Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenLK Q2 2024: MLIA Laba Nyungsep Berat Lebih Dari 30%

LK Q2 2024: MLIA Laba Nyungsep Berat Lebih Dari 30%

PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) mencatatkan total aset sebesar Rp6,84 triliun pada 30 Juni 2024, turun dari Rp7,02 triliun di akhir tahun 2023, menandakan penurunan sekitar 2,5%.  Aset lancar mengalami penurunan signifikan, dengan kas dan setara kas turun dari Rp700 miliar menjadi Rp561 miliar. Piutang usaha pihak ketiga juga turun dari Rp723 miliar menjadi Rp623 miliar. Penurunan ini menunjukkan tantangan likuiditas dan penurunan efisiensi dalam penagihan piutang. Di sisi lain, persediaan justru meningkat dari Rp950 miliar menjadi Rp1,06 triliun, naik sekitar 12%, yang menimbulkan kekhawatiran terkait manajemen persediaan yang berpotensi mengalami overstocking.

Dalam hal liabilitas, total liabilitas perusahaan menurun dari Rp2,06 triliun menjadi Rp1,81 triliun pada pertengahan 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun, dari Rp299 miliar menjadi Rp230 miliar. Utang pajak juga turun dari Rp37,5 miliar menjadi Rp25,3 miliar, yang mungkin disebabkan oleh laba kena pajak yang lebih rendah. Penurunan liabilitas ini bisa dilihat sebagai langkah positif dalam mengurangi beban utang perusahaan.

Pendapatan perusahaan mengalami penurunan dari Rp2,31 triliun pada Juni 2023 menjadi Rp2,08 triliun pada Juni 2024, mencerminkan penurunan sekitar 10%. Laba kotor juga turun signifikan, dari Rp661 miliar di 2023 menjadi Rp482 miliar di 2024, atau sekitar 27%. Penurunan ini mengindikasikan adanya kesulitan perusahaan dalam menjaga harga jual atau menghadapi kenaikan biaya produksi yang tidak dapat diimbangi. Beban penjualan dan beban umum-administrasi tetap stabil, yang menunjukkan tidak ada pengurangan biaya yang signifikan meski terjadi penurunan pendapatan.

Biaya keuangan turun dari Rp49 miliar di 2023 menjadi Rp38,5 miliar di 2024, yang menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mengurangi beban utang atau mendapatkan syarat pembiayaan yang lebih baik. Perusahaan juga mencatat keuntungan kurs sebesar Rp31,3 miliar pada 2024, dibandingkan dengan kerugian kurs Rp11,1 miliar di 2023, yang memberikan dampak positif terhadap laba. Keuntungan kurs ini membantu menutupi sebagian besar tekanan yang ditimbulkan oleh penurunan penjualan.

Laba bersih perusahaan turun dari Rp256 miliar di 2023 menjadi Rp174 miliar pada 2024, atau penurunan sebesar 32%. Penurunan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada pengurangan biaya keuangan dan keuntungan kurs, hal tersebut tidak cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan dan laba kotor. Dividen tunai yang dibayarkan perusahaan juga berdampak pada penurunan laba ditahan dari Rp693 miliar di akhir 2023 menjadi Rp767 miliar pada pertengahan 2024. Indikator low moat.

Dari segi arus kas, arus kas operasional meningkat dari Rp162 miliar di 2023 menjadi Rp199 miliar di 2024. Namun, arus kas dari aktivitas investasi tetap negatif, dengan perusahaan mengeluarkan Rp56,5 miliar untuk perolehan aset tetap pada 2024. Arus kas dari aktivitas pendanaan juga negatif, terutama disebabkan oleh pembayaran utang bank dan dividen tunai, yang menyebabkan penurunan kas secara keseluruhan sebesar Rp154 miliar. Hal ini menunjukkan tekanan likuiditas yang masih cukup besar pada perusahaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here