PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) merupakan perusahaan investasi yang bergerak dalam pengelolaan portofolio saham di berbagai sektor. Pada laporan keuangan Q3 2024, perusahaan mencatatkan total aset sebesar Rp9,94 triliun, meningkat dari Rp8,81 triliun pada akhir 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan dalam investasi saham, terutama di PT Merdeka Battery Materials Tbk MBMA, yang mencakup 46,87% dari total aset dengan nilai Rp4,66 triliun.
Pemegang saham PALM :
1. PT Provident Capital Indonesia: Menguasai 55,81% saham perusahaan, atau sekitar 8,78 miliar saham.
PT Provident Capital Indonesia adalah perusahaan investasi yang memiliki portofolio di berbagai sektor, termasuk telekomunikasi, infrastruktur, teknologi, pertambangan, dan biofuel. Perusahaan ini berfokus pada investasi di Asia Tenggara, dan didirikan pada 24 Maret 2005. Sebagai bagian dari sejarahnya, Provident Capital Indonesia menjadi salah satu pemain utama di Indonesia dengan investasi di perusahaan besar seperti Tower Bersama TBIG dan Merdeka Copper Gold MDKA.
Pendiri Provident Capital, Winato Kartono, memiliki latar belakang yang kuat di bidang investasi dan keuangan, sebelumnya bekerja di Citigroup Indonesia sebagai Kepala Investment Banking sebelum mendirikan Provident Capital.
2. Garibaldi Thohir: Memiliki 15,40% saham, setara dengan 2,42 miliar saham.
Garibaldi Thohir, atau lebih dikenal dengan Boy Thohir, adalah seorang pengusaha terkemuka di Indonesia. Dia dikenal sebagai salah satu pemimpin bisnis dalam sektor pertambangan dan energi. Garibaldi Thohir adalah kakak dari Erick Thohir, Menteri BUMN Indonesia.
Boy Thohir merupakan salah satu pendiri dan pemilik utama Adaro Energy, salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Selain perannya di ADRO, ia juga terlibat dalam berbagai bisnis lain melalui PT Saratoga Investama Sedaya dan Provident Capital Indonesia.
Dari sisi pendidikan, Boy Thohir menyelesaikan pendidikannya di jurusan keuangan di University of Southern California, Amerika Serikat. Keluarganya, terutama Erick Thohir, juga dikenal aktif dalam bisnis dan politik di Indonesia.
Garibaldi Thohir, atau lebih dikenal sebagai Boy Thohir, lahir pada tahun 1965. Ia adalah seorang pengusaha sukses di sektor pertambangan dan energi, yang dikenal luas sebagai Presiden Direktur dan CEO dari PT Adaro Energy Tbk, perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di University of Southern California dengan gelar Bachelor of Business Administration (BBA) pada tahun 1988, ia melanjutkan studinya dan meraih gelar MBA dari Northrop University, California pada tahun 1989.
Karier Boy Thohir di dunia bisnis dimulai dengan akuisisi saham PT Allied Indocoal pada tahun 1992, yang dilakukan dalam kerja sama dengan sebuah perusahaan Australia. Pada tahun 2005, ia membuat langkah besar dengan mengakuisisi PT Adaro Indonesia, yang mengoperasikan salah satu tambang batu bara terbesar di belahan bumi selatan. Pada tahun 2008, ia membawa Adaro Energy ke Bursa Efek Indonesia dalam penawaran umum perdana (IPO) yang mengumpulkan Rp12,2 triliun untuk memperkuat dan menyederhanakan struktur perusahaan menjadi holding dengan berbagai anak perusahaan yang mandiri.
Di samping perannya di Adaro, Boy Thohir juga menjabat sebagai komisaris di berbagai perusahaan, termasuk PT Indonesia Stock Exchange dan PT Alam Tri Abadi. Ia juga merupakan anggota Dewan Pengawas Yayasan Adaro Bangun Negeri.
Garibaldi Thohir dikenal sebagai salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Indonesia, sering mendapatkan penghargaan seperti Green CEO Award pada 2016 dan Businessman of the Year oleh Forbes Indonesia pada 2011.
3. PT Saratoga Sentra Business: Memegang 8,99% saham, setara dengan 1,42 miliar saham.
PT Saratoga Sentra Business adalah salah satu perusahaan yang memiliki hubungan erat dengan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, sebuah perusahaan investasi yang didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno. Saratoga Sentra Business bergerak di sektor investasi, khususnya dalam pengelolaan portofolio investasi di berbagai sektor, termasuk infrastruktur, sumber daya alam, dan konsumen.
Perusahaan ini berfokus pada pengembangan nilai jangka panjang melalui investasi strategis, baik di perusahaan yang sudah mapan maupun di perusahaan yang sedang berkembang. Saratoga dikenal memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan berbagai bisnis besar di Indonesia melalui investasi langsungnya.
4. Winato Kartono: Memiliki 6,18% saham, atau sekitar 972 juta saham.
Winato Kartono adalah salah satu pendiri dari Provident Capital Partners dan saat ini menjabat sebagai Komisaris di beberapa perusahaan besar seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. Ia memiliki lebih dari 25 tahun pengalaman di bidang investasi dan bisnis. Winato memulai kariernya di Bank Sumitomo Niaga sebelum bergabung dengan Arthur Andersen Indonesia, dan kemudian Citigroup, di mana ia bekerja selama 8 tahun dan akhirnya menjabat sebagai Kepala Divisi Investment Banking di Citigroup Indonesia.
Lahir pada 21 Januari 1971 di Pontianak, Winato Kartono menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada tahun 1992. Setelah berkarier di dunia perbankan dan investasi, ia kemudian mendirikan Provident Capital yang berkembang pesat sebagai salah satu perusahaan investasi terkemuka di Indonesia.
5. Hardi Wijaya Liong: Memiliki 4,64%, setara dengan 729 juta saham.
Hardi Wijaya Liong adalah seorang pengusaha Indonesia yang memiliki peran penting dalam beberapa perusahaan besar. Ia merupakan salah satu pendiri PT Provident Capital Indonesia dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, serta Provident Capital Partners Pte Ltd.
Hardi Wijaya Liong meraih gelar sarjana ekonomi di bidang akuntansi dari Universitas Trisakti, Jakarta, pada tahun 1993. Kariernya dimulai sebagai manajer di Arthur Andersen di Jakarta dari tahun 1993 hingga 1998. Setelah itu, ia bergabung dengan Citigroup Indonesia, di mana ia menjabat sebagai wakil presiden di divisi Investment Banking Indonesia dan direktur PT Citigroup Securities dari tahun 1998 hingga 2004.
Dalam kariernya, Hardi terlibat aktif dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia, terutama melalui perannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Selain itu, ia juga memiliki peran penting di berbagai perusahaan lain, termasuk sebagai Komisaris PT Provident Agro Tbk dan PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM).
Hardi dikenal karena visinya dalam mengembangkan bisnis infrastruktur telekomunikasi dan energi, serta investasi di berbagai sektor strategis lainnya di Indonesia.
6. Tri Boewono: Memegang 0,42% atau 66 juta saham.
Tri Boewono adalah Chief Executive Officer (CEO) dari PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) sejak tahun 2007. Sebelumnya, ia pernah memegang beberapa posisi penting seperti Presiden Direktur di PT Merdeka Copper Gold Tbk, dan berkarier sebagai Kepala Departemen Anggaran dan Akuntansi di PT Astra International Tbk. Ia juga pernah bekerja sebagai auditor di Arthur Andersen & Co. Indonesia. Tri Boewono meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada tahun 1993. Ia memiliki pengalaman luas di berbagai sektor seperti perkebunan, infrastruktur, dan investasi.
7. Masyarakat (di bawah 5%): Menguasai 8,56% saham, atau sekitar 1,34 miliar saham.
Bisa lihat ada kesamaan di antara mereka? Winato Kartono, Hardi Wijaya Liong, dan Tri Boewono memiliki kesamaan dalam pendidikan dan perjalanan karier mereka yang dimulai di Universitas Trisakti. Winato Kartono lulus pada tahun 1992, sedangkan Hardi Wijaya Liong dan Tri Boewono menyelesaikan pendidikan di tahun 1993, semuanya dengan gelar sarjana ekonomi di bidang akuntansi. Pendidikan mereka di Trisakti memberikan dasar yang kuat bagi mereka untuk memasuki dunia bisnis dan keuangan. Setelah lulus, mereka bertiga mengawali karier sebagai auditor di Arthur Andersen pada periode 1993 hingga 1998. Pengalaman di Arthur Andersen membekali mereka dengan pemahaman yang mendalam tentang akuntansi dan keuangan perusahaan.
Setelah Arthur Andersen, Winato dan Hardi melanjutkan karier mereka di Citigroup Indonesia dari 1998 hingga 2004, di mana mereka memegang peran penting dalam divisi Investment Banking. Winato menjadi Kepala Investment Banking, sementara Hardi menjabat sebagai Vice President dan Direktur PT Citigroup Securities. Karier di Citigroup memberikan mereka eksposur yang luas terhadap dunia investasi internasional, yang kelak berperan penting dalam kesuksesan mereka mendirikan dan memimpin Provident Capital Indonesia. Keterkaitan karier dan pengalaman ini menunjukkan bagaimana mereka memanfaatkan pendidikan dan pengalaman awal mereka untuk membangun jaringan bisnis yang kuat di Indonesia.
