ULTJ memang masih mencetak laba bersih 610 Miliar dengan margin bersih 15,00%, margin operasi 18,30%, dan margin kotor 33,60%. Neracanya pun terlihat sangat sehat, kas akhir sebesar 2,09 Triliun dengan utang berbunga yang nyaris nol, rasio kas terhadap utang berbunga tembus 64,15 kali. Tapi begitu kita gali lebih dalam, mulai dari arus kas, rotasi persediaan, hingga hubungan dengan vendor dan channel distribusi, ada tanda-tanda gesekan yang bikin performa operasionalnya mulai pincang dan kalah saing. Laba CMRY Q2 2025 naik. Jadi jelas kenapa laba ULTJ anjlok.
ULTJ bekerja sama dengan vendor utama untuk pasokan susu segar, gula, kemasan aseptik, serta kebutuhan energi dan logistik. Dalam laporan keuangan, beban pokok penjualan mencakup semua ini, dan tercatat sebesar 2,71 Triliun. Masalahnya, saat penjualan turun dari 4,44 Triliun ke 4,08 Triliun, persediaan malah naik dan DIO tembus 96,70 hari. Artinya, produksi dan pembelian bahan baku tidak cukup diturunkan sesuai permintaan. Stok menumpuk, kas terikat, dan margin kas ikut menyusut. Strategi produksi seolah tetap berpijak pada proyeksi optimistis padahal pasar sudah mulai melemah.
Di lini produksi, mesin aseptik dan fasilitas UHT masih bekerja keras. Tapi persoalannya, skala produksi tidak segera disesuaikan dengan penurunan permintaan. Ini bisa dilihat dari penurunan gross profit dan inventory yang meningkat. Akibatnya, meski laba masih tercetak tebal, kas dari operasional atau CFO malah turun drastis jadi hanya 0,38 Triliun dari sebelumnya 1,03 Triliun. Ini bukan penurunan kecil, tapi setara 62,80%. Sepertinya perusahaan belum cukup lincah dalam modulasi batch produksi, pengaturan yield, dan penyesuaian takt time ketika pola permintaan berubah.
Di bagian hilir, channel distribusi yang jadi tulang punggung revenue justru paling kena hantam. Channel indirect menyumbang 45,20% dari penjualan, disusul modern trade 37,20%, dan direct hanya 16,50%. Tapi justru indirect dan modern trade yang penurunannya paling dalam, masing-masing -11,20% dan -7,20%. ULTJ kemungkinan merespons dengan meningkatkan promosi untuk mempertahankan volume, tapi biaya promosinya dibayar pakai kas, bukan akrual seperti biasa.
Beban operasional kas tercatat 0,88 Triliun, sementara akrual promosi turun drastis dari 280 Milyar Triliun jadi hanya 68 Miliar . Ini artinya pembayaran promosi yang sebelumnya ditunda, sekarang dilakukan kontan. Dampaknya jelas ke margin operasi yang turun dari 21,00% ke 18,30%, dan tentu saja CFO yang makin tipis.f
Sementara itu, hubungan dengan pemasok juga agak pincang. Biasanya saat penjualan turun, perusahaan akan berusaha memperpanjang tempo pembayaran agar bisa tahan kas lebih lama. Tapi kali ini utang usaha justru turun dari 0,56 Triliun ke 0,31 Triliun, mayoritas posisinya current. DPO pun menyusut jadi sekitar 29,20 hari.
Artinya, kas keluar ke pemasok malah dipercepat justru ketika revenue sedang turun. Kombinasi antara stok yang numpuk, pemasok dibayar cepat, dan promosi dibayar kontan jelas bikin tekanan di kas makin berat. Bahkan meski ada penurunan piutang dari 0,82 Triliun ke 0,63 Triliun yang seharusnya membantu arus kas, tetap tidak cukup untuk menahan turunnya CFO.
Untungnya, ada beberapa hal yang justru jadi penyelamat sementara. Penerimaan kas dari pelanggan di Semester I 2025 mencapai 4,67 Triliun, lebih besar dari revenue. Ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil menagih piutang dari tahun lalu secara efisien. Aging piutang juga membaik, sekitar 92,00% dari piutang bruto masih current, dan yang lewat 90 hari hanya 2,24 Miliar.
Di sisi neraca, kas yang masih tebal jadi bantalan yang cukup nyaman, walaupun kas akhir menurun dari 2,43 Triliun ke 2,09 Triliun karena dividen kas yang dibayar mencapai 0,47 Triliun, lebih besar dari FCF semester ini yang hanya sekitar 0,25 Triliun. Rasio kas terhadap CFO mencapai 5,44 kali, dan kas terhadap FCF bahkan 8,24 kali. Ini artinya kalau tekanan ini berlanjut, cadangan kas bisa terkikis cukup cepat.
Dari semua hubungan antar akun, jelas terlihat bahwa tekanan utama datang dari siklus modal kerja. Piutang memang membaik dan memberikan ruang napas, tapi inventory naik dan DPO turun, dua faktor ini justru menyedot kas lebih besar. Akumulasi beban operasional berbasis kas dan pembayaran promosi juga memperparah situasi. Jadi meskipun P&L masih terlihat sehat, cashflow yang merupakan cermin realitas operasional justru melemah. CFO hanya 9,40% dari revenue, bahkan lebih rendah dari NPM 15,00%.
Untuk keluar dari tekanan ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, persediaan perlu ditekan lewat pengendalian SKU dan perbaikan forecast. Target penurunan DIO minimal 10 hari bisa dijadikan milestone awal. Strategi SIOP yang disiplin, kombinasi rolling forecast 13 minggu, dan freeze window 4 minggu bisa membantu menjaga keseimbangan supply dan demand.
Kedua, perbaiki DPO dengan renegosiasi kontrak utama agar kembali ke tenor historis. Kalau vendor besar bisa diyakinkan dengan kejelasan volume dan komitmen jangka panjang, mereka pasti mau kasih tempo tambahan. Ketiga, ubah strategi promosi dari yang berbasis volume massal ke yang berbasis sell-out dan loyalitas pelanggan langsung. Pasang KPI ROI promosi per channel, dan bayar promosi hanya jika target sell-out tercapai. Ini akan membantu jaga net revenue supaya tidak habis oleh diskon tidak terukur.
Di sisi harga dan portofolio produk, perlu ada revisi arsitektur harga berdasarkan varian margin tinggi di modern trade dan varian value di channel indirect. Kombinasi ini bisa menjaga elastisitas permintaan sambil tetap mempertahankan margin. Untuk kas, payout dividen sebaiknya diselaraskan dengan proyeksi FCF 12 bulan ke depan, sampai CFO bisa kembali normal. Capex tetap disiplin dan jangan terlalu agresif sampai CCC bisa turun di bawah 80 hari.
ULTJ saat ini masih memiliki fondasi neraca yang kuat dengan kas tebal dan utang nyaris nol. Tapi tekanan di sisi kas dari stok yang lambat mutar, pembayaran vendor yang dipercepat, dan promosi berbasis kas yang besar saat pasar sedang lesu membuat performa operasional terasa berat. Perusahaan perlu kembali fokus pada efisiensi siklus kas, selektif dalam promosi, dan realistis dalam payout agar bisa kembali selaras antara laba dan arus kas. Kalau dibutuhkan, saya bisa bantu turunkan simulasi dampak perbaikan DIO dan DPO terhadap CFO di semester berikutnya dalam bentuk tabel agar bisa digunakan untuk keputusan manajemen yang lebih taktis.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.
PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!