Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightMSTI Naik Daun, Tapi Uangnya Kemana?

MSTI Naik Daun, Tapi Uangnya Kemana?

PT Mitra Strategi Teknologi Indonesia Tbk (MSTI) mencetak kinerja yang sekilas tampak manis di kuartal terbaru. Laba bersih tumbuh 9,6% menjadi Rp115,3 miliar, didukung pertumbuhan pendapatan sebesar 6,5% menjadi Rp1,19 triliun. Tapi seperti kata pepatah, angka bisa menipu. Jika kita bedah lebih dalam laporan arus kasnya, tersirat sinyal bahwa perusahaan ini sedang memasuki fase uji nyali likuiditas.

MSTI secara perlahan menggeser model bisnisnya dari penjualan perangkat keras menuju solusi berkelanjutan. Hal ini terlihat dari:

  • Pendapatan segmen software melonjak 78%
  • Pendapatan maintenance naik 54%
  • Penjualan hardware justru turun drastis dari Rp747 miliar menjadi Rp590 miliar

Kabar baiknya, software dan maintenance adalah sumber pendapatan berulang (recurring income) yang umumnya lebih stabil dan profitable. Meski penjualan hardware turun, total revenue tetap naik, berkat diversifikasi produk dan pergeseran fokus ke layanan bernilai tambah.

  • Margin kotor stabil di level 19%
  • Beban operasional hanya naik 5,7%
  • Pendapatan bunga deposito tumbuh signifikan jadi Rp10,5 miliar (kas perusahaan hampir Rp1,4 triliun)

Dari sisi laba rugi, MSTI menunjukkan efisiensi yang terjaga dan kenaikan pendapatan yang sehat.

Meski laba bersih Rp115,3 miliar, cashflow operasional hanya Rp63,6 miliar. Artinya, hanya 55% laba yang benar-benar masuk kas. Sisanya mengendap di piutang usaha, yang membengkak 31% dari Rp574 miliar ke Rp752 miliar.

Penurunan persediaan dari Rp616 miliar ke Rp529 miliar—terutama karena proyek dalam penyelesaian menurun tajam dari Rp208 miliar ke Rp56 miliar—mengindikasikan bahwa proyek yang sebelumnya tertahan kini mulai dikirim dan diakui sebagai pendapatan.

Jika di tahun lalu pendapatan sangat bergantung pada Telkom, Bank UOB, dan BRIS, kini komposisi pendapatan lebih merata. Misalnya:

  • Telkomsel kini menyumbang 11,6% dari total pendapatan
  • Ketergantungan terhadap satu klien besar berkurang

Langkah ini memperkuat ketahanan bisnis dan mengurangi risiko konsentrasi pendapatan.

  • Total aset tumbuh 4,8% menjadi Rp3,26 triliun
  • Capex sebesar Rp54,6 miliar menunjukkan komitmen untuk mengembangkan layanan dan infrastruktur
  • Aset tetap naik 22% menjadi Rp239 miliar
  • Utang bank jangka pendek sebesar Rp39,6 miliar telah lunas
  • Utang usaha naik wajar dari Rp519 miliar ke Rp568 miliar

Sementara itu, ekuitas meningkat menjadi Rp2,28 triliun, murni dari akumulasi laba, tanpa aksi korporasi seperti right issue.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here