Di sisi liabilitas, PALM berhasil menurunkan total liabilitas dari Rp6,35 triliun di akhir 2023 menjadi Rp3,40 triliun pada September 2024. Penurunan terbesar berasal dari utang berbunga, di mana pinjaman bank berkurang menjadi Rp552,83 miliar. Namun, utang obligasi perusahaan meningkat menjadi Rp2,83 triliun, menandakan adanya beban tambahan yang harus dikelola.
Dari segi laba, perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp464,83 miliar, berbalik dari kerugian Rp1,95 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Keuntungan terbesar berasal dari investasi saham dan efek ekuitas lainnya, yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp655,11 miliar. Namun, beban keuangan meningkat tajam dari Rp65,54 miliar pada tahun 2023 menjadi Rp208,18 miliar pada 2024, menunjukkan adanya kewajiban bunga yang lebih besar.
Arus kas operasional perusahaan tercatat negatif sebesar Rp4,31 triliun, lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya yang negatif Rp2,59 triliun. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan investasi perusahaan dalam portofolio saham. Meskipun demikian, PALM berhasil mengumpulkan arus kas positif dari aktivitas pendanaan sebesar Rp4,31 triliun, terutama dari penerbitan saham dan obligasi.
Total aset perusahaan meningkat dari Rp8,81 triliun di akhir tahun 2023 menjadi Rp9,94 triliun pada September 2024, yang mencerminkan pertumbuhan yang kuat dalam investasi perusahaan. Kenaikan terbesar tercatat pada pos investasi, yang bertambah dari Rp8,71 triliun menjadi Rp9,86 triliun, sementara kas dan setara kas turun dari Rp75,15 miliar menjadi Rp66,87 miliar. Penurunan kas ini perlu diperhatikan, terutama terkait dengan likuiditas perusahaan ke depan.
Dari sisi liabilitas, perusahaan berhasil menurunkan total liabilitas secara signifikan dari Rp6,35 triliun di akhir 2023 menjadi Rp3,40 triliun pada September 2024. Penurunan ini disebabkan oleh pengurangan utang usaha kepada pihak berelasi yang turun menjadi nol, dari sebelumnya Rp3,61 triliun. Namun, terdapat kenaikan pada utang obligasi, yang meningkat dari Rp1,65 triliun menjadi Rp2,83 triliun, meski pinjaman bank turun dari Rp1,07 triliun menjadi Rp552,83 miliar. Penurunan utang berbunga ini merupakan langkah positif untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan.
Ekuitas perusahaan menunjukkan peningkatan drastis, dari Rp2,46 triliun di akhir 2023 menjadi Rp6,54 triliun pada September 2024. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penerbitan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), yang menghasilkan dana sebesar Rp3,61 triliun. Selain itu, saldo laba belum dicadangkan juga meningkat dari Rp1,83 triliun menjadi Rp2,29 triliun, yang menunjukkan perolehan laba yang kuat sepanjang periode ini.
Pada laporan laba rugi, laba bersih periode berjalan tercatat sebesar Rp464,83 miliar, berbalik dari kerugian sebesar Rp1,95 triliun pada periode yang sama tahun 2023. Perubahan ini terutama dipicu oleh keuntungan bersih dari investasi saham dan efek ekuitas lainnya sebesar Rp655,11 miliar, yang sebelumnya mencatat kerugian besar di tahun lalu. Di sisi lain, biaya operasi masih relatif stabil di angka Rp33 miliar, sementara beban keuangan meningkat signifikan dari Rp65,54 miliar menjadi Rp208,18 miliar. Kenaikan beban keuangan ini menunjukkan adanya tambahan kewajiban bunga akibat peningkatan utang obligasi.
Dari sisi arus kas, perusahaan mencatat arus kas operasi negatif sebesar Rp4,31 triliun, lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya yang negatif Rp2,59 triliun. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan investasi yang signifikan pada portofolio perusahaan. Namun, dari aktivitas pendanaan, perusahaan berhasil mengumpulkan arus kas positif sebesar Rp4,31 triliun, terutama dari penerbitan saham dan obligasi. Arus kas dari penerbitan saham baru memberikan dukungan yang kuat terhadap pendanaan perusahaan.
Total beban gaji dan kesejahteraan karyawan tercatat sebesar Rp16,85 miliar. Dari jumlah ini, sekitar Rp9,09 miliar diberikan sebagai remunerasi kepada Direksi dan Komisaris. Jumlah tersebut dibagi di antara 6 orang (3 Direktur dan 3 Komisaris), yang menghasilkan rata-rata gaji sekitar Rp168,33 juta per bulan per orang untuk periode sembilan bulan.
Setelah memperhitungkan kompensasi Direksi dan Komisaris, sisa beban gaji untuk karyawan lainnya adalah Rp7,76 miliar. Jumlah ini dibagi di antara 9 karyawan yang termasuk Direksi, Komisaris, dan staf lainnya, sehingga menghasilkan rata-rata gaji per karyawan sebesar Rp95,80 juta per bulan. Menjadi karyawan PALM bisa jadi pilihan karir yang menarik.