring, Customer Billing, Freight Settlement, serta Dashboard & Reports.
ASSA juga merencanakan pengembangan modul tambahan seperti Driver Management System, Control Tower, dan Bulk Shipment Planning. Baca juga: ASSA Tambah Bisnis TMS, Siapkan Modal Awal Rp512 Miliar
Perseroan menyampaikan bahwa penambahan kegiatan usaha membutuhkan persetujuan RUPS sesuai ketentuan POJK 17/2020. Setelah memperoleh persetujuan pemegang saham, Perseroan dapat menjalankan kegiatan usaha baru tersebut.
Sumber Informasi: Keterbukaan Informasi PT Adi Sarana Armada Tbk terkait Penambahan Kegiatan Usaha
Dampak bagi Investor
Rencana penambahan usaha ini tidak menimbulkan dilusi secara langsung karena tidak terdapat penerbitan saham baru dalam keterbukaan informasi. Struktur kepemilikan pemegang saham lama tidak berubah akibat rencana kegiatan usaha TMS tersebut.
Dampak utama bagi investor berada pada diversifikasi sumber pendapatan ASSA. Perseroan menilai TMS dapat menjadi core system untuk pengelolaan transportasi internal dan berpotensi dikomersialisasikan kepada pelanggan eksternal lintas sektor.
Studi kelayakan menyatakan rencana penambahan usaha layak berdasarkan aspek pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen, dan keuangan. Namun, sensitivitas menunjukkan bahwa kelayakan dapat tertekan apabila terjadi penurunan pertumbuhan volume pendapatan transaction fee sebesar 10% atau kenaikan biaya server, lisensi software, dan tenaga kerja sebesar 10%.
Baca juga: Strategi Manajemen Risiko Saham untuk Menjaga Keberlangsungan Modal Investasi
Kondisi Keuangan Terkait
KJPP Ruky, Safrudin & Rekan menyusun studi kelayakan bisnis atas rencana penambahan kegiatan usaha ASSA. Studi tersebut menggunakan tanggal batas pisah 31 Desember 2025.
Dari aspek keuangan, rencana bisnis TMS membutuhkan biaya investasi awal sebesar Rp5,12 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja awal, biaya perizinan, server, lisensi software, dan kebutuhan pendukung operasional lainnya.
Hasil studi menunjukkan weighted average cost of capital atau WACC sebesar 10,22%. Rencana usaha menghasilkan net present value atau NPV positif sebesar Rp12,62 miliar, internal rate of return atau IRR sebesar 41,93%, payback period selama 4 tahun 8 bulan, dan profitability index sebesar 3,54 kali.
Penilai independen menyimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha ASSA layak untuk dilaksanakan. Kesimpulan tersebut didasarkan pada analisis pasar, teknis, bisnis, manajemen, keuangan, dan sensitivitas.
FAQ
1. Apa rencana aksi korporasi ASSA pada Juni 2026?
ASSA berencana meminta persetujuan RUPST untuk menambah kegiatan usaha baru di bidang TMS, software, IoT, dan sistem komunikasi data.
2. Berapa modal awal yang disiapkan ASSA untuk bisnis TMS?
ASSA menyiapkan biaya investasi awal sebesar Rp5,12 miliar yang akan didanai dari dana internal Perseroan.
3. Apakah rencana ini menyebabkan dilusi saham ASSA?
Rencana ini tidak menyebabkan dilusi secara langsung karena keterbukaan informasi tidak memuat rencana penerbitan saham baru.
4. Kapan rencana penambahan usaha ASSA akan dimintakan persetujuan?
Rencana penambahan usaha akan dimintakan persetujuan dalam RUPST yang direncanakan pada 17 Juni 2026.
Poin Penting bagi Investor
- ASSA berencana menambah kegiatan usaha berbasis TMS.
- Rencana ini membutuhkan persetujuan pemegang saham dalam RUPST 17 Juni 2026.
- Biaya investasi awal diperkirakan sebesar Rp5,12 miliar.
- Pendanaan berasal dari dana internal Perseroan.
- Studi kelayakan menunjukkan NPV positif Rp12,62 miliar dan IRR 41,93%.
- Rencana usaha dinilai layak oleh KJPP Ruky, Safrudin & Rekan.
- Risiko kelayakan muncul jika volume pendapatan turun atau biaya teknologi naik lebih tinggi dari asumsi.
Profil Singkat Perusahaan
PT Adi Sarana Armada Tbk adalah perusahaan terbuka yang bergerak di bidang jasa penyewaan kendaraan, pengelolaan kendaraan, pengiriman barang, transportasi darat, perdagangan mobil bekas, serta aktivitas penunjang transportasi dan logistik. Perseroan berkedudukan di Jakarta Utara dan memiliki kegiatan usaha di berbagai kota di Indonesia.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